Jodoh

May 28, 2009

Apa yang akan saya ungkapkan di dalam postingan ini adalah sebuah pandangan pribadi saja.

Gue pribadi percaya, semua orang memiliki jodohnya masing-masing yang sudah ditentukan Yang Maha Kuasa waktu pertama kali nyawa kita ditiupkan. Jadi tak perlulah resah dan tak perlu gundah tidak menemukannya atau direbut orang lain. He / she is dedicated for you… believe it.

Betapapun kita berusaha menjodohkan apabila bukan jodoh maka tak akan bersatu juga. Justru sebaliknya apabila jodoh, betapapun usaha untuk memisahkannya bersatu adalah tetap sebuah keniscayaan.

Orang-orang sering bilang kalau jodoh itu di tangan Tuhan.  Kalau dipikir-pikir bener juga. Dengan dibilang bahwa jodoh di tangan Tuhan, maka tidak ada jalan lain untuk tahu siapa jodoh kita selain mendekatkan diri kepadaNya. Karena kalau nggak deket gimana mau tahu?? So, sudah cukup dekatkah kita dengan Dia? Naah… Kalo sudah dekat dengan Dia, baru bisa deket sama si dia. :D

Orang tua yang bijak tidak akan menghadiahkan sepeda kepada anaknya yang masih berumur 2 tahun, yang jangankan untuk mengendarai sepeda, berjalan saja sulit. Begitu juga dengan Dia yang Maha Bijaksana, Dia tidak akan begitu aja memberitahukan dan mempertemukan kepada kita siapa jodoh kita apabila kita belum siap mengetahuinya. Dia hanya akan mempertemukan saat kita siap. Jadi mari persiapkanlah diri.

Meskipun kita tidak tahu siapa yang ditakdirkan menjadi jodoh kita, satu hal yang pasti adalah dia adalah orang sudah kita kenal. Maka perluaslah pergaulan dan jaga hubungan baik dengan semua orang.


Memandang awan

May 2, 2009

Dulu, sewaktu kecil aku punya kebiasaan yang unik di kala senggang. Unik, bahkan sangat unik sehingga mungkin anak-anak zaman sekarang nggak ada yang punya kebiasaan seperti ini. Kebiasaan itu adalah memandangi awan di langit yang bergerak dihembus angin.

Buat Jono kecil awan itu indah sekali. Putih, bersih, bergumpal, seperti gulali warna putih dengan beraneka bentuk dan rupa. Angan-angan tentang rasanya yang manis membuatku ingin menggapai meraih dan menjilatnya. Sampai-sampai waktu itu aku berangan-angan agar bisa tumbuh tinggi sekali agar mampu meraihnya. Tapi apalah daya, hal itu adalah mustahil belaka.

Maka yang dapat aku lakukan adalah hanya berpura pura meraihnya, memandangi keindahannya dari jauh dan berangan-angan awan itu ada di genggaman. Dengan begitu sudah cukup puas dan senanglah hatiku. Jadi tak perlulah meraih dan menggapainya walaupun hasrat untuk sekedar menyentuhnya tetaplah ada di dada.

Seiring berjalannya waktu, dan semakin bertambah usiaku, aku semakin menyadari bahwa tak perlulah berusaha meraih awan, karena awan itu suatu saat pasti yang akan menghampiri dalam bentuk hujan ataupun salju apabila di negara-negara dengan empat musim. Maka bersabarlah. :D


God still love me

April 8, 2009

Suatu sore, setelah kunjungan ke tempat klien hujan turun dengan lebatnya terus menerus membombardir taksi yang mengangkut saya dan rekan-rekan menuju kantor pusat, di Depok.

Sesaat sebelum tiba di kantor pusat rasa lelah dan pegal sedikit banyak mulai terasa di sekujur tubuh. Daftar rencana kegiatan selanjutnya yang dapat dilakukan sudah terbayang di pikiran. Duduk sejenak, makan, minum kopi hangat, kemudian sholat… Nikmaaatt…. Dan akhirnya saat-saat yang ditunggu tiba… Taksi tiba tepat di depan gedung PUSILKOM UI.

Karena hujan yang lumayan deras, langsung saja setelah membayar supir dan membuka pintu mobil saya langsung bergegas masuk ke gedung, mendaki tangga dan… ups…

Tas saya tertinggal di taksi…

Langsung saya berlari menuruni tangga, menembus hujan untuk mengejar taksi yang sudah hampir melewati pintu gerbang. Gagal sudah daftar rencana yang tadi sudah diubun-ubun. Sudah seperti orang gila saya teriak-teriak sambil menepuk-nepuk tangan seraya memanggil taksi yang tiada berhenti… sia-sia…

Telpon kantor pusatnya…

Yup ide brilian ini muncul begitu saja di otak saya.

“Nomor taksi yang Bapak sewa berapa, Pak?”, tanya orang di seberang telepon

Saya kembali lemas, saya sama sekali tidak ingat, yang saya ingat cuma warna taksinya, Biru. Terbayang-bayang laptop, hardisk, handphone, dan dokumen -dokumen proyek yang mengisi tas tersebut. Frustasi…

Kejar Pakai motor…..

Yeah, ide yang lebih brilian kali ini keluar lagi, tapi sayang sudah terlambat… Taksi biru sudah hilang lenyap, tanpa jejak. Langsung tanpa pikir-pikir lagi langsung saya tancap gas motor saya kemudian membelah hujan. Namun saya berusaha tenang dan  kemudian mengurangi laju motor saya.

Melewati Masjid UI, saya melihat sebuah taksi parkir di pelataran. Entah taksi yang ini atau bukan masih tanda tanya buat saya.

“Saya izin sholat dulu dzuhur dulu Pak..”, perkataan sang supir yang paling saat saya saat minta menunggu di kantor klien. Dan sekarang sudah masuk waktu Ashar. Kemungkinan besar itu adalah mobil yang saya tumpangi tadi.

Dan benar saja itu taksinya… Sang supir sedang sholat Ashar… Rasa senang bahagia, lega bercampur-campur di hati. Alhamdulillah, God still love me.


Mau banyak Uang sejak dini?

April 5, 2009

Saat ini saya sedang mengelola sebuah warnet bernama MYNET di bilangan Kelapa Dua, Depok. Selama mengelola warnet ini banyak sekali pelajaran, pengalaman yang saya alami. Kesempatan kali ini saya akan menceritakan salah satunya mudah-mudahan pada kesempatan-kesempatan selanjutnya dapat saya ceritakan cerita lainnya.

Seperti layaknya warnet-warnet biasa, warnet yang saya kelola memberikan harga tarif yang tidak murahan tapi juga tidak membuat kantong kebocoran, Sesuai dengan harga pasaran lah, hanya dengan Rp. 4.000, siapa saja dapat menikmati satu jam penuh akses internet cepat sambil selonjoran, bisa sendiri, mengajak rekan atau pasangan, pokoknya dijamin nyaman.

Menilai uang Rp. 4.000 sangatlah relatif, buat sebagian sobat pembaca yang setia mungkin uang segitu mungkin bukan seberapa, tapi kalau buat adik saya yang masih sekolah SMA kelas 2 bisa saja uang itu sama dengan setengah uang saku yang diberikan kakak-kakaknya untuk satu hari.

Setiap selepas maghrib warnet yang saya kelola ini punya pelanggan-pelanggan tetap, rutin rajiin sekali datang mencicipi setiap game yang tersedia di warnet ini. Mereka bukan mahasiswa, usianya mereka masih seumur jagung, masih sering menyeka ingus dengan baju mereka. Apalagi anak orang kaya, baju mereka saja seperti belum diganti berhari-hari.

Tapi jangan salah mereka tidak main satu jam dua jam, mereka sempat main paket 5 jam. Tidak jarang pula sambil menghentak-hentakkan keyboard mereka berteriak, “Bang teh botolnya dua…”. Meskipun uang mereka usang-usang terkadang tampak terselip lembaran limapuluh ribu rupiah yang juga tampak lecek. Pernah saya mencuri dengar percakapan mereka, per hari pendapatan mereka 100 ribu-an. Artinya satu bulan kurang lebih Rp. 3.000.000,-. Wow… setara dengan gaji seorang lulusan S1 Fasilkom UI.

Itulah hasil didikan orang tua paling tega….

Taukah kamu siapa orang tua mereka?

Jalanan orang tua mereka….

Bukan gambar representatif, sumber: elviera23.wordpress.com

Bukan gambar representatif, sumber: elviera23.wordpress.com


Transportasi Umum Vs. Transportasi Pribadi

April 3, 2009

Membahas transportasi umum di negeri ini rasanya sudah seperti berbicara tentang film horor saja. Pesawat jatuh, kapal tenggelam, kereta api tabrakan, busway terbakar satu per satu silih berganti mewarnai headline di surat-surat kabar. Seolah-olah bencana itu satu sama lain sudah terkoordinasi rapi mengikuti alur sebuah skenario, entah siapa sutradara tega di balik ini semua.

Di tengah rasa cemas, was-was atas tidak reliable-nya transportasi yang kunjung menghantui para pengguna transportasi umum, sebagian kalangan, termasuk diri saya mulai melirik transportasi pribadi sebagai solusi alternatif. “Daripada menggunakan transportasi umum yang sering telat, sering kecelakaan mendingan pakai transportasi pribadi, cepet dan biaya yang dikeluarkan nggak beda2 jauh”, pikir saya saat memutuskan mulai menggunakan motor sebagai kendaraan pribadi saya.

Setelah kurang lebih dalam kurun waktu satu tahun menggunakan motor baru saya sadari satu hal yang dimiliki transportasi umum dan tidak dimiliki transportasi pribadi. Walaupun transportasi umum dengan segala kekurangannya sering kali membuat jengkel, sakit hati, dan nyaris bunuh diri, perjalanan dengan transportasi umum akan membuat kita lebih merasa sebagai manusia. Hal ini disebabkan karena selama perjalanan dengan transportasi umum tidak sekedar perjalanannya saja yang ditunaikan tetapi komunikasi, interaksi atau bahkan diskusi–yang merupakan kebutuhan kodrati kita sebagai makhluk sosial–juga kerap dilakukan antar penumpang. Itu yang membuat transportasi umum lebih terasa nikmatnya. Sangat berbeda saat mengendarai transportasi pribadi dalam kasus saya tadi adalah motor. Jangan berharap berkendara motor bisa haha hihi, canda tawa, apalagi diskusi. Untuk meletakkan pantat sendiri saja terkadang sudah membuat motor penuh sesak, belum lagi kalau kepala dan muka sudah dibalut dengan helm, rasanya seperti sendirian saja di dunia ini, semua yang diucapkan,  hanya diri sendiri sajalah yang dapat mendengarkan.

Ini (bukan) Motor Saya

Ini (bukan) Motor Saya


Belajar Mencintai

April 1, 2009

Dua minggu yang lalu saya dan bersama teman-teman saya menyelenggarakan sebuah perjalanan yang sangat mendebarkan. Bagaimana tidak, saya dan teman-teman saya, plus ayah dari seorang teman saya dan pemandu tentunya mengarungi laut jawa menuju pulau yang bernama Onrust yang terletak di kepulauan seribu. Sementara itu, perahu yang kami gunakan untuk menyebrangi laut jawa adalah perahu nelayan yang jelas-jelas pasti tidak memenuhi standar pelayaran, tidak pakai pelampung, perkiraan quota maksimal tidak dibatasi, tidak ada motor cadangan dan ditambah lagi saya yang tidak bisa berenang. Maka lengkaplah sudah perjalanan EXTREME kami menuju pulau tak berpenghuni itu.

Namun betapapun extremenya perjalanan ini, sama sekali tidak tampak wajah-wajah cemas kami selama perjalanan. Yang ada hanya wajah-wajah gembira, sumringah dan bahagia walaupun saat itu jarak kami dari teluk jakarta masih puluhan kilometer jauhnya. Sepertinya hati-hati kami sudah dibalut oleh rasa harap, hasrat bercampur penasaran menantikan keindahan macam apa yang akan tersuguhkan dihadapan kami di ujung perjalanan nanti, sampai-sampai  kami tega-tega menjadikan nyawa kami lah sebagai taruhannya.

Dan benar saja, setelah sampai di ujung perjalanan semua keringat, dahaga dan pertaruhan nyawa kami terbayar dengan keindahan pulau Onrust dan pulau-pulau di sekitarnya. Apalagi buat saya yang untuk pertama kalinya melakukan perjalanan EXTREME ini. Pantainya, ombaknya, percikan airnya, sunsetnya, satu per satu memanjakan panca indera kami dengan keindahan, membuat kerinduan kami tak terbendung saat meninggalkan keindahan pulau itu. Mulai saat itu aku pun jatuh cinta dengan panorama dan suasana pantai dan laut.

Pucuk di cinta ulam pun tiba. Tepat satu minggu setelah perjalanan itu, saya bersama beberapa rekan-rekan saya yang berbeda tentunya, menyelenggarakan sebuah perjalanan menuju pantai. Kali ini keindahan pantai selatan lah yang menjadi target buruan. Pelabuhan Ratu. Medadak hatiku terisi kembali dengan hasrat-hasrat cinta bercampur rindu terhadap panorama dan keindahan suasana pantai dan laut. Yah… memang begitulah yang namanya cinta.

Menjelang tiba di Pelabuhan Ratu, memori kenangan tentang keindahan pantai, sunset, laut dan deburan ombak kembali memenuhi relung-relung hatiku. Dan benar saja, setiba di sana suasana keindahan suasana pantai dan laut yang pernah kunikmati kembali aku rasakan. Oooo….. Kali ini aku benar-benar cinta.

Hari kedua, di tengah segelintir acara lainnya, rasa jemu dengan suasana pantai dan laut mulai menggelayut di dalam hati. Deburan ombak sudah terasa biasa, indah pantai terasa tak seindah biasa, sunset pun semakin terasa tak berharga. Demikian pun pada hari ketiga, rasa bosan dan biasa semakin luar biasa, ingin rasanya segera mengucapkan sampai jumpa. Apakah ini akhir dari cinta?

Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, akhirnya tiba juga saat perpisahan dengan suasana pantai dan laut yang dinanti-nanti.  Namun begitu, rasa rindu dan gundah gulana tetap saja ada. Perasaan harap berjumpa lagi tiba-tiba datang begitu saja. Ternyata, aku masih cinta…..

Biarlah jauhnya jarak pantai dan laut semakin memupuk rasa rindu dan rasa cintaku padanya.