Membahas transportasi umum di negeri ini rasanya sudah seperti berbicara tentang film horor saja. Pesawat jatuh, kapal tenggelam, kereta api tabrakan, busway terbakar satu per satu silih berganti mewarnai headline di surat-surat kabar. Seolah-olah bencana itu satu sama lain sudah terkoordinasi rapi mengikuti alur sebuah skenario, entah siapa sutradara tega di balik ini semua.
Di tengah rasa cemas, was-was atas tidak reliable-nya transportasi yang kunjung menghantui para pengguna transportasi umum, sebagian kalangan, termasuk diri saya mulai melirik transportasi pribadi sebagai solusi alternatif. “Daripada menggunakan transportasi umum yang sering telat, sering kecelakaan mendingan pakai transportasi pribadi, cepet dan biaya yang dikeluarkan nggak beda2 jauh”, pikir saya saat memutuskan mulai menggunakan motor sebagai kendaraan pribadi saya.
Setelah kurang lebih dalam kurun waktu satu tahun menggunakan motor baru saya sadari satu hal yang dimiliki transportasi umum dan tidak dimiliki transportasi pribadi. Walaupun transportasi umum dengan segala kekurangannya sering kali membuat jengkel, sakit hati, dan nyaris bunuh diri, perjalanan dengan transportasi umum akan membuat kita lebih merasa sebagai manusia. Hal ini disebabkan karena selama perjalanan dengan transportasi umum tidak sekedar perjalanannya saja yang ditunaikan tetapi komunikasi, interaksi atau bahkan diskusi–yang merupakan kebutuhan kodrati kita sebagai makhluk sosial–juga kerap dilakukan antar penumpang. Itu yang membuat transportasi umum lebih terasa nikmatnya. Sangat berbeda saat mengendarai transportasi pribadi dalam kasus saya tadi adalah motor. Jangan berharap berkendara motor bisa haha hihi, canda tawa, apalagi diskusi. Untuk meletakkan pantat sendiri saja terkadang sudah membuat motor penuh sesak, belum lagi kalau kepala dan muka sudah dibalut dengan helm, rasanya seperti sendirian saja di dunia ini, semua yang diucapkan, hanya diri sendiri sajalah yang dapat mendengarkan.














April 3, 2009 at 7:58 pm |
Hehe.. makanya bikin walky talky yg dipasang di helm bro.. jadi bisa ngobrol ama si yayang nyang di bonceng..
Or.. biasanya siy ane senandung gembira.. naek motor itu moment penting jg tuk bisa sendiri.. menghayati diri dan evaluasi..
Momen yg benar2 sendiri buat kita.
April 3, 2009 at 8:02 pm |
walah… cepet amat feb… dah dikomen aja…
tapi kalo keseringan sendirian dan merenung bosen juga…
April 3, 2009 at 8:15 pm |
iya dunk.. aku kan perhatian..
hehe.. makanya.. pasang handphone or walkie talkie terus bawa boncengan..
seru pasti.. dijamin.. *lebay*
April 3, 2009 at 8:26 pm |
ide bagus feb… membantu kalo yang dibonceng mendadak ingin pipis…
“Yayang… aku mau pipis nih… ganti”