Memandang awan
Dulu, sewaktu kecil aku punya kebiasaan yang unik di kala senggang. Unik, bahkan sangat unik sehingga mungkin anak-anak zaman sekarang nggak ada yang punya kebiasaan seperti ini. Kebiasaan itu adalah memandangi awan di langit yang bergerak dihembus angin.
Buat Jono kecil awan itu indah sekali. Putih, bersih, bergumpal, seperti gulali warna putih dengan beraneka bentuk dan rupa. Angan-angan tentang rasanya yang manis membuatku ingin menggapai meraih dan menjilatnya. Sampai-sampai waktu itu aku berangan-angan agar bisa tumbuh tinggi sekali agar mampu meraihnya. Tapi apalah daya, hal itu adalah mustahil belaka.
Maka yang dapat aku lakukan adalah hanya berpura pura meraihnya, memandangi keindahannya dari jauh dan berangan-angan awan itu ada di genggaman. Dengan begitu sudah cukup puas dan senanglah hatiku. Jadi tak perlulah meraih dan menggapainya walaupun hasrat untuk sekedar menyentuhnya tetaplah ada di dada.
Seiring berjalannya waktu, dan semakin bertambah usiaku, aku semakin menyadari bahwa tak perlulah berusaha meraih awan, karena awan itu suatu saat pasti yang akan menghampiri dalam bentuk hujan ataupun salju apabila di negara-negara dengan empat musim. Maka bersabarlah.




















