Home > Ekonomi, Management, Opini Gue > Apa Iya Koran Bakal Punah?

Apa Iya Koran Bakal Punah?

Membaca tulisan di swa, yang membahas trend perkembangan media yang mengalami pergeseran ke arah televisi dan internet saya kembali teringat  tulisan saya yang dulu. Tulisan tersebut menyajikan data-data statistik dan pernyataan-pernyataan dari tokoh-tokoh ahli yang mendukung pendapat bahwa ada kecenderungan koran dan media- media cetak lain akan ditinggalkan.

Pandangan saya mengatakan koran tidak akan pernah musnah, hanya berganti bentuk rupa saja. Apabila dahulu kita biasa baca koran, sekarang ada portal berita seperti detik, eramuslim bahkan kompas.com sendiri. Apalagi dengan akses internet yang semakin mobile informasi-informasi dari portal-portal berita itu bisa sampai di  mata para pembaca dalam hitungan detik langsung ke device pribadi kita.

Dari sisi redaktur mungkin yang akan berubah secara signifikan. Apabila dahulu dengan koran, update berita adalah per hari, maka dengan media internet workflow di tim redaktur akan berputar lebih cepat yaitu as soon as possible after the news come.

Faktor luar yang turut mempengaruhi adalah isu global warming. Dengan munculnya isu tersebut masyarakat dunia terdorong agar meminimalisasi penggunaan kertas yang notabene merupakan barang olahan dari kayu hasil penebangan hutan.

Lalu kalau ada yang bertanya, sampai kapan koran tetap bertahan gimana? Sumpel aja mulutnnya biar diem :D,.. gitu aja kok repot.. hehe. Seandainya saya boleh jawab, jawabannya adalah sampai masih ada cukup banyak orang yang mau beli koran. Berapa banyak? Sejumlah orang yang cukup membuat produsen koran tetap dapat survive.

Tunggu aja.. apakah benar..? Semua bisa aja terjadi.. Mungkin di masa depan nanti ada value yang cukup berharga yang (hanya) bisa dideliver koran atau media cetak lain sehingga masyarakat kembali ke koran dan media cetak. Who Knows??

Categories: Ekonomi, Management, Opini Gue
  1. January 3, 2009 at 9:50 pm

    klo yg gw liat, rasio berita/iklan di news portal lebih besar daripada di media cetak. cm dapet satu pernyataan dari tokoh langsung dipublish setelah dikecapin dikit. dapet sepotong lg, tambah lagi. apalagi klo reporternya cm kopipes dari sumber lain (media luar misalnya). liat aja portal berita yg terkenal aja isi berita dan tata bahasanya masi kalah ama koran2 papan atas. kesannya bagus gitu nampilin berita secuil2. mending dirangkumlah, trus digodok jd satu artikel utuh

    IMHO..

    • January 5, 2009 at 12:26 am

      imho juga…

      ada orang yang butuh informasi yang kaya seperti yang mas maksud dengan artikel yang terangkum. Namun ada orang yang perlu sekedar informasi kilat mengenai satu hal. Dan biasanya di tengah kesibukan orang saat ini informasi yang lebih dibutuhkan melaui internet adalah informasi yang flash tapi realtime gitu bukan rangkuman.

      BTW Akhirnya nemu juga keunggulan koran dibandingkan portal-portal berita… yaitu berita yang sifatnya rangkuman. Walaupun sebenernya portal juga bisa memberikan hal tersebut sih.

  2. January 9, 2009 at 7:42 pm

    “berita yang sifatnya rangkuman”
    Hah mxdnya berita di portal lebih panjang-lebar ketimbang di portal?
    Ngga ah…

  3. ilyas
    June 12, 2009 at 11:21 am

    Jadi inget kelas KOMAS nih, pernah disingung juga masalah ini di kelas KOMAS bersama Pak Didit.

    Apakah dengan digantinya newspaper ke digital news bisa mengurangi global warming? Ya saya pun tadinya sependapat dengan Jono, tetapi saya tidak mengira jawaban Pak Didit ternyata membuat saya supaya berpikir lagi mengenai hal tersebut.

    Kita tau bahwa internet, televisi, komputer membutuhkan listrik untuk bisa menyala. Dan kita tau bahwa listrik pun memakai bahan bakar, BBM atau pun batu bara. Bayangkan jika setiap orang beralih ke internet untuk menggantikan koran. Berapa listrik yang harus disupply setiap detik/menitnya, bayangkan berapa banyak BBM/batu bara/ bahan bakar yang lain yang mesti digunakan. Bisa dibayangkan akan cepat habis tuh persediaan minyak/batu bara ( plus bisa jadi perusakan lingkungan). Bisa jadi kalo BBM/Batu bara habis pake kayu2 juga kaya dulu lagi😀

    Meskipun ada PLTU/PLTA tetap saja butuh BBM/batu bara, masih ingat kan kemaren terjadi krisis batu bara sehingga PLN harus memadamkan listrik secara bergilir.

  4. ilyas
    June 12, 2009 at 11:22 am

    wassalam

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: