Home > Opini Gue > CPNS

CPNS

Pewawancara: Apa alasan kamu melamar menjadi PNS

Calon PNS: Saya ingin jadi PNS karena PNS itu terjamin masa pensiunnya nanti

Pewawancara: Lho kamu belum masuk aja, sudah berpikir pensiun, kamu melamar berniat langsung pensiun??  … Ya sudah sekarang apa yang bisa kamu berikan buat negara Indonesia ini??

Calon PNS: Hmmm… Hmmm… (terlihat bingung) Apapun lah agar Bapak senang dan dan saya bisa masuk jadi PNS.

Ya, meskipun mengalami banyak perubahan/distorsi, kurang lebih seperti itulah percakapan yang aku dengar pada acara balada negeri sketsa di SMART FM yang diasuh oleh Mas Prie GS. Kebetulan malam itu yang disindir adalah pelaksanaan CPNS. Menarik, menarik sekali.

Yang menarik buat saya sebenernya sih bukan pada percakapan CPNSnya, tetapi pada kemiripan si tokoh calon PNS dengan diri kita.

Pastilah  pernah setiap kita sebagai manusia memiliki keinginan.  Dan keinginan itu pasti memiliki motivasi yang menjadi alasan kita menginginkan hal tersebut. Kalau pada contoh di atas si CPNS ingin menjadi PNS dengan motivasi untuk mendapatkan masa pensiun yang terjamin.

Saat mendengarkan sandiwara tersebut, terbesit di hati saya sebuah pertanyaan, kenapa motivasi kita saat berkeinginan kerap kali adalah untuk memperoleh sesuatu, bukan untuk memberikan sesuatu? Padahal seperti kita ketahui bersama, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Wah, kalau begitu mulai sekarang, sudah seyogyanyalah setiap niatan dan keinginan kita dimotivasikan keinginan untuk memberi.

Saya jadi teringat tulisan seorang sahabat yang judulnya “take and give”. Waktu itu saya memberikan komentar yang pada intinya adalah mempertanyakan sebenernya yang lebih tepat “take and give” atau “give and take”.

Saya pribadi akan lebih memilih give and take. Kenapa? Dalam contoh kehidupan nyata praktik yang terjadi adalah give and take. Jadi kita memberi dahulu baru kemudian memperoleh.

Contoh sederhana adalah berdagang. Untuk membeli suatu barang kita  inginkan, kita harus membayar terlebih dahulu sebelum kita resmi memiliki barang yang kita inginkan tersebut.

Lho kalau berhutang gimana? Kalau berhutang, pasti sebelumnya kita sudah memberikan sesuatu–baik itu berbentuk materil atau non-materil–sehingga sang pedagang dapat percaya memberikan hutang kepada kita.

Categories: Opini Gue
  1. December 30, 2008 at 7:28 am

    Salam kenal bung.
    Saya jd teringat saat saya blm PNS Dulu. Banyak bener yg nawarin lulus dgn bbrapa jeti. Jadi saya sependapat untuk kasus ini kita emang give and take..

  2. December 30, 2008 at 4:25 pm

    give and take, prinsip yang bagus, tapi harus ada bukti jon,,hehehe

  3. alidz
    January 2, 2009 at 5:52 am

    Hahahahahaha bener bgt!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: