“Prestasi manusia tercipta karena keinginan untuk dipuji oleh lawan jenisnya”
Kurang lebih seperti itulah bunyi perkataan Sigmund Freud yang dikutip pada sebuah buku berjudul ‘Ipung’ karya Prie GS. Saya tidak pada kapasitasnya untuk menerima atau menolak pernyataan tersebut. Tapi kalau dirasa-rasa mungkin ada benarnya juga. Shah Jehan membangun Taj Mahal demi istrinya Mumtaz Mahal; Nebukadnezar II menciptakan taman gantung Babylonia yang terkenal itu demi membahagiakan sang permaisuri Amytiz; Dan yang paling kita dekat dengan kita, Bandung Bondowoso yang membangun 1000 candi dalam semalam demi merebut hati sang belahan jiwa Roro Jonggrang (terlepas ini legenda atau bukan).
Pada buku lain yang saya baca, ‘Nikah Emang gue Pikirin!!?’ karya Shofwan Al-Banna, dipaparkan disana urgensi tentang menikah keuntungan, mitos yang salah mengenai menikah, dll tentang menikah. Pada akhirnya paparan tersebut membawa kepada sebuah kesimpulan bagi para pembaca agar jangan menunda menikah bagi yang sudah siap, sementara bagi yang belum siap menjadi termotivasi untuk siap. Pada bab-bab awal penulis buku ini sangat menegaskan agar motivasi untuk menikah bukan sekedar untuk menikah tetapi lebih dari itu. Shofwan mengungkapkan kepada pembaca dengan ‘Nikah: Cara asyik mengubah dunia!’. Lho kok sampai merubah dunia? Yap, Betul, pendapat saya pribadi mengatakan, ada hubungan erat dengan pernyataan Sigmund Freud di atas, yaitu, dengan menikah maka akan ada bahan bakar tambahan bagi suami/istri untuk membangkitkan gairah hidup agar tercipta prestasi-prestasi, sehingga tidak mustahil untuk dapat merubah dunia.
Kemudian pertanyaan yang kembali muncul di benak saya adalah bagaimana dengan orang yang termasuk golongan belum siap untuk menikah? Siapa yang akan dijadikan bahan bakar untuk menggapai prestasi dan kesiapan untuk menikah? Pacar? Bagi yang menganut pacaran itu boleh, silakan saja. Tapi buat saya nggak bisa begitu.
Karena saya termasuk golongan yang belum siap terkadang memang sulit jika sedang masuk dalam fase unmotivated state, rasanya nggak mood untuk mengerjakan apapun. Dan sekali lagi saya mendapati fakta tentang pernyataan Sigumund Freud mungkin ada benarnya. Saya pribadi berpendapat orang yang memutuskan untuk berusaha siap untuk menikah sejujurnya pasti sudah ada wish atau harapan bagaimana atau siapa pasangannya nanti. Nah, harapan itulah yang menurut pendapat saya dapat menjadi bahan bakar melejitkan gairah. Terlepas harapan itu nantinya terealisasi atau tidak, berharap tentu boleh-boleh saja, dan tiada yang melarang. Selama dapat memotivasi kenapa tidak, dan toh orang yang diharap-harapkan juga tidak tahu dan tidak rugi dengan adanya harapan tersebut.













March 16, 2009 at 4:04 pm |
Kkk…
Berharap..
Tidak ingin diharapkan..
Gak tau bro… bingung ane ama wanita.. tapi kalo nt mengharapkan dan dia ok2 aja siy ya gpp..
Tapi kalo dia-nya jadi antipati.. itu bisa jadi masalah baru.. hehe..
Peace lah untuk semua..
March 16, 2009 at 5:37 pm |
maksudnya jadi rahasia pribadi aja bro…
sedemikian sehingga siapapun nggak ada yang tau…
peace juga lah…