Home > Cerita Fiksi > Perbedaan dan Cinta (1)

Perbedaan dan Cinta (1)

Cerpen ini untukmu, ya kamu.. dirimu yang biasa bersembunyi di balik dinding dan sebentar lagi pergi.

Ilustrasi diambil dari wearebulletproof.com

Di suatu rumah sang pencinta hewan, dipeliharalah berbagai hewan-hewan peliharaan. Dua diantaranya adalah ikan mas koki dan burung beo yang hidup bersebelahan meskipun berbeda alam. Ikan mas koki hidup dalam akuarium dan burung beo hidup dalam sangkar yang terletak berdekatan. Setiap hari ikan dapat melihat dan mendengar apapun yang dilakukan oleh sang burung. Kepakan sayapnya, kicauan suaranya serta gerakan-gerakan lincah si burung dari makan, minum bahkan saat sang burung tidur tak luput dari pandangan sang ikan. Begitulah setiap hari yang dilakukan sang ikan.

Awalnya sang ikan merasa aneh melihat makhluk yang sangat berbeda dengan dirinya. Namun karena setiap hari hari hanya burung itu lah yang mengisi pandangannya maka tumbuhlah benih-benih rasa cinta dan suka terhadap makhluk yang sangat berbeda karakternya itu. Ikan yang sifatnya pendiam dan tak banyak bicara jatuh cinta pada burung beo yang selalu terlihat ceria, cerewet dan senang sekali bernyanyi. Kepakan sayap sang burung yang sebelumnya terasa aneh di mata sang ikan, justru sekarang membuat mata sang ikan tak berkedip. Paruh burung yang basah saat minum terlihat sangat cantik di mata sang ikan.

Ikan pun bingung bagaimana mengungkapkan rasa cintanya kepada sang burung yang sudah tak tertahankan lagi. Setiap hari kini dipenuhi rasa galau di hati sang ikan. Gemericik air dari pompa seolah memperdengarkan nada lagu Kahitna-Andai Ia Tahu ke dalam insangnya. Hari demi hari berlalu tak ada upaya berarti yang dapat dilakukan sang ikan untuk menyampaikan rasa cintanya. Yang dapat ia lakukan hanya memanjatkan doa kepada Tuhan setiap malam.

“Ya, Tuhan yang maha mengetahui isi hati setiap makhluk, Aku yakin tanpa aku memanjatkan doa pun Kau tahu apa yang aku rasakan dan aku inginkan. Aku pun yakin Kau juga tahu takdir yang terbaik bagiku karena Kau sendirilah yang menuliskan setiap skenario dalam hidupku. Sesungguhnya aku berdoa hanyalah untuk meneguhkan penghambaanku kepadaMu, bahwa segala apapun yang terjadi adalah atas kehendakMu. Jadi Tuhanku, jika memang benar dia adalah jodohku dan dia baik bagiku maka dekatkanlah dia padaku.”, begitulah panjatan doa yang selalu diuntai sang ikan melalui mulutnya setiap malam sebelum terlelap. Malam pun larut dan ikan terlelap.

Keesokan hari, sinar mentari mulai menyinari bibir akuarium dari balik jendela dan membiaskan cahaya ke tubuh sang ikan yang berwarna merah keemasan. Ikan pun terbangun dari lelap tidurnya. Seperti sudah reflek sang ikan langsung menolehkan kepalanya ke arah sangkar sang burung pujaannya. Namun yang ia tidak mendapati sangkar yang selama ini menjadi kiblatnya. Sangkar itu hilang. Sang ikan panik ia pun mondar-mandir ke sana ke mari mencari dimana sangkar itu. Akhirnya dia pun mendapati sangkar itu ada tergeletak di lantai. Namun ada yang hilang dari sangkar itu, separuh jiwanya yang selama ini ada di sana hilang.

(bersambung)

  1. January 3, 2013 at 5:57 am

    Artikelnya sangat bagus, semoga bermanfaat. Terima kasih.

  2. July 8, 2013 at 11:17 pm

    Artikel yg sangat menarik dan mudah dimengerti ^^ hahah
    Terima kasih ya gan

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: