Home > Cerita Fiksi > Perbedaan dan Cinta (2)

Perbedaan dan Cinta (2)

Untuk yang belum baca bagian pertama baca dulu di sini

Ilustrasi diambil dari wearebulletproof.com

Tak terasa air mata mengalir dari matanya. Namun air di dalam akuarium membutnya tak terlihat sehingga seolah sang ikan tetap tampak tegar walau kini dia kehilangan separuh jiwanya. Ditengah kepanikan sang ikan sambil mondar-mandir di dalam akuarium, sang ikan teringat doanya pada Tuhan semalam.

“Yaaa, Tuhan, inikah jawaban darimu, jika memang ini kehendakmu, walaupun hatiku sedih aku akan berusaha mengikhlaskan, Tuhan”, begitu ucap sang ikan dalam hati sambil menengadahkan wajah ke permukaan air. Sekejap wajah kesedihan sang ikan berubah menjadi sumringah, semangat hidupnya kembali menggelora. Dipandangnya separuh jiwa yang selama ini menjadi kiblatnya sedang bertengger di bibir akuarium. Sosok yang selalu dia kagumi dan cintai dari jarak jauh kini dia lihat secara langsung dari jarak yang sangat dekat, kepakan sayapnya, bulu-bulunya yang berkilatan diterpa cahaya serta paruhnya yang basah saat minum yang selama ini dia kagumi dapat terlihat dengan sangat jelas.

“Maafkan aku Tuhan, tadi aku sudah berprasangka buruk padaMu, Terima kasih Tuhan atas jawabanmu untuk mendekatkan dia padaku”, ucapan syukur sang ikan dalam hati pada Tuhan atas karunia yang membuat hatinya berbunga-bunga.

Sang ikan pun berupaya menyampaikan perasaan yang ia pendam selama ini kepada sang burung. Mulutnya terus komat-kamit mengucapkan kata-kata cinta.

“Demi Tuhan, Aku mencintaimu,.. Aku mencintaimu… I LOVE YOU”, ucap sang ikan setengah teriak hingga permukaan air sedikit beriak karena teriakannya.

Namun apa daya sang burung tak memahami bahasa sang ikan. Sang burung pun hanya diam terpaku melihat perilaku sang ikan. Dia pun hanya meneruskan kegiatan minumnya. Setelah menyelesaikan minumnya sang burung terdiam sejenak memandang kepada sang ikan.

Saat inilah saat terindah yang pernah dirasakan sang ikan. Saat mata mereka saling berpandangan dan berpadu. Tapi sayangnya momen itu hanya sesaat, ada sesuatu yang lebih menarik hati sang burung, yaitu jendela yang terbuka luas. Kebebasan, itulah yang telah diimpi-impikan sang burung sejak lama. Sang burung pun menoleh ke arah jendela. Terbayang di mata sang burung dunia luar yang berkilauan bermandikan sinar mentari memanggil-manggilnya untuk menghampirinya.

Akhirnya momen perpisahan pun tiba, sang burung lebih memilih dunia bebas yang bermandikan sinar mentari ketimbang sang ikan yang sangat mencintainya dengan separuh jiwanya. Sang burung pun mengapakkan sayapnya perlahan dan terbang menuju dunia baru yang dicita-citakannya. Meninggalkan sang ikan sendiri dengan sehelai bulunya yang tak sengaja terjatuh saat minum tadi. Hanya sehelai bulu itulah yang menjadi kenangan bagi sang ikan.sang ikan pun menghampiri bulu tersebut. Tercium aroma bulu sang burung yang larut melalui insangnya.

Sepanjang hari dan malam Sang ikan hanya bisa mengulang-ulang kata “I LOVE YOU” seperti berdzikir sambil menitikkan air mata. Sepanjang hari sang ikan hanya meratapi kejadian tadi. Sampai tertidur pun sang ikan masih tetap berdzikir “I LOVE YOU”.

Keesokan pagi saat mentari mulai menembus dinding akuarium sang ikan masih terus berdzikir “I LOVE YOU” melalui mulutnya. Ia memandang ke permukaan air mencari helai bulu sang pujaan hati yang ditinggalkan sebagai kenang-kenangan, namun ia tidak dapat menemukannya. Sepertinya akuarium baru saja dibersihkan sang pemilik. Kali ini sang ikan tidak panik seperti pertama kali kehilangan kiblatnya. Sang ikan lebih tenang.

“Aku sudah terbiasa Tuhan menerima ujian dariMu. Sekarang aku serahkan semuanya kepadaMu. Semua karena I love You, Tuhan. Dan aku yakin You love me too.”, pikirnya sambil terus berdzikir “I LOVE YOU”,

“I LOVE YOU… I LOVE YOU… I LOVE YOU… I LOVE YOU… I LOVE YOU”, ucap sang ikan terus menerus.

“Kok sudah bilang I Love you aja, kan kita baru ketemu”, tiba-tiba ada suara mengejutkan dari belakang sang ikan.

Seketika sang ikan menoleh ke belakang. Dia mendapati sesosok ikan mas koki seperti dirinya. Seolah sang burung menjelma pada sosok ikan cantik yang ditemuinya. Ternyata sang pemilik ikan selain membersihkan akuarium juga membelikan pasangan untuk ikan mas koki kesayangannya. Mulai hari itu sang ikan mendapatkan kiblat baru dalam hidupnya. Kiblat yang lebih nyata dan lebih mudah dijangkau olehnya.

  1. November 12, 2012 at 4:15 pm

    kirain tadi bakal tragis…

    ikannya dimakan ama burung.. bener2 “dekat” kan jadinya.. haha

    • November 13, 2012 at 10:45 am

      haha… gw kan orangnya romantis feb.. bukan tragis😀 lagipula beo kan makannya pisang bukan ikan😛

  2. November 13, 2012 at 11:11 am

    wakakak.. lucu.. bisa aja ikan jatuh cinta sama burung..

  3. November 14, 2012 at 12:19 pm

    *bacabacabaca*

    ini… kayaknya nulisnya pake hati, Jon?

    :mrgreen:

    • November 14, 2012 at 3:55 pm

      hahaha… ini nulisnya pake ketikan tangan kok yud..😛
      Kalau isi hati hanya Tuhan yang tahu.. wkwkwk😀

  4. theo
    February 19, 2013 at 11:48 am

    perjuangan cinta seekor ikan :’)

    GPS Tracking

  5. July 8, 2013 at 11:43 pm

    Keren juga ini lanjutannya ngga beda serunya dengan yg pertama

  6. June 14, 2014 at 2:21 pm

    hahahahaha bagus juga, kalo yaaaa ada kenyataannya kaya gitu hehe
    memang ada kali ya

  7. April 21, 2015 at 1:24 pm

    keren bangt artikelnya dari hati banget (y)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: