Home > biografi > Wanita Berhati Emas

Wanita Berhati Emas

Masa SMP adalah waktu masa-masa sulitnya keluarga aku. Ketika itu ibu baru meninggal dan Bapak udah nggak tinggal di Jakarta. Jadi yang bekerja waktu itu hanya kakak perempuanku. Kakak yang lelaki masih melanjutkan kuliah, adik baru mau masuk SD dan aku sendiri baru mau masuk SMP. Sebagai konsekuensi, sambil sekolah sambil jualan martabak telor, combro dan gorengan2 lain lah aku buat bantu menyambung hidup. Kelas 1 di SMP aku-SMP 155 Jakarta-itu semua masuk siang., jadi saat istirahat sholat ashar, aku jajakan lah itu gorengan ke temen2 sekelas. Omzet sehari bisa dapat Rp. Rp. 5000 sampai Rp. 10.000.

Seorang sosok ibu yang tidak akan pernah aku lupa dari lubuk hatiku adalah guru Bahasa Indonesia. Beliau sudah aku anggap ibu aku sendiri. Perkenalan aku dengan beliau cukup tak terduga. Pada hari itu, setelah sore harinya saya belajar bahasa Indonesia di sekolah bersama beliau, malam harinya tanpa disengaja kami bertemu di toko kelontong, ketika aku hendak membeli mie instan sebagai hidangan makan malam. Setelah aku mengucapkan salam dan mencium tangannya, dia minta mampir ke rumah. Awalnya aku agak nggak enak, karena rumah kontrakan yang seadanya, tapi beliau tetap memaksa. Semenjak saat itulah beliau menjadi dekat dengan keluargaku dan sering membantu keluargaku. Mulai dari membantu mencarikan bantuan agar saya dapat bersekolah tanpa biaya di SMP 155 itu. Sampai beliau juga membantu memberi bantuan dalam bentuk beras. Kebetulan waktu itu guru-guru selalu mendapat jatah beras dari pemerintah, tapi jarang yang mau ambil jatah berasnya.

Waktu pertama kali belajar bahasa Indonesia di SMP bersama beliau kesan pertama yang terlihat adalah galak, killer. Dan memang begitulah. Tapi ternyata dibalik semua itu ada kebaikan hati yang sangat luar biasa. Usianya waktu mengajarku waktu itu, aku perkirakan sekitar 40 tahun-an seusia dengan almarhumah ibuku. Beliau adalah orang rantau yang berasal dari tanah minang dan seorang muslimah. Tepatnya kampung beliau aku kurang begitu tahu.

Saat-saat belajar yang paling aku ingat adalah saat dia bercerita darimana asal kata “sekolah” dengan logat minangnya yang khas. Ceritanya zaman dahulu sebelum dikenal istilah sekolah, di tanah minang hidup seorang yang pintar dan suka mengumpulkan dan mengajari anak-anak muda berbagai ilmu. Setiap pagi dia memanggil anak-anak itu, “Siko lah… siko lah…”. Dan akhirnya terbentuk istilah Sekolah untuk kegiatan belajar mengajar secara masal. Begitu ceritanya, perkara itu benar atau tidak tidak perduli lah, yang penting cara dia bercerita menarik waktu itu.

Sekarang sudah lama aku tidak bertemu dengan beliau,… Ingin rasanya bertemu dengan beliau lagi… Wanita ketiga dalam hidupku setelah Ibu dan kakak aku sendiri. Bu Erni.

Categories: biografi
  1. No comments yet.
  1. January 11, 2009 at 7:03 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: