(previously on “Perjalanan ke Bukittinggi”)
Jalan Pemuda
Sekarang aku berdiri di ujung jalan. Terpampang di depan wajahku plang bertuliskan “Jl. Pemuda”.
Kulihat catatan kecil yang aku buat saat menelepon Mai. “Ya, betul tidak mungkin salah lagi, sama persis, Jl. Pemuda. Mungkin di ujung jalan sana ada Jl. Pemudi”, pikirku sambil menunjuk-nunjuk catatan di tangan kiriku.
Kuteruskan saja langkahku, sesekali semilir angin menyapu-nyapu rambutku. Puas rasanya kalau bisa menemukan alamatmu Mai, karena salah satu kelemahanku adalah menemukan alamat. Jangankan menemukan alamat, menemukan toilet waktu OSPEK kuliah saja tersasar. Malu rasanya kalau mengingat-ingat saat-saat itu.
Tak terasa sambil menelusuri jalan, aku senyum-senyum sendiri. Rupanya ada seorang ibu bersama anak perempuannya dari arah yang berlawanan memperhatikanku dari tadi. Aduh malunya.
Kebiasaanku dari dulu kalau malu, aku berusaha menutupinya dengan menggaruk-garuk kepalaku. Saat berpapasan tampak ibu itu tersenyum mencurigakan. Mudah-mudahan tidak dia tidak berpikir yang tidak-tidak tentang diriku. Huuuh.
Dari seberang jalan, tiba-tiba seorang ibu di pekarangan rumahnya memanggil-manggil namaku. “Rahman… Rahman..”, teriaknya sambil melambai-lambaikan tangan ke arahku.
Kaget bercampur bingung menyerangku, dari mana ibu itu tahu namaku. Sambil kutatap wajah ibu itu sambil kucoba ingat-ingat apakah pernah aku berjumpa dengan ibu itu sebelumnya, tapi tetap saja, wajah ibu itu tetap asing di mataku.
Kuhampiri ibu itu perlahan-lahan, ternyata mata ibu itu tidak tertuju kepadaku, aneh sekali.
“Rahman sayang sini dong”, panggil ibu itu, sekarang giliran bingung dan takut yang menyerangku.
“Waduh, kapan ibu ini kenal gue ya”, pikirku dalam hati.
Tiba-tiba dari sisi belakang pepohonan yang tak terlihat olehku–tempat sejak tadi ibu itu mengarahkan pandangan–seorang anak kecil berusia 3-4 tahun berlari menghampiri ibu itu. Lantas ibu itu langsung menyambut dan menggendong anak itu. Kemudian ibu itu berkata-kata kepada anak itu dengan bahasa Minang yang tak kumengerti sambil mencium-cium pipi anaknya itu dengan penuh kasih sayang.
Aku terdiam sejenak, menghela nafas, aku paham, nama anak itu sama dengan namaku, Rahman.
Kembali terpikir tujuan utamaku, yaitu mencari rumah Mai di sepanjang jalan ini. Kupalingkan badanku hendak melangkah lagi melanjutkan perjalanan meninggalkan pekarangan rumah itu.
Beberapa langkah aku melanjutkan perjalananku, ibu itu memanggil-manggil sebuah nama.
Nama yang sangat familiar terdengar di telingaku.
Nama yang tak bisa terlepas dari kepalaku.
Nama yang akan mengakhiri perjalanan panjangku.
Ya, nama itu adalah Mai.
Saat kupalingkan kembali badanku kulihat dari kejauhan sosok yang sungguh tak asing keluar dari balik pintu rumah bercat hijau muda. “Mai”, kusebut namanya dalam hati. Wajahnya tidak berubah, tetap cantik…, hanya wajahnya saja agak pucat dan badannya agak kurus.
Rupanya dia juga melihatku, mata kita saling bertemu, kulihat dia tersenyum. Kami pun saling berusaha saling menghampiri. Mai berlari-lari kecil menuju pagar rumahnya dan aku pun kembali menghampiri rumah itu.
“Akhirnya sampai juga Man, Masuk yuk”, Mai mempersilakan aku masuk sambil membukakan pintu pagar.
“Pake nyasar dulu nggak tadi Man?”, Mai berusaha membuka percakapan.
“Wah nggak dong Mai”, jawabku dengan bangga.
“Trus, kenapa tadi pagi kamu telepon aku?”, Tanya Mai yang masih berupaya mencari cara mengolok-olok diriku. Aku hanya diam dan tersenyum tanpa dosa.
Aku pun mengucapkan salam kepada ibunya dan menyapa adiknya Mai yang masih kecil.
“Rahman, udah ma’em siang belum?”, aku mencoba menggoda adiknya Mai, Rahman.
(bersambung)
Posted by suharjono
Posted by suharjono
Posted by suharjono 











