Sudah idealkah berat badan anda?

August 23, 2009

Setelah lulus kuliah, salah satu hal yang kadang menjadi permasalahan adalah meningkatnya dengan pesat berat badan. Dan jelas itu pun membuat kita waswas apakah ini masih normal atau sudah di luar batas.

Untuk mengukur apakah berat badan kita masih ideal atau tidak, WHO membuat sebuah standar yang dinamakan BMI (Body Mass Index) yang mengkalkulasikan perbandingan tinggi dan berat badan. Besaran BMI dihitung melalui rumus:

BMI = berat badan / (tinggi badan x tinggi badan)

catatan : berat dalam kg (kilogram) tinggi dalam m (meter)

Kemudian nilai dari BMI dipetakan sebagai berikut

  • Sangat kurus : BMI < 16.5
  • Kurus : 16.5 <= BMI < 18.5
  • Normal : 18.5 <= BMI < 25
  • Gemuk : 25 <= BMI < 30
  • Kegemukan level I : 30 <= BMI < 35
  • Kegemukan level II : 35 <= BMI < 40
  • Kegemukan level III : BMI > 40

Selamat berhitung dan tentukan apakah berat anda normal… Semoga bermanfaat :D

Referensi:


Manohara dan Hubungan Indonesia-Malaysia

April 25, 2009

Jagad hiburan Indonesia digemparkan oleh jenis berita yang selama masa hidup saya baru kali ini saya mendengarnya. Seorang model belia asal Indonesia yang saya sendiri baru mendengar namanya disiksa oleh suaminya sendiri yang berstatus sebagai pangeran kerajaan kelantan (salah satu negara bagian Malaysia). Wanita belia yang umurnya tidak jauh beda dengan adik saya itu bernama Manohara (17).

Sudah banyak situs-situs berita yang mengulas kronologis kasus ini secara mendalam, jadi saya tidak akan mengulas mengenai hal tersebut. Namun dari sekian banyak berita tersebut di media belum ada ulasan yang cukup menjawab pertanyaan yang terbesit di benak saya yang sampai saat ini.

Apabila kita tengok lagi sejak pertama kali isu ini mencuat, seperti disengaja bertepatan dengan peringatan hari Kartini tanggal 21 April lalu. Hari peringatan tentang penghargaan terhadap kaum perempuan yang diperingati oleh bangsa Indonesia. Ada skenario apa dibalik semua ini. Apakah munculnya kasus ini merupakan suatu upaya pelecehan terhadap peringatan hari Kartini? Kalau iya siapa dalang dari semua ini? Dan untuk apa?

Kemudian yang tidak habis pikir adalah kenapa selalu saja hubungan tidak baik yang terjadi antar negara tetagga kita, Malaysia adalah yang paling sering menjadi seteru Indonesia dalam beberapa kasus sebelumnya dan kasus ini tentunya. Apakah sebegitu bermusuhankah Indonesia dan Malaysia, sehingga walaupun bertetangga tetapi bahagia jika tetangganya menderita. Atau jangan-jangan semua ini adalah upaya adu domba? kalau iya, siapa dan untuk apa?

Ada yang bisa membantu menjawab pertanyaan saya ini?


Transportasi Umum Vs. Transportasi Pribadi

April 3, 2009

Membahas transportasi umum di negeri ini rasanya sudah seperti berbicara tentang film horor saja. Pesawat jatuh, kapal tenggelam, kereta api tabrakan, busway terbakar satu per satu silih berganti mewarnai headline di surat-surat kabar. Seolah-olah bencana itu satu sama lain sudah terkoordinasi rapi mengikuti alur sebuah skenario, entah siapa sutradara tega di balik ini semua.

Di tengah rasa cemas, was-was atas tidak reliable-nya transportasi yang kunjung menghantui para pengguna transportasi umum, sebagian kalangan, termasuk diri saya mulai melirik transportasi pribadi sebagai solusi alternatif. “Daripada menggunakan transportasi umum yang sering telat, sering kecelakaan mendingan pakai transportasi pribadi, cepet dan biaya yang dikeluarkan nggak beda2 jauh”, pikir saya saat memutuskan mulai menggunakan motor sebagai kendaraan pribadi saya.

Setelah kurang lebih dalam kurun waktu satu tahun menggunakan motor baru saya sadari satu hal yang dimiliki transportasi umum dan tidak dimiliki transportasi pribadi. Walaupun transportasi umum dengan segala kekurangannya sering kali membuat jengkel, sakit hati, dan nyaris bunuh diri, perjalanan dengan transportasi umum akan membuat kita lebih merasa sebagai manusia. Hal ini disebabkan karena selama perjalanan dengan transportasi umum tidak sekedar perjalanannya saja yang ditunaikan tetapi komunikasi, interaksi atau bahkan diskusi–yang merupakan kebutuhan kodrati kita sebagai makhluk sosial–juga kerap dilakukan antar penumpang. Itu yang membuat transportasi umum lebih terasa nikmatnya. Sangat berbeda saat mengendarai transportasi pribadi dalam kasus saya tadi adalah motor. Jangan berharap berkendara motor bisa haha hihi, canda tawa, apalagi diskusi. Untuk meletakkan pantat sendiri saja terkadang sudah membuat motor penuh sesak, belum lagi kalau kepala dan muka sudah dibalut dengan helm, rasanya seperti sendirian saja di dunia ini, semua yang diucapkan,  hanya diri sendiri sajalah yang dapat mendengarkan.

Ini (bukan) Motor Saya

Ini (bukan) Motor Saya


Belajar Mencintai

April 1, 2009

Dua minggu yang lalu saya dan bersama teman-teman saya menyelenggarakan sebuah perjalanan yang sangat mendebarkan. Bagaimana tidak, saya dan teman-teman saya, plus ayah dari seorang teman saya dan pemandu tentunya mengarungi laut jawa menuju pulau yang bernama Onrust yang terletak di kepulauan seribu. Sementara itu, perahu yang kami gunakan untuk menyebrangi laut jawa adalah perahu nelayan yang jelas-jelas pasti tidak memenuhi standar pelayaran, tidak pakai pelampung, perkiraan quota maksimal tidak dibatasi, tidak ada motor cadangan dan ditambah lagi saya yang tidak bisa berenang. Maka lengkaplah sudah perjalanan EXTREME kami menuju pulau tak berpenghuni itu.

Namun betapapun extremenya perjalanan ini, sama sekali tidak tampak wajah-wajah cemas kami selama perjalanan. Yang ada hanya wajah-wajah gembira, sumringah dan bahagia walaupun saat itu jarak kami dari teluk jakarta masih puluhan kilometer jauhnya. Sepertinya hati-hati kami sudah dibalut oleh rasa harap, hasrat bercampur penasaran menantikan keindahan macam apa yang akan tersuguhkan dihadapan kami di ujung perjalanan nanti, sampai-sampai  kami tega-tega menjadikan nyawa kami lah sebagai taruhannya.

Dan benar saja, setelah sampai di ujung perjalanan semua keringat, dahaga dan pertaruhan nyawa kami terbayar dengan keindahan pulau Onrust dan pulau-pulau di sekitarnya. Apalagi buat saya yang untuk pertama kalinya melakukan perjalanan EXTREME ini. Pantainya, ombaknya, percikan airnya, sunsetnya, satu per satu memanjakan panca indera kami dengan keindahan, membuat kerinduan kami tak terbendung saat meninggalkan keindahan pulau itu. Mulai saat itu aku pun jatuh cinta dengan panorama dan suasana pantai dan laut.

Pucuk di cinta ulam pun tiba. Tepat satu minggu setelah perjalanan itu, saya bersama beberapa rekan-rekan saya yang berbeda tentunya, menyelenggarakan sebuah perjalanan menuju pantai. Kali ini keindahan pantai selatan lah yang menjadi target buruan. Pelabuhan Ratu. Medadak hatiku terisi kembali dengan hasrat-hasrat cinta bercampur rindu terhadap panorama dan keindahan suasana pantai dan laut. Yah… memang begitulah yang namanya cinta.

Menjelang tiba di Pelabuhan Ratu, memori kenangan tentang keindahan pantai, sunset, laut dan deburan ombak kembali memenuhi relung-relung hatiku. Dan benar saja, setiba di sana suasana keindahan suasana pantai dan laut yang pernah kunikmati kembali aku rasakan. Oooo….. Kali ini aku benar-benar cinta.

Hari kedua, di tengah segelintir acara lainnya, rasa jemu dengan suasana pantai dan laut mulai menggelayut di dalam hati. Deburan ombak sudah terasa biasa, indah pantai terasa tak seindah biasa, sunset pun semakin terasa tak berharga. Demikian pun pada hari ketiga, rasa bosan dan biasa semakin luar biasa, ingin rasanya segera mengucapkan sampai jumpa. Apakah ini akhir dari cinta?

Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, akhirnya tiba juga saat perpisahan dengan suasana pantai dan laut yang dinanti-nanti.  Namun begitu, rasa rindu dan gundah gulana tetap saja ada. Perasaan harap berjumpa lagi tiba-tiba datang begitu saja. Ternyata, aku masih cinta…..

Biarlah jauhnya jarak pantai dan laut semakin memupuk rasa rindu dan rasa cintaku padanya.


Hadiah Indah Sebuah Kebersamaan

March 25, 2009

Jamaah atau Kebersamaan adalah lebih baik dari sendiri. Pernyataan tersebut memang ada benarnya. Setidaknya nilai-nilai itulah yang saya kecap dalam perjalanan panjang mengelilingi 4 pulau yang saya jalani minggu kemarin. Kebersamaan…..

Kerbersamaan membuat indah sebuah penantian.

Kebersamaan mengajarkan arti dari kesabaran.


Kebersamaan juga mengajarkan berani mengakui kesalahan


Kebersamaan membuat kita lebih kuat dan pantang menyerah.

Kebersamaan juga membuat kebahagiaan lebih gempita terasa.


Dan akhirnya kebersamaan menciptakan sebuah kenangan indah yang tak terlupakan


Membangkitkan Gairah Hidup

March 16, 2009

“Prestasi manusia tercipta karena keinginan untuk dipuji oleh lawan jenisnya”

Kurang lebih seperti itulah bunyi perkataan Sigmund Freud yang dikutip pada sebuah buku berjudul ‘Ipung’ karya Prie GS. Saya tidak pada kapasitasnya untuk menerima atau menolak pernyataan tersebut. Tapi kalau dirasa-rasa  mungkin ada benarnya juga. Shah Jehan membangun Taj Mahal demi istrinya Mumtaz Mahal; Nebukadnezar II menciptakan taman gantung Babylonia yang terkenal itu demi membahagiakan sang permaisuri Amytiz; Dan yang paling kita dekat dengan kita, Bandung Bondowoso yang membangun 1000 candi dalam semalam demi merebut hati sang belahan jiwa Roro Jonggrang (terlepas ini legenda atau bukan).

Pada buku lain yang saya baca, ‘Nikah Emang gue Pikirin!!?’ karya Shofwan Al-Banna, dipaparkan disana urgensi tentang menikah keuntungan, mitos yang salah mengenai menikah, dll tentang menikah. Pada akhirnya paparan tersebut membawa kepada sebuah kesimpulan bagi para pembaca agar jangan menunda menikah bagi yang sudah siap, sementara bagi yang belum siap menjadi termotivasi untuk siap. Pada bab-bab awal penulis buku ini sangat menegaskan agar motivasi untuk menikah bukan sekedar untuk menikah tetapi lebih dari itu. Shofwan mengungkapkan kepada pembaca dengan ‘Nikah: Cara asyik mengubah dunia!’. Lho kok sampai merubah dunia? Yap, Betul, pendapat saya pribadi mengatakan, ada hubungan erat dengan pernyataan Sigmund Freud di atas, yaitu, dengan menikah maka akan ada bahan bakar tambahan bagi suami/istri untuk membangkitkan gairah hidup agar tercipta prestasi-prestasi, sehingga tidak mustahil untuk dapat merubah dunia.

Kemudian pertanyaan yang kembali muncul di benak saya adalah bagaimana dengan orang yang termasuk golongan belum siap untuk menikah? Siapa yang akan dijadikan bahan bakar untuk menggapai prestasi dan kesiapan untuk menikah? Pacar? Bagi yang menganut pacaran itu boleh, silakan saja. Tapi buat saya nggak bisa begitu.

Karena saya termasuk golongan yang belum siap terkadang memang sulit jika sedang masuk dalam fase unmotivated state, rasanya nggak mood untuk mengerjakan apapun. Dan sekali lagi saya mendapati fakta tentang pernyataan Sigumund Freud mungkin ada benarnya. Saya pribadi berpendapat orang yang memutuskan untuk berusaha siap untuk menikah sejujurnya pasti sudah ada wish atau harapan bagaimana atau siapa pasangannya nanti.  Nah, harapan itulah yang menurut pendapat saya dapat menjadi bahan bakar melejitkan gairah. Terlepas harapan itu nantinya terealisasi atau tidak, berharap tentu boleh-boleh saja, dan tiada yang melarang. Selama dapat memotivasi kenapa tidak, dan toh orang yang diharap-harapkan juga tidak tahu dan tidak rugi dengan adanya harapan tersebut.


Apa Iya Koran Bakal Punah?

January 1, 2009

Membaca tulisan di swa, yang membahas trend perkembangan media yang mengalami pergeseran ke arah televisi dan internet saya kembali teringat  tulisan saya yang dulu. Tulisan tersebut menyajikan data-data statistik dan pernyataan-pernyataan dari tokoh-tokoh ahli yang mendukung pendapat bahwa ada kecenderungan koran dan media- media cetak lain akan ditinggalkan.

Pandangan saya mengatakan koran tidak akan pernah musnah, hanya berganti bentuk rupa saja. Apabila dahulu kita biasa baca koran, sekarang ada portal berita seperti detik, eramuslim bahkan kompas.com sendiri. Apalagi dengan akses internet yang semakin mobile informasi-informasi dari portal-portal berita itu bisa sampai di  mata para pembaca dalam hitungan detik langsung ke device pribadi kita.

Dari sisi redaktur mungkin yang akan berubah secara signifikan. Apabila dahulu dengan koran, update berita adalah per hari, maka dengan media internet workflow di tim redaktur akan berputar lebih cepat yaitu as soon as possible after the news come.

Faktor luar yang turut mempengaruhi adalah isu global warming. Dengan munculnya isu tersebut masyarakat dunia terdorong agar meminimalisasi penggunaan kertas yang notabene merupakan barang olahan dari kayu hasil penebangan hutan.

Lalu kalau ada yang bertanya, sampai kapan koran tetap bertahan gimana? Sumpel aja mulutnnya biar diem :D,.. gitu aja kok repot.. hehe. Seandainya saya boleh jawab, jawabannya adalah sampai masih ada cukup banyak orang yang mau beli koran. Berapa banyak? Sejumlah orang yang cukup membuat produsen koran tetap dapat survive.

Tunggu aja.. apakah benar..? Semua bisa aja terjadi.. Mungkin di masa depan nanti ada value yang cukup berharga yang (hanya) bisa dideliver koran atau media cetak lain sehingga masyarakat kembali ke koran dan media cetak. Who Knows??