Home > biografi, curhat, Renungan > Memandang awan

Memandang awan

Dulu, sewaktu kecil aku punya kebiasaan yang unik di kala senggang. Unik, bahkan sangat unik sehingga mungkin anak-anak zaman sekarang nggak ada yang punya kebiasaan seperti ini. Kebiasaan itu adalah memandangi awan di langit yang bergerak dihembus angin.

Buat Jono kecil awan itu indah sekali. Putih, bersih, bergumpal, seperti gulali warna putih dengan beraneka bentuk dan rupa. Angan-angan tentang rasanya yang manis membuatku ingin menggapai meraih dan menjilatnya. Sampai-sampai waktu itu aku berangan-angan agar bisa tumbuh tinggi sekali agar mampu meraihnya. Tapi apalah daya, hal itu adalah mustahil belaka.

Maka yang dapat aku lakukan adalah hanya berpura pura meraihnya, memandangi keindahannya dari jauh dan berangan-angan awan itu ada di genggaman. Dengan begitu sudah cukup puas dan senanglah hatiku. Jadi tak perlulah meraih dan menggapainya walaupun hasrat untuk sekedar menyentuhnya tetaplah ada di dada.

Seiring berjalannya waktu, dan semakin bertambah usiaku, aku semakin menyadari bahwa tak perlulah berusaha meraih awan, karena awan itu suatu saat pasti yang akan menghampiri dalam bentuk hujan ataupun salju apabila di negara-negara dengan empat musim. Maka bersabarlah.πŸ˜€

  1. May 3, 2009 at 4:34 am

    waww.. keren ceritanya.πŸ˜€

  2. May 3, 2009 at 5:28 am

    eh ikhma… makasih atas apresiasinya..πŸ˜€

    ~jadi malu nih…πŸ˜€

  3. May 3, 2009 at 8:22 am

    I wanna fly.. reach beyond the clouds..

    finding solitude among the stars..πŸ™‚

    Kalo ane suka ngeliat bintang bro.. terus bingung.. kenapa bintang kedap-kedip.. sempet mikir karena ane gerak pas naek motor, tapi.. ane diem pun bintang tetep kedip2.. Jawabannya ane dapetin setelah baca buku pas kelas 5 sd kalo gak salah.. hehe

    Sayangnya sekarang bintang dah susah keliatan. Karena makin banyak polusi yg menutup cakrawala, dan banyak sumber cahaya gemintang di sekitar kita. Ane penasaran gimana rasanya ngeliat milky way secara langsung. Yg ane liat di buku siy kaya rekahan gitu.. I really wonder..πŸ™‚

  4. nulad
    May 4, 2009 at 11:53 am

    hahahah, kalo dulu ane sukanya ngeliatin awan trus maen tebak-tebakan sama temen itu bentuk apaan sembari maen layangan. Duh, jadi terkenang-kenang

  5. May 4, 2009 at 11:58 am

    @nulad
    Tebak2an jorok ya bro..?πŸ˜„

  6. Pisceldo
    May 4, 2009 at 1:46 pm

    “Dulu, sewaktu kecil aku punya kebiasaan yang unik di kala senggang. Unik, bahkan sangat unik sehingga mungkin anak-anak zaman sekarang nggak ada yang punya kebiasaan seperti ini. Kebiasaan itu adalah memandangi awan di langit yang bergerak dihembus angin.”

    jon…gw anak jaman sekarang tapi gw punya kebiasaan kayak gitu juga koq dulu waktu kecil…
    tiap pagi duduk sendiri di lapangan sambil ngeliatin awan, sampai akhirnya temen2 gw baru dateng klo dah d atas jam 7…πŸ˜›

  7. May 4, 2009 at 2:53 pm

    kan anak2 zaman sekarang fem… haha…

    ~kok kita sama ya fem…πŸ˜€

  8. November 5, 2009 at 8:26 pm

    awan putih memang tampak menarik, tapi kalau awan mendung (awan hitam) membuat suasana mencekam…

  9. October 2, 2010 at 4:38 pm

    wan putih ya menarik tapi kalu awan hitam, bisa sih hujan gede kali ya hujan angin sampe rumah pada amruk pohon tumbang deh yayayaya

  10. aan
    June 6, 2012 at 9:19 am

    Sama dong malahan sampai sekarangpun saya masih suka memandang langit sambil membatin begitu besarnya keangungan allah

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: