Perjalanan ke Bukittinggi (3)

December 16, 2008

(previously on “Perjalanan ke Bukittinggi”)

Jalan Pemuda

Sekarang aku berdiri di ujung jalan. Terpampang di depan wajahku plang bertuliskan “Jl. Pemuda”.

Kulihat catatan kecil yang aku buat saat menelepon Mai. “Ya, betul tidak mungkin salah lagi, sama persis, Jl. Pemuda. Mungkin di ujung jalan sana ada Jl. Pemudi”, pikirku sambil menunjuk-nunjuk catatan di tangan kiriku.

Kuteruskan saja langkahku, sesekali semilir angin menyapu-nyapu rambutku. Puas rasanya kalau bisa menemukan alamatmu Mai, karena salah satu kelemahanku adalah menemukan alamat. Jangankan menemukan alamat, menemukan toilet waktu OSPEK kuliah saja tersasar. Malu rasanya kalau mengingat-ingat saat-saat itu.

Tak terasa sambil menelusuri jalan, aku senyum-senyum sendiri. Rupanya ada seorang ibu bersama anak perempuannya dari arah yang berlawanan memperhatikanku dari tadi. Aduh malunya.

Kebiasaanku dari dulu kalau malu, aku berusaha menutupinya dengan menggaruk-garuk kepalaku. Saat berpapasan tampak ibu itu tersenyum mencurigakan. Mudah-mudahan tidak dia tidak berpikir yang tidak-tidak tentang diriku. Huuuh.

Dari seberang jalan, tiba-tiba seorang ibu di pekarangan rumahnya memanggil-manggil namaku. “Rahman… Rahman..”, teriaknya sambil melambai-lambaikan tangan ke arahku.

Kaget bercampur bingung menyerangku, dari mana ibu itu tahu namaku. Sambil kutatap wajah ibu itu sambil kucoba ingat-ingat apakah pernah aku berjumpa dengan ibu itu sebelumnya, tapi tetap saja, wajah ibu itu tetap asing di mataku.

Kuhampiri ibu itu perlahan-lahan, ternyata mata ibu itu tidak tertuju kepadaku, aneh sekali.

“Rahman sayang sini dong”, panggil ibu itu, sekarang giliran bingung dan takut yang menyerangku.

“Waduh, kapan ibu ini kenal gue ya”, pikirku dalam hati.

Tiba-tiba dari sisi belakang pepohonan yang tak terlihat olehku–tempat sejak tadi ibu itu mengarahkan pandangan–seorang anak kecil berusia 3-4 tahun berlari menghampiri ibu itu. Lantas ibu itu langsung menyambut dan menggendong anak itu. Kemudian ibu itu berkata-kata kepada anak itu dengan bahasa Minang yang tak kumengerti sambil mencium-cium pipi anaknya itu dengan penuh kasih sayang.

Aku terdiam sejenak, menghela nafas, aku paham, nama anak itu sama dengan namaku, Rahman.

Kembali terpikir tujuan utamaku, yaitu mencari rumah Mai di sepanjang jalan ini. Kupalingkan badanku hendak melangkah lagi melanjutkan perjalanan meninggalkan pekarangan rumah itu.

Beberapa langkah aku melanjutkan perjalananku, ibu itu memanggil-manggil sebuah nama.

Nama yang sangat familiar terdengar di telingaku.

Nama yang tak bisa terlepas dari kepalaku.

Nama yang akan mengakhiri perjalanan panjangku.

Ya, nama itu adalah Mai.

Saat kupalingkan kembali badanku kulihat dari kejauhan sosok yang sungguh tak asing keluar dari balik pintu rumah bercat hijau muda. “Mai”, kusebut namanya dalam hati. Wajahnya tidak berubah, tetap cantik…, hanya wajahnya saja agak pucat dan badannya agak kurus.

Rupanya dia juga melihatku, mata kita saling bertemu, kulihat dia tersenyum. Kami pun saling berusaha saling menghampiri. Mai berlari-lari kecil menuju pagar rumahnya dan aku pun kembali menghampiri rumah itu.

“Akhirnya sampai juga Man, Masuk yuk”, Mai mempersilakan aku masuk sambil membukakan pintu pagar.

“Pake nyasar dulu nggak tadi Man?”, Mai berusaha membuka percakapan.

“Wah nggak dong Mai”, jawabku dengan bangga.

“Trus, kenapa tadi pagi kamu telepon aku?”, Tanya Mai yang masih berupaya mencari cara mengolok-olok diriku. Aku hanya diam dan tersenyum tanpa dosa.

Aku pun mengucapkan salam kepada ibunya dan menyapa adiknya Mai yang masih kecil.

“Rahman, udah ma’em siang belum?”, aku mencoba menggoda adiknya Mai, Rahman.

(bersambung)


Ada Anak Bertanya pada Bapaknya (2)

September 5, 2008

cerita sebelumnya

Anak: “Bapak, tadarus apa gunanya?”

Bapak: “Tadarus itu artinya memahami kitab suci kita, yaitu Al Quran. Dengan memahaminya, Insya Allah kita sudah dekat untuk mengamalkannya”

Anak: “Ooo, berarti kita mesti memahami, tidak sekedar membaca. Tapi kan Al Quran kan bahasa Arab, berarti harus baca terjemahannya untuk memahaminya ya, Pak?”

Bapak: “Ya iya lah…. Masa’ Ya iya dong…..”


Ada Anak Bertanya pada Bapaknya

September 5, 2008

Anak: “Pak, untuk apa sih kita berlapar-lapar puasa?”

Bapak: “Lapar itu untuk mengajarkan kita untuk senantiasa rendah hati, Nak”

Anak: “Kenapa bisa begitu, Pak?”

Bapak: “Dengan lapar, kita bisa merasakan apa yang dirasakan pengemis-pengemis, pengamen-pengamen di jalan sana yang mungkin tidak makan selama beberapa hari”

Anak: “Tapi bukankah pengemis-pengemis penghasilannya besar, yang anak-anak kecil saja ada yang berpenghasilan Rp. 100.000 per hari. Malah ada kabar ada pengemis yang dari hasil mengemisnya bisa membeli rumah di kampungnya. Kok bisa lebih hebat dari kita ya pak yang masih ngontrak?”

Bapak: “Iya ya….?”

(terinspirasi dari lirik lagu Bimbo)


Hari Jilbab Internasional

September 4, 2008

Istri: “Eh sekarang tanggal 4 September lho Mas.”

Suami: “Iya say sekarang tanggal 4 September, emang siapa yang ulang tahun kamu ya?”

Istri: “Mas, gimana sih, masa’ ulang tahun istri sendiri lupa” (sambil cemberut tapi berusaha tetap manis)

Suami: “Maafkan aku ya sayang, emang ada apa tanggal 4 September?”

Istri: “Sekarang itu hari jilbab internasional.” (mulai sumringah, tapi masih berusaha menunjukkan wajah cemberut)

Suami: “Oooo, pantesan kamu putih-putih semua say”

Istri: “Iya, jadi sebagai bentuk partisipasi kami para muslimah di seluruh dunia memakai dresscode putih-putih seperti ini, khusus hari ini. Apakah aku jadi lebih cantik, Mas?”

Suami: “Buatku walau bagaimanapun kamu tetep cantik sayang. Tapi kok wajah kamu ikut diputih-putihin kayak kuntilanak gitu say? Atau memang dresscode nya seperti itu ya? serem juga ya…”

Istri: “Oiya, aku lupa lepas maskerku?”

Catatan: Masker adalah perawatan untuk wanita untuk mengangkat kulit2 mati di wajah. Bentuknya seperti cairan lulur. Cara pakainya dioleskan trus ditunggu sampai kering di wajah terus dibersihkan.


Perjalanan Ke Bukittinggi (2)

August 30, 2008

(Previously on “Perjalanan ke Bukittinggi”)

“Assholaatu khairum minan naum…”, kumandang azan dengan suara lirih membangunkan aku dari nyenaknya tidurku. “Sepertinya orang yang mengumandangkan adzan sudah berumur paruh baya”, pikirku dalam hati, “Kemana anak-anak muda yang penuh semangat bergelora yang siap mengubah dunia, apakah masih terlelap tidur?”. Kupandangi cermin di sisi kiri tempat tidurku terlihat sosok pemuda berwajah lusuh, rambut berantakan dan mata yang setengah terbuka. Malu rasanya berpikiran seperti tadi, “Aku kan juga pemuda”. Kutegakkan berdiriku, kurapikan rambutku dan lantas kukucak-kucak mataku agar hilang rasa setengah kantukku.

“Man, kita sholat Shubuh berjamaah di Masjid yuk”, Pak Albert datang membuka pintu dengan pakaian yang rapi, memakai baju koko, kufiah, dan sarung, mungkin beliau juga sudah mandi dan memakai wewangian, tercium aroma bunga kasturi dari tubuhnya.

Aku langsung bergegas berwudhu. Sungguh segar air di sini, dinginnya mungkin lebih dingin dari air di puncak Bogor – tempat yang sering aku kunjungi. Tapi dengan dinginnya itu justru membuat mata menjadi terbuka dan hilang rasa kantukku. Dengan berpakaian seadanya dan sedikit wewangian yang aku punya – Cassablanca – aku berangkat ke masjid bersama Pak Albert.

Bukittinggi memang kota kecil, tidak sebesar Jakarta, Surabaya ataupun Medan – tiga kota terbesar di Indonesia. Tapi di sini udara sejuk. Kalau yang belum terbiasa mandi pagi-pagi di sini, mungkin enggan untuk mandi pagi, karena udara sangat dingin. 909 s.d 941 meter di atas permukaan laut, kira-kira ketinggian kota Bukittinggi.

Setelah sholat Shubuh aku memutuskan untuk tidak langsung mandi pagi ini, mungkin nanti agak siang, biar tidak terlalu dingin. Biarlah, toh udara cukup dingin di sini, jadi tidak terlalu banyak keringat yang keluar.

Sambil duduk-duduk di teras aku ngobrol lagi dengan pak Albert. Ditemani jajanan pasar dan kopi susu panas.

“Pak, Sudah satu malam saya di rumah Bapak, saya tidak melihat istri atau anak Bapak, apakah mereka sedang tidak di rumah?”, pertanyaanku membuka percakapan.

Pak Albert tersenyum. “Iya, anak dan istri Bapak memang sudah tidak di rumah ini lagi”, mata Pak Albert mulai berkaca-kaca. “Pergi dengan meninggalkan kenangan terindah dalam hidup Bapak menuju sisi Allah yang maha kuasa”.

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun”, ucapku spontan mendengar cerita pak Albert, “Mohon maaf Pak, saya mengingatkan Bapak tentang hal ini”

“Tidak apa-apa man, sesekali laki-laki memang harus menangis untuk menunjukkan bahwa dia juga punya perasaan”, pak Albert menjawab dengan logat khas Minangnya, “Justru saya yang harus berterima kasih kepada kamu man, telah mengingatkan kenangan terindah bersama istri dan anakku tercinta”. Pak Albert coba menutupi kesedihannya sambil menghapus air mata yang agak membasahi kelopak matanya. Aku tahu kesedihan itu, kesedihan yang datang saat orang yang kita cintai meninggalkan kita. Kau tak bisa membohongiku Pak, aku juga pernah kehilangan orang-orang yang aku cintai. Tapi memang begitulah terkadang seorang laki-laki, selalu berusaha untuk terlihat tegar, walau bagaimanapun hancur hatinya.

“Kami menikah di Jakarta, dan dipertemukan juga di Jakarta, lucu ya kami sama-sama dari Minang tapi malah bertemu di Jakarta”, cerita Pak Albert sambil tersenyum. “Eh ternyata dia adalah adiknya sahabat Bapak”, Pak Albert melanjutkan cerita, “Bapak juga punya anak seumuran dengan kamu, dan namanya Abdurrahman, mirip dengan nama kamu”.

“Karena tuntutan profesi Bapak dan keluarga selalu pindah-pindah kota”, Pak Albert semakin antusias bercerita tentang kisah hidupnya,

“Kamu pernah pergi ke Medan Man”

“Pernah Pak, dulu saat ada tugas untuk survei dari kantor”

“September 1997, Bapak pindah pekerjaan dari Jakarta ke Medan, Saat hendak menyusul ke Medan tanggal 26 lah, anak dan istri Bapak mengalami kecelakaan pesawat yang menjadi kecelakaan pesawat terbesar di nusantara, tragedi yang biasa dikenang sebagai tragedi Sibolangit karena nama tempat kecelakaan adalah kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang”.

Pak Albert menyeruput kopi susu hangat buatan tangannya sendiri dan menghela nafas panjang. Sejenak kami menikmati hembusan angin pagi yang sejuk menerpa tubuh kami. Subhanallah sejuk sekali.

“Saya boleh pinjam telepon pak, saya ingin menelepon sahabat saya yang tinggal di Bukittinggi”

“Silakan Man, teleponnya ada di ruang tengah, sudah sempat lihat kan?”

“Iya pak”, jawabku sambil beranjak dari tempat dudukku dan menuju ruang tengah.

Kubuka handphoneku dan ku tekan nomor Mai. Kutunggu jawaban dari seberang sana. Handphone Mai belum pakai nada sambung – memang begitulah Mai, agak tidak mengikuti perkembangan terbaru – yang terdengar hanya satu nada yang dibunyikan berulang-ulang.

Sesaat hati ini berdebar menunggu jawaban dari seberang sana.

“Assalamualaikum”, terdengar salam seorang perempuan dengan nada penasaran ingin tahu siapa gerangan yang menelponnya.

“Waalaikum salam warahmatullah. Mai, ini Rahman”, jawaban salamku membuka percakapan.

“Iya, ada apa Pak?”, jawabnya singkat dari seberang sana dengan suara lebih santai. Dan begitulah Mai, semua laki-laki dipanggilnya Bapak.

“Begini, aku tersesat di Bukittinggi Mai, alamatmu hilang saat di pesawat, entah sekarang aku ada dimana, boleh aku minta alamat kamu lagi?”, aku tahu dia pasti di seberang sana tersenyum-senyum mendengar cerita aku yang tersesat di kota kelahirannya, kota yang paling dia hafal setiap sudut jalan yang ada.

“Boleh-boleh”, jawab Mai sambil berusaha menyembunyikan kegeliannya setelah mendengar kabarku tersesat.

Mai menyebutkan alamat rumahnya, sementara aku mencatat ke dalam handphone alamat yang dia sebutkan.

“Hati-hati ya Pak, jangan sampai hilang lagi alamatnya”, pesan Mai kepadaku

“Siap Uni Mai”, balasku sambil tersenyum, “Assalamualaikum”.

“Waalaikumsalam”, salam Mai menutup pembicaraan.

Segera setelah Mai menutup gagang teleponnya aku langsung mandi dan berkemas. Aku pun berpamitan kepada Pak Albert, orang yang memberikan pengalaman dan cerita-cerita berharga buatku.

“Doakan saya selamat sampai tujuan ya Pak”, pintaku

“Insya Allah, sampaikan salam Bapak buat sahabatmu itu ya”, balas pak Albert

“Baik Pak, Insya Allah. Assalamualaikum”, pamitku kepada Pak Albert sambil kujabat erat-erat tangannya. Kutatap lagi wajah Pak Albert dan kucoba simpan baik-baik wajahnya dalam ingatanku. Aku akan merindukanmu Pak Albert, sudah lama aku rindu pada sosok ayah sepertimu.

“Walaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh”, balas Pak Albert sambil tersenyum.

Kuselempangkan tas ransel hijauku ke bahu dan melangkah meninggalkan rumah Pak Albert untuk menyelesaikan sisa perjalanan.

Sepertinya aku harus bersiap-siap untuk menempuh petualangan lagi. Sudah tak sabar aku ingin memulainya. Petualangan di kota seorang sahabat, kota yang melahirkan orang-orang hebat – seperti Mohammad Hatta. Bukittinggi, aku ingin mengenalmu lebih dekat.

(bersambung)


Perjalanan Ke Bukittinggi

August 16, 2008

(cerita ini ditulis berdasarkan informasi perjalanan yang ada di blog ini)

“Akhirnya sampai juga di Bandara Ketaping”, pikirku dalam hati, sudah hampir 2 jam aku duduk manis di dalam pesawat. Buku “Mengapa anak saya suka melawan dan susah diatur”, buku yang merupakan dibuat berdasarkan acara di SMART FM Jakarta 95.9 yang baru aku pinjam dari teman sampai habis aku baca. Setelah membaca aku baru sadar bahwa pola pendidikan yang kita terima sewaktu kecil sedikit banyak ada kekeliruan.

Aku baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Minang ini. Bingung mau kemana. Modal aku hanya sepucuk kertas berisi alamat Mai, seorang sahabat baik yang berasal dari Bukittinggi. Ayahnya memberinya nama Mai karena lahirnya bulan ke lima dalam kalender Masehi, Mei.

“Tapi lho”, kemana kertas alamat aku ya. Aku terus berusaha mengingat-ingat sambil memegangi keningku. Seingatku aku simpan kertas tadi di saku celana sebelah kanan. Spontan aku membongkar tas ranselku yang berwarna hijau, tapi sayangnya setelah semua barang bawaanku ku bongkar, hasilnya nihil.

“Damn..”, ucapku kesal. Astaghfirullah, aku harus sabar semua ini pasti ada rencana Yang Kuasa.

Tiba-tiba ada seseorang memanggilku dari belakang, “Rahman.. sedang apa.” Seorang pria berusia kurang lebih 50 tahun. Aku ingat, dia orang yang tadi duduk di sebelah aku di pesawat tadi. Aku sempat berkenalan tadi dengan beliau. Nama beliau Albert Abdullah. Aku sempat bertanya-tanya dalam hati, namanya lucu gabungan antara nama barat dan Islam.

“Kita sholat dulu aja Man, sudah Shubuh nih”, Ooh, ternyata dia seorang Muslim.

Setelah sholat aku bercerita semuanya kepada Pak Albert. Sempat terpikir untuk menelpon Mai dengan Hpku. Tapi sekali lagi gagal. Handphone CDMA ku sudah tidak berfungsi lagi di sini. “Sial..”, umpatku kesal, namun aku langsung mencoba sabar. Pak Albert menawarkan aku untuk singgah ke rumahnya dulu yang kebetulan di Bukittinggi juga.

“Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak”, ungkapku sambil memegang tangan beliau.

“Dari sini kita naik apa Pak?”

“Naik Bus aja, lumayan pemandangan di perjalanannya lumayan bagus”

Segera kita mencari bus yang bisa kita tumpangi. Aku mencari kursi di sebelah supir agar aku bisa leluasa melihat pemandangan yang ada di sekeliling sepanjang perjalanan. Sambil menunggu bus berjalan aku mengobrol dengan Pak Albert. Ternyata namanya yang unik itu memiliki sejarah. Dahulu dia lahir saat pemberontakan PRRI / Permesta. Waktu itu menurut cerita orang tuanya semua orang yang memiliki nama-nama islami dicurigai sebagai aktivis pemberontakan dan ditangkapi. Jadi banyak bayi-bayi yang lahir di Minang diberi nama barat meskipun seorang muslim karena orang tuanya khawatir. Jadi nama-nama seperti Robert Chaniago atau Bobby Nazief adalah nama-nama yang lazim menjadi nama orang Minang saat itu.

Aku juga cerita mengapa namaku Abdul Rahman. Sebenarnya waktu lahir namaku hanya Rahman. Tetapi setelah diberi nama itu aku sering sakit-sakitan. Akhirnya orang tua aku yang keduanya orang Jawa mengadakan upacara bubur merah putih – walaupun warna buburnya sebenarnya sih coklat putih – untuk menambahkan Abdul di depan nama aku.

Pak Albert berkomentar, “Nama Rahman atau Arrahman dan beberapa nama dari Asmaul Husna itu hanya nama milik Allah, dan tidak boleh ada hambanya yang diberi nama itu. Nah kalau ditambah Abdul di depannya maknanya jadi jauh berbeda, Kalau Rahman tadi artinya Yang maha pengasih maka Abdul Rahman artinya hamba dari Yang maha pengasih. Ya kurang lebih makna nama kita sama, Abdullah dan Abdul Rahman”. Pak Albert tersenyum

“Oooo”, gumamku. Baru tahu aku kalau seperti itu. Mungkin benar begitu ceritanya, namun kedua orang tuaku belum sempat menceritakannya kepadaku, sampai keduanya dipanggil Sang Khaliq. Ah, ternyata mataku sedikit berkaca-kaca mendengar komentar Pak Albert tadi teringat kedua orang tuaku. Buru-buru aku menyekanya.

“Nah sekarang kita sudah masuk daerah Padang Pariaman”, ucapan Pak Albert menyadarkan aku dari lamunan.

Aku menengok ke arah jendela di sebelah kiri wah terbentang hamparan sawah yang menghijau yang sedikit terselimuti kabut, sungguh indah, Subhanallah. Seketika pemandangan persawahan berganti dengan pemandangan perbukitan yang kokoh. Terdengar pula suara riak air sungai dari seberang pagar pengaman jalan.

Tiba-tiba terdengar letusan dan mendadak pak supir menginjak rem sekeras-kerasnya dan membanting setirnya ke arah kanan. Aku tidak sempat berpikir apa-apa saat itu, hanya istighfar saja yang terucap dari mulutku. Sekejap flashback semua dosa-dosa dan kesalahan yang pernah aku perbuat muncul di pikiran aku.

Alhamdulillah. Bus berhenti, tidak terjadi kecelakaan yang serius, Ban kiri depan bus pecah. Semua penumpang turun, semuanya selamat. Sepertinya akan sangat lama, karena ternyata pak supir tidak membawa ban serep.

“Ya sudah kita jalan aja yuk”, ajak Pak Albert, “Di dekat sini ada tempat yang indah lho”. Sekitar 15 menit berjalan dari tempat bus mogok tadi, mataku dimanjakan dengan pemandangan indah air terjun di pinggir jalan.

“Namanya Air terjun Lembah Anai”, mataku langsung berpaling ke arah Pak Albert, “Airnya dingin dan menyegarkan, kalau kamu mau coba untuk sekedar membasuh muka silakan aja”.

“Wah boleh juga pak…”, jawabku antusias. Baru aku mau melangkah, “Tapi hati-hati, dulu sempat ada harimau yang berkeliaran di jalan dari balik hutan itu”, Pak Albert nyeletuk sambil menunjuk ke hamparan hutan di belakang sungai. Kembali aku menatap Pak Albert dengan wajah curiga.

“Tapi udah gak apa-apa… Yuk”, ucap Pak Albert sambil melangkah tanpa ragu. Aku pun langsung mengikutinya untuk mendekati air terjun.

Sambil membasuh muka aku bertanya kepada Pak Albert bagaimana lagi untuk melanjutkan perjalanan.

“Yuk kita cari bus lain lagi..”, ajak Pak Albert sambil berdiri dari pinggir air terjun.

Tidak lama kita langsung dapat bus lagi. tapi sekarang kita tidak dapat duduk kita terpaksa berdiri. Lumayan juga berdiri lama begini.

“Nah sekarang  kita masuk daerah Padang Panjang. Kota ini termasuk kota serambi Makkah, banyak pesantren di sini”, Pak Albert menjelaskan, “Istri Bapak asalnya dari sini”.

“Oya..”, respon ku menanggapi. “Kalau kamu mau cari istri shalehah cari orang sini aja”, canda Pak Albert sambil senyum-senyum. “Ah Bapak bisa aja” serentak kami langsung tertawa ringan bersama.

Tidak berapa lama terlihat danau yang sepertinya buatan di belakangnya berdiri dua buah gunung berdampingan. Yang satu berdiri kokoh perkasa dan yang merah merona indah mirip sejoli yang berdampingan.

“Itu gunung apa pak?” kali ini aku yang aktif bertanya.

“Itu gunung Singgalang dan yang merah itu gunung Merapi”.

Ooo ternyata ada gunung bernama Merapi selain di Jawa di Minang juga ada. Walaupun berjauhan mereka memiliki banyak kesamaan, sama-sama berapi, sama-sama berbahaya, tetapi sama-sama indah dan sama-sama dicintai banyak orang. Subhanallaah.

(bersambung)