Enaknya Lupa :)

June 23, 2009

Senin 22 Juni 2009

Panas terik sangat menyengat di siang-siang dalam perjalananku dari Rasuna Said menuju Thamrin. Di belakang Baskoro diam tanpa kata, keliatannya sudah kelaparan. Arashiku masih setia berlari mengantar kami menuju rumah makan padang di daerah Mampang. Kebetulan cuma rumah makan Padang yang kami temukan cukup bersih dibandingkan warung-warung lain. Dan namanya masakan padang rata-rata enak rasanya. Ya, itulah kelebihan rumah makan padang.

Aku waktu itu pesan lauk pakai rendang dan sayur-sayuran khas padang sementara si Baskoro yang udah kelaperan berat pesen mujair goreng. Minumnya kita sama-sama pesen jus mangga. Hmmm,,, kenyang lah..apalagi kita juga sempet nambah nasi… :D Kembali sudah semua semangat yang tadinya sudah menguap karena kepanasan.

Setelah makan, kemudian aku sholat dan melanjutkan perjalanan ke Thamrin. Sampai di Thamrin, aku baru ingat satu hal yang penting yang seharusnya aku tak lupakan. Hari ini hari senin, dan aku lagi puasa…


Kota Kecil itu bernama Tegal

April 16, 2009

Minggu lalu saya memperoleh sebuah kesempatan sangat langka. Kesempatan yang dalam seluruh rangkaian hidup saya, yaa baru kali ini saya memperolehnya. Kesempatan itu adalah kesempatan mengunjungi sebuah kota yang dinamakan Tegal. Maklum lebih dari setengah umur saya ini saya habiskan di kota besar yang bernama Jakarta yang penuh dengan hiruk pikuk kegiatan yang tiada henti sejak matahari terbit hingga terbit lagi. Lantas perjalanan ke kota kecil ini pun bak setetes embun di tengah gurun gersang, sangat menyegarkan dan menyenangkan.

Tegal paling terkenal dengan warung makannya yang tersebar seantero Indonesia, cukup satu kata “warteg”, pikiran sebagian besar orang pasti langsung tertuju pada rumah makan khas ala kota kecil ini. Maka, tidak salah kalau perjalanan ini menjadi sebuah wisata kuliner untuk memburu hidangan-hidangan asli kota Tegal. Selama berada di kota kecil ini terhitung terdapat tiga hidangan yang berkesan di lidah ini sampai turun ke hati. Hidangan itu adalah sauto tauco, nasi lengko, sate kambing muda dan sop kambing khas Tegal.

Kalau ingin menikmati sauto tauco dan nasi lengko yang paling enak, berdasarkan info dari teman saya yang buener2 asli orang tegal — dan saya pun sudah membuktikan — maka datanglah ke alun-alun kota tegal. Kemudian cari tempat makan yang namanya MORO TRESNO. Aroma khas tauco[1] nya benar-benar membangkitkan selera makan. Dan satu lagi yang kuliner yang tidak kalah khas adalah sate kambing muda Tegal beserta sop kambingnya. Pokoknya rasanya mak nyus tiada duanya. Apalagi ditambah, semua makanan dibayari oleh sahabatku yang dari Tegal itu, wah mak nyus nya jadi bertambah sepuluh kali lipat enaknya.

Sauto Tauco

Sauto Tauco

Nasi Lengko

Nasi Lengko

Sate Kambing Muda nan menggoda

Sate Kambing Muda nan menggoda

Sop Kambing bikin semriwing

Sop Kambing bikin semriwing

Nah… satu lagi makanan wisata kuliner yang patut untuk dicoba adalah warung lesehan yang dibuka setiap malam. Jangan salah warung lesehan bukan hanya ada di Malioboro Jogja saja, di Tegal juga ada, dan tentunya dengan ciri khas hidangan yang berbeda. Seperti layaknya warteg, warung lesehan Tegal ini juga menawarkan beragam pilihan makanan yang dapat dipilih semau kita. Nah kalau sudah malam dan dingin seperti saat itu minuman paling enak adalah teh poci hangat. Hmmm…. keharuman teh bercampur sensasi tanah liat membuat cita rasa teh menjadi semakin sensasional.

Makan Lesehan

Makan Lesehan

Kepada saudaraku Akhda Afif Rasyidi dan keluarga, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya telah membantu mewujudkan angan saya dan rekan-rekan untuk mewujudkan perjalanan ini. Untuk rekan-rekan, Mahen, Smell dan RAP, what’s next destination?

[1] Tauco adalah produk sampingan dari proses pembuatan tempe. Untuk beberapa orang aroma yang dihasilkan tauco dapat meningkatkan selera makan.


God still love me

April 8, 2009

Suatu sore, setelah kunjungan ke tempat klien hujan turun dengan lebatnya terus menerus membombardir taksi yang mengangkut saya dan rekan-rekan menuju kantor pusat, di Depok.

Sesaat sebelum tiba di kantor pusat rasa lelah dan pegal sedikit banyak mulai terasa di sekujur tubuh. Daftar rencana kegiatan selanjutnya yang dapat dilakukan sudah terbayang di pikiran. Duduk sejenak, makan, minum kopi hangat, kemudian sholat… Nikmaaatt…. Dan akhirnya saat-saat yang ditunggu tiba… Taksi tiba tepat di depan gedung PUSILKOM UI.

Karena hujan yang lumayan deras, langsung saja setelah membayar supir dan membuka pintu mobil saya langsung bergegas masuk ke gedung, mendaki tangga dan… ups…

Tas saya tertinggal di taksi…

Langsung saya berlari menuruni tangga, menembus hujan untuk mengejar taksi yang sudah hampir melewati pintu gerbang. Gagal sudah daftar rencana yang tadi sudah diubun-ubun. Sudah seperti orang gila saya teriak-teriak sambil menepuk-nepuk tangan seraya memanggil taksi yang tiada berhenti… sia-sia…

Telpon kantor pusatnya…

Yup ide brilian ini muncul begitu saja di otak saya.

“Nomor taksi yang Bapak sewa berapa, Pak?”, tanya orang di seberang telepon

Saya kembali lemas, saya sama sekali tidak ingat, yang saya ingat cuma warna taksinya, Biru. Terbayang-bayang laptop, hardisk, handphone, dan dokumen -dokumen proyek yang mengisi tas tersebut. Frustasi…

Kejar Pakai motor…..

Yeah, ide yang lebih brilian kali ini keluar lagi, tapi sayang sudah terlambat… Taksi biru sudah hilang lenyap, tanpa jejak. Langsung tanpa pikir-pikir lagi langsung saya tancap gas motor saya kemudian membelah hujan. Namun saya berusaha tenang dan  kemudian mengurangi laju motor saya.

Melewati Masjid UI, saya melihat sebuah taksi parkir di pelataran. Entah taksi yang ini atau bukan masih tanda tanya buat saya.

“Saya izin sholat dulu dzuhur dulu Pak..”, perkataan sang supir yang paling saat saya saat minta menunggu di kantor klien. Dan sekarang sudah masuk waktu Ashar. Kemungkinan besar itu adalah mobil yang saya tumpangi tadi.

Dan benar saja itu taksinya… Sang supir sedang sholat Ashar… Rasa senang bahagia, lega bercampur-campur di hati. Alhamdulillah, God still love me.


Mau banyak Uang sejak dini?

April 5, 2009

Saat ini saya sedang mengelola sebuah warnet bernama MYNET di bilangan Kelapa Dua, Depok. Selama mengelola warnet ini banyak sekali pelajaran, pengalaman yang saya alami. Kesempatan kali ini saya akan menceritakan salah satunya mudah-mudahan pada kesempatan-kesempatan selanjutnya dapat saya ceritakan cerita lainnya.

Seperti layaknya warnet-warnet biasa, warnet yang saya kelola memberikan harga tarif yang tidak murahan tapi juga tidak membuat kantong kebocoran, Sesuai dengan harga pasaran lah, hanya dengan Rp. 4.000, siapa saja dapat menikmati satu jam penuh akses internet cepat sambil selonjoran, bisa sendiri, mengajak rekan atau pasangan, pokoknya dijamin nyaman.

Menilai uang Rp. 4.000 sangatlah relatif, buat sebagian sobat pembaca yang setia mungkin uang segitu mungkin bukan seberapa, tapi kalau buat adik saya yang masih sekolah SMA kelas 2 bisa saja uang itu sama dengan setengah uang saku yang diberikan kakak-kakaknya untuk satu hari.

Setiap selepas maghrib warnet yang saya kelola ini punya pelanggan-pelanggan tetap, rutin rajiin sekali datang mencicipi setiap game yang tersedia di warnet ini. Mereka bukan mahasiswa, usianya mereka masih seumur jagung, masih sering menyeka ingus dengan baju mereka. Apalagi anak orang kaya, baju mereka saja seperti belum diganti berhari-hari.

Tapi jangan salah mereka tidak main satu jam dua jam, mereka sempat main paket 5 jam. Tidak jarang pula sambil menghentak-hentakkan keyboard mereka berteriak, “Bang teh botolnya dua…”. Meskipun uang mereka usang-usang terkadang tampak terselip lembaran limapuluh ribu rupiah yang juga tampak lecek. Pernah saya mencuri dengar percakapan mereka, per hari pendapatan mereka 100 ribu-an. Artinya satu bulan kurang lebih Rp. 3.000.000,-. Wow… setara dengan gaji seorang lulusan S1 Fasilkom UI.

Itulah hasil didikan orang tua paling tega….

Taukah kamu siapa orang tua mereka?

Jalanan orang tua mereka….

Bukan gambar representatif, sumber: elviera23.wordpress.com

Bukan gambar representatif, sumber: elviera23.wordpress.com


My First Flight (20-8-2008)

August 25, 2008

“Hah sudah hampir jam 3 pagi!”, pikirku dalam hati. Bagaimana pula nanti penerbanganku ke Medan. Bisa nggak bangun nanti jam 4. Cek in pesawat jam 5 pagi ini. “Tapi sudahlah nanti biar Suhaemi saja yang bangunin aku”, sanggahku lagi dalam hati. Aku sengaja menginap di rumah teman, Suhaemi namanya, teman kerja di PUSILKOM. Sengaja aku menginap di rumahnya biar aku bisa bareng ke bandara diantar oleh kakaknya. Maka langsung tertidurlah aku.

Rasanya tidak nyenyak sekali tidur malam itu. Sebuah suara berisik Suhaemi yang hendak bangun membuat aku juga ikut terjaga. Mataku reflek mencari jam dinding yang bisa dipandang. Terlihat jelas pukul 3.30. Sudahlah kuputuskan bangun daripada terlambat. Langsung kucari dimana kuletakkan tasku di kamar Suhaemi – maklum kamar beliau ini punya gabung sama ruang kerja dan server hotspot di rumahnya. Kemudian kuambil sabun dan aku mandi.

Tepat pukul 4 kami sudah rapi. Ternyata jauh sebelum kita siap, kakaknya Suhaemi sudah siap. Woow, rajin sekali beliau. Langsunglah kami berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Di dalam mobil kami lumayan banyak ngobrol dari rencana mereka pindah rumah sampai tentang kuliah. Dari pembicaraan tersebut aku coba memetik pelajaran penting dan menyatakan dalam bentuk sebuah kalimat, “Jangat ragu atau takut untuk menuntut ilmu, kalau perlu ke luar negri menjelajah dunia, nenek moyang kita saja modal perahu phinisi bisa pergi haji, kenapa kita takut untuk belajar ke luar negeri”.

Melalui perjalanan ke bandara Soekarno-Hatta itu, Jakarta memberikan aku pelajaran tentang suatu kata yaitu “rajin”. Bayangkan masih jam 4.30, Shubuh pun belum sudah banyak orang yang siap-siap beraktivitas. Mungkin mereka yang memiliki rumah di Bekasi sana. Di bandara pun demikian ramai sekali orang di sana, luar biasa. Sungguh malu aku dalam hati. Biasa saya bangun jam-jam Shubuh trus setelah sholat tidur lagi sampai jam 8, ternyata ada orang yang bahkan sebelum Shubuh sudah bekerja untuk menjemput rizki dariNya.

Begitu pun di bandara, sudah di pagi seperti itu sudah banyak orang yang beraktivitas, sungguh malu diri ini.

Catatan untuk diriku sendiri, pesawat yang aku tumpangi adalah pesawat Boeing 737-300 milik Garuda Indonesia. I will never forget this flight. :)

di atas medan
di atas medan

Tidak Ada Yang Sempurna

May 4, 2008

Memang nggak ada yang sempurna di dunia ini.

Sama seperti saat bersih-bersih rumah. Saat bersih-bersih rumah pasti inginnya semua bersih tanpa ada debu sedikit pun tersisa…

Ternyata nggak bisa..

Setiap merasa sudah paling bersih, pasti ketemu satu sudut yang belum bersih dan masih ada debunya… meskipun sedikit. Kalau berusaha untuk mencapai yang paling sempurna mungkin tidak akan pernah selesai.

Kendati demikian bukan berarti lantas tidak usah bersih-bersih dan dibiarkan kotor begitu saja. Tapi justru teruslah berusaha mencapai yang paling bersih sebisa kita, meskipun pada akhirnya kita harus menerima pasti ada satu titik yang kotor.

Teruslah berusaha mencapai suatu yang terbaik dan sesempurna mungkin yang kita bisa, meskipun pada akhirnya kita harus menerima pasti ada sesuatu yang nggak sempurna dari hasil kerjaan kita. Qanaah..

Dan Manusia hanya akan memperoleh apa yang diusahakannya. (An Najm: 39)

(Terinspirasi dari hasil bersih-bersih rumah tadi pagi….)


PRADO – Framework PHP yang Component Based (Part I)

July 16, 2007

PRADO, mungkin selintas buat para pecinta sinetron akan teringat Dude Harlino di sinetron RCTI. Tapi kita nggak akan mengupas masalah persinetronan. Kenapa? Pertama emang gue nggak suka nonton sinetron (kecuali beberapa) dan nanti nggak matching dong sama judulnya :) Yang akan gue bahas sebenernya nggak jauh-jauh dari apa yang lagi gue kerjain sekarang. Apalagi kalau bukan Kerja Praktek. Kebetulan kerja gue sekarang bikin sebuah sistem dan kebetulan bahasa pemrograman yang dipake PHP yang dibungkus pake PRADO.

About Framework
Sebelum cerita tentang PRADO gue pengen cerita sedikit tentang Framework. Setiap bahasa pemrograman seperti PHP lah contohnya adalah kumpulan ekspresi-ekspresi dan statement-statement yang terikat oleh grammar yang ada di bahasa pemrograman tersebut dan yang pastinya punya tujuan (fungsi). Tetapi ternyata grammar tersebut masih membuat bahasa pemrograman masih cukup luas sehingga untuk membentuk tujuan yang sama ada banyak ekspresi / cara yang dapat digunakan. Nah framework ini adalah aturan tambahan yang digunakan supaya untuk membuat sesuatu yang umum dibuat lebih mudah dan lebih cepat.

Gampangnya begini, analogikan bahasa pemrograman dengan bahasa Indonesia. Dengan modal bahasa Indonesia saja kita sudah bisa mengirim surat – contohnya surat cinta – dengan berbagai cara penulisan sekehendak hati si penulis. Tapi buat orang yang pertama kali bikin surat cinta pastinya bingung kata apa yang pertama kali mau ditulis padahal si penulis mungkin sangat ahli berbahasa Indonesia. Nah di sini lah peran framework. Framework kalau di kasus ini adalah aturan-aturan tambahan, misalnya surat cinta itu terdiri dari 3 bagian pertama salam yang manis, bagian kedua adalah puisi dan kata-kata romantis dan bagian ketiga adalah salam kangen (ini contoh aja… gue juga belom pernah buat surat cinta…:P). Mudah-mudahan lebih faham dengan penganalogian seperti itu.

Component Based
Component Based adalah penitik beratan atau pemfokusan pada peyederhanaan masalah dengan cara memecah menjadi bagian-bagian (Component) yang memiliki fungsinya masing-masing. Kalau Prado sendiri yang merupakan framework untuk aplikasi berbasis web, membagi komponen-komponennya menjadi komponen-komponen yang ada di web misalnya RadioButton, TextBox, Hyperlink, dsb. Dan tugas kita adalah mengatur / menyusun komponen-komponen itu menjadi sesuatu yang kita inginkan yang nantinya juga dianggap sebagai komponen (komponen yang lebih besar).

Contoh Penggunaan PRADO
Berikut contoh mudah (Hello World) yang diambil dari situs resminya prado. Yang harus anda lakukan adalah pertama kali download prado dari situs ini kemudian ekstrak ke webroot. Untuk membuat aplikasi baru jalankan perintah berikut melalui shell atau terminal:

“php pathToPradoRoot/framework/prado.php <nama projectnya>”

Untuk pengguna windows tinggal disesuaikan separator direktorinya ( tanda ‘/’ menjadi ‘\’).

Nanti akan secara otomatis terbentuk folder sesuai dengan nama project yang anda sebutkan yang telah disusun sesuai workspace prado. Di dalam folder itu kira-kira struktur direktorinya sbb:

Kemudian edit file Home.page di direktori protected/pages. Kalau belum ada ya dibuat aja. Kira-kira isinya seperti ini:

<html>
  <body>
    <com:TForm>
      <com:TButton Text="Click me" OnClick="buttonClicked" />
    </com:TForm>
  </body>
</html>

Selain itu buat file Home.php juga di tempat yang sama kira-kira isinya sbb:

 

class Home extends TPage
{
    public function buttonClicked($sender,$param)
    {
        // $sender refers to the button component
        $sender->Text="Hello World!";
    }
}

Udah deh website dah bisa diakses. Silakan oprek-oprek lebih lanjut. Manualnya ada di direktori prado yang tadi di download kok.

Mungkin segini dulu yang bisa gue share… Tunggu postingan selanjutnya Mau balik kerja lagi hehe (Pake Prado juga…) :p