Archive

Archive for the ‘biografi’ Category

Memandang awan

May 2, 2009 10 comments

Dulu, sewaktu kecil aku punya kebiasaan yang unik di kala senggang. Unik, bahkan sangat unik sehingga mungkin anak-anak zaman sekarang nggak ada yang punya kebiasaan seperti ini. Kebiasaan itu adalah memandangi awan di langit yang bergerak dihembus angin.

Buat Jono kecil awan itu indah sekali. Putih, bersih, bergumpal, seperti gulali warna putih dengan beraneka bentuk dan rupa. Angan-angan tentang rasanya yang manis membuatku ingin menggapai meraih dan menjilatnya. Sampai-sampai waktu itu aku berangan-angan agar bisa tumbuh tinggi sekali agar mampu meraihnya. Tapi apalah daya, hal itu adalah mustahil belaka.

Maka yang dapat aku lakukan adalah hanya berpura pura meraihnya, memandangi keindahannya dari jauh dan berangan-angan awan itu ada di genggaman. Dengan begitu sudah cukup puas dan senanglah hatiku. Jadi tak perlulah meraih dan menggapainya walaupun hasrat untuk sekedar menyentuhnya tetaplah ada di dada.

Seiring berjalannya waktu, dan semakin bertambah usiaku, aku semakin menyadari bahwa tak perlulah berusaha meraih awan, karena awan itu suatu saat pasti yang akan menghampiri dalam bentuk hujan ataupun salju apabila di negara-negara dengan empat musim. Maka bersabarlah. 😀

Advertisements

Jono, ayo bilang “R”

April 26, 2009 6 comments

Dulu sewaktu TK, saat berusia 5 tahun, saya seperti layaknya anak-anak kecil lainnya, imut, lucu dan ngegemesin (nanti kalau ketemu fotonya saya upload deh ke facebook). Dan satu hal yang bikin saya berbeda dari anak-anak lain adalah saya tidak bisa melafalkan huruf “R”. Tapi akhirnya saya bisa melafalkannya setelah kelas 3 SD. Sebuah perjuangan yang tidak mudah karena selama selama 3 tahun saya berusaha melatih lidah melafalkan “R” dengan menirukan suara motor “ddrrrnnn…. drrrrrnnn… drrrrnn” setiap hari.

Selama masa tidak bisa melafalkan “R” tersebut, ada satu lagi cerita yang tidak akan pernah saya lupakan, yaitu percakapan antara saya dan guru TK saya.

Guru TK: Jono, coba bisa bilang “R”?

Jono kecil imut: Bisa Bu, Tapi di dalam hati. (dengan wajah polos)

Guru TK: (tersenyum)

Dan sampai saat ini saya masih mengagumi jawaban cerdas saya waktu itu. 😀

Kota Kecil itu bernama Tegal

April 16, 2009 12 comments

Minggu lalu saya memperoleh sebuah kesempatan sangat langka. Kesempatan yang dalam seluruh rangkaian hidup saya, yaa baru kali ini saya memperolehnya. Kesempatan itu adalah kesempatan mengunjungi sebuah kota yang dinamakan Tegal. Maklum lebih dari setengah umur saya ini saya habiskan di kota besar yang bernama Jakarta yang penuh dengan hiruk pikuk kegiatan yang tiada henti sejak matahari terbit hingga terbit lagi. Lantas perjalanan ke kota kecil ini pun bak setetes embun di tengah gurun gersang, sangat menyegarkan dan menyenangkan.

Tegal paling terkenal dengan warung makannya yang tersebar seantero Indonesia, cukup satu kata “warteg”, pikiran sebagian besar orang pasti langsung tertuju pada rumah makan khas ala kota kecil ini. Maka, tidak salah kalau perjalanan ini menjadi sebuah wisata kuliner untuk memburu hidangan-hidangan asli kota Tegal. Selama berada di kota kecil ini terhitung terdapat tiga hidangan yang berkesan di lidah ini sampai turun ke hati. Hidangan itu adalah sauto tauco, nasi lengko, sate kambing muda dan sop kambing khas Tegal.

Kalau ingin menikmati sauto tauco dan nasi lengko yang paling enak, berdasarkan info dari teman saya yang buener2 asli orang tegal — dan saya pun sudah membuktikan — maka datanglah ke alun-alun kota tegal. Kemudian cari tempat makan yang namanya MORO TRESNO. Aroma khas tauco[1] nya benar-benar membangkitkan selera makan. Dan satu lagi yang kuliner yang tidak kalah khas adalah sate kambing muda Tegal beserta sop kambingnya. Pokoknya rasanya mak nyus tiada duanya. Apalagi ditambah, semua makanan dibayari oleh sahabatku yang dari Tegal itu, wah mak nyus nya jadi bertambah sepuluh kali lipat enaknya.

Sauto Tauco

Sauto Tauco

Nasi Lengko

Nasi Lengko

Sate Kambing Muda nan menggoda

Sate Kambing Muda nan menggoda

Sop Kambing bikin semriwing

Sop Kambing bikin semriwing

Nah… satu lagi makanan wisata kuliner yang patut untuk dicoba adalah warung lesehan yang dibuka setiap malam. Jangan salah warung lesehan bukan hanya ada di Malioboro Jogja saja, di Tegal juga ada, dan tentunya dengan ciri khas hidangan yang berbeda. Seperti layaknya warteg, warung lesehan Tegal ini juga menawarkan beragam pilihan makanan yang dapat dipilih semau kita. Nah kalau sudah malam dan dingin seperti saat itu minuman paling enak adalah teh poci hangat. Hmmm…. keharuman teh bercampur sensasi tanah liat membuat cita rasa teh menjadi semakin sensasional.

Makan Lesehan

Makan Lesehan

Kepada saudaraku Akhda Afif Rasyidi dan keluarga, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya telah membantu mewujudkan angan saya dan rekan-rekan untuk mewujudkan perjalanan ini. Untuk rekan-rekan, Mahen, Smell dan RAP, what’s next destination?

[1] Tauco adalah produk sampingan dari proses pembuatan tempe. Untuk beberapa orang aroma yang dihasilkan tauco dapat meningkatkan selera makan.

Arti nama “Suharjono”

March 25, 2009 3 comments

Setiap nama pasti memiliki makna. Begitu pula dengan nama yang telah selama hampir dua puluh tiga tahun aku sandang. Suharjono. Namun selama hampir dua puluh tiga tahun itu pula aku tidak mengetahui makna dari namaku itu. Rasa keingintahuan ku memuncak, kemudian aku coba cari jawabannya melalui internet. Mungkin dari nama tersebut terdapat hikmah yang dapat saya petik.

Berdasarkan referensi yang nanti akan saya sebutkan satu per satu di bawah, nama Suharjono dapat dipenggal dengan dua cara:

pertama    : su-harjo-no

kedua         : suharjo-no

Kata “Su” memiliki makna baik, sangat, lebih.

Untuk Kata “Harjo” terdapat dua pendapat. Yang pertama menganggap “Harjo” berasal dari kata “Raharja” yang artinya selamat, sejahtera, makmur. Sementara untuk yang kedua menganggap kata “Harjo” berasal dari kata “Harja” yang memiliki makna bagus, indah, mulia, jernih.

Kata “Suharjo” sendiri memiliki makna orang yang cemerlang dalam segala hal.

Sementara untuk kata “No” apabila dilihat pada aksara Jawa memiliki pengertian cahaya atau keshalihan.

Saya tidak akan menarik makna dari nama saya sendiri namun saya coba menarik sebuah hikmah.

Dari sekian banyak makna-makna tersebut, semuanya memiliki arti yang baik. Sungguh mulia sekali kedua orang tua saya yang telah memberikan nama seindah ini kepada saya. Mungkin beliau berharap sifat-sifat baik tersebut melekat pada anaknya ini…

Nama adalah harapan.

Nama adalah do’a.

Dan semoga harapan dan do’a kedua orang tua saya dikabulkan Allah. Amiin

Wanita Berhati Emas

January 11, 2009 1 comment

Masa SMP adalah waktu masa-masa sulitnya keluarga aku. Ketika itu ibu baru meninggal dan Bapak udah nggak tinggal di Jakarta. Jadi yang bekerja waktu itu hanya kakak perempuanku. Kakak yang lelaki masih melanjutkan kuliah, adik baru mau masuk SD dan aku sendiri baru mau masuk SMP. Sebagai konsekuensi, sambil sekolah sambil jualan martabak telor, combro dan gorengan2 lain lah aku buat bantu menyambung hidup. Kelas 1 di SMP aku-SMP 155 Jakarta-itu semua masuk siang., jadi saat istirahat sholat ashar, aku jajakan lah itu gorengan ke temen2 sekelas. Omzet sehari bisa dapat Rp. Rp. 5000 sampai Rp. 10.000.

Seorang sosok ibu yang tidak akan pernah aku lupa dari lubuk hatiku adalah guru Bahasa Indonesia. Beliau sudah aku anggap ibu aku sendiri. Perkenalan aku dengan beliau cukup tak terduga. Pada hari itu, setelah sore harinya saya belajar bahasa Indonesia di sekolah bersama beliau, malam harinya tanpa disengaja kami bertemu di toko kelontong, ketika aku hendak membeli mie instan sebagai hidangan makan malam. Setelah aku mengucapkan salam dan mencium tangannya, dia minta mampir ke rumah. Awalnya aku agak nggak enak, karena rumah kontrakan yang seadanya, tapi beliau tetap memaksa. Semenjak saat itulah beliau menjadi dekat dengan keluargaku dan sering membantu keluargaku. Mulai dari membantu mencarikan bantuan agar saya dapat bersekolah tanpa biaya di SMP 155 itu. Sampai beliau juga membantu memberi bantuan dalam bentuk beras. Kebetulan waktu itu guru-guru selalu mendapat jatah beras dari pemerintah, tapi jarang yang mau ambil jatah berasnya.

Waktu pertama kali belajar bahasa Indonesia di SMP bersama beliau kesan pertama yang terlihat adalah galak, killer. Dan memang begitulah. Tapi ternyata dibalik semua itu ada kebaikan hati yang sangat luar biasa. Usianya waktu mengajarku waktu itu, aku perkirakan sekitar 40 tahun-an seusia dengan almarhumah ibuku. Beliau adalah orang rantau yang berasal dari tanah minang dan seorang muslimah. Tepatnya kampung beliau aku kurang begitu tahu.

Saat-saat belajar yang paling aku ingat adalah saat dia bercerita darimana asal kata “sekolah” dengan logat minangnya yang khas. Ceritanya zaman dahulu sebelum dikenal istilah sekolah, di tanah minang hidup seorang yang pintar dan suka mengumpulkan dan mengajari anak-anak muda berbagai ilmu. Setiap pagi dia memanggil anak-anak itu, “Siko lah… siko lah…”. Dan akhirnya terbentuk istilah Sekolah untuk kegiatan belajar mengajar secara masal. Begitu ceritanya, perkara itu benar atau tidak tidak perduli lah, yang penting cara dia bercerita menarik waktu itu.

Sekarang sudah lama aku tidak bertemu dengan beliau,… Ingin rasanya bertemu dengan beliau lagi… Wanita ketiga dalam hidupku setelah Ibu dan kakak aku sendiri. Bu Erni.

Categories: biografi

Nurun Najah: Taman Kanak-kanak

August 12, 2008 6 comments

Adalah sebuah Taman Kanak-kanak dimana aku dulu bersekolah. Letaknya di selatan Jakarta di pinggir Jalan MT Haryono. Di sebelahnya berdiri megah Masjid Al-Hasanuddin

Dulu setiap pagi aku berangkat jam 7, dianter Ibu tercinta. Tapi sebelumnya mampir sebentar di toko kelontong untuk beli makanan untuk bekal di sekolah. Perjalanan dari rumah ke sekolah lumayan jauh sekitar 400 meter.  Sama sekali nggak ada yang indah yang bisa dilihat. Hanya perumahan, perumahan dan perumahan. Oia ada yang tertinggal pemakaman, pabrik sabun KAO. Dulu pabrik masih diperbolehkan di dalam kota.

Hal yang paling aku ingat waktu perjalanan ke sekolah, setiap kali sampai di pintu gerbang pasti tercium aroma limbah tempe, karena di samping sekolah ada industri pembuatan tempe — makanan khas Indonesia yang patennya ada di Jepang — Aromanya tidak terlalu menyengat, tetapi cukup membuat tidak nyaman awalnya. Tapi akhirnya mau tidak mau terbiasa juga.

Selama 6 bulan bulan pertama sekolah aku takut di sekolah sendiri, harus ada kakak atau ibu aku yang stand by di sana. Kalau tidak hal yang buruk akan terjadi, Aku akan nangis sambil teriak-teriak sampai jam sekolah selesai… hehe… 🙂

Tetapi biar begitu menurut kepala sekolahnya waktu itu, aku itu anak yang paling kecil, imut, lucu (ini beneran lho). Sampai-sampai kepala sekolah memajang foto aku yang lagi pakai batik di ruangannya, dan nggak ada foto yang anak yang lain.

Kegiatan yang paling aku inget waktu TK adalah jalan-jalan setiap hari Sabtu dan olah raga hari Rabu. Hari Sabtu kita keliling-keliling perumahan-perumahan dipandu guru-guru TK — nama guru aku Bu Imah — mirip anak-anak ayam mengikuti induknya. Hari Rabu kami olah raga, senam dan main-main banyak hal. Permainan yang paling aku suka adalah permainan tikus dan kucing. Aku adalah “tikus” terbaik. Setiap kali jadi tikus tidak ada yang bisa menangkapku. hehe..

Sebagai perpisahan, zaman dulu belum ada tuh wisuda2 di TK seperti sekarang. Yang ada acara di panggung dan anak-anaknya dibuat melakukan banyak hal. Ada yang nari, nyani, baca hafalan, dst.

Categories: biografi

My Life Story: Ringkasan

August 8, 2008 1 comment

Aku lahir di keluarga beretnis Jawa. Bapak dari Jawa dan Ibu dari jawa juga. Lahir tanggal 17 November 1986. Aku memiliki 3 orang saudara kandung, satu kakak perempuan, satu kakak laki-laki dan satu adik laki-laki.

Didikan Bapak yang keras — aku bisa memaklumi beliau lahir sejak zaman perjuangan kemerdekaan (1923) dan sempat ikut BKR (Barisan Keamanan Rakyat) — memaksa aku jadi orang yang tidak banyak bicara dan pendiam. Tapi Alhamdulillah, karena didikan keras ini bikin aku berusaha untuk disiplin, disiplin dan disiplin.

Saat aku duduk di bangku kelas 3 SD ibuku wafat. Sejak saat itu, aku diasuh oleh kakak perempuanku yang 13 tahun lebih tua dari aku. Sejak saat itu dia seperti berperan sebagai pengganti ibuku, atau bahkan ayah juga karena Bapak sudah pensiun dan gaji pensiunan tidak cukup untuk membiayai kami hidup berlima. Terima kasih banyak buat beliau. Aku bingung bagaimana cara buat membalas itu semua Kak.

Sejak SD aku suka sama pelajaran matematika, ipa, tapi olahraga juga. Puncak kecintaan sama belajar terjadi pada saat saya SMP. Tidak cuma pelajaran matematika dan ipa yang aku suka tapi juga IPS. Nilai ulangan selalu bagus, selalu jadi juara umum. Tapi sayangnya budaya itu tidak terbawa sampai SMA.

Kuliah di Fakultas Ilmu Komputer. Di sini aku menemukan jalan hidup, benar-benar paham kenapa aku ada di dunia ini, apa tujuan hidup aku. Pada waktu kuliah di sini pula Bapak menyusul Ibu… [bersambung]

Categories: biografi