Archive

Archive for the ‘Cerita Fiksi’ Category

Slurp and Pee (Radius 7 Meter)

February 7, 2014 3 comments

“Srupuuuuut”, “Yaah habis deh minuman aku, Beb..” Kata seorang cewe kepada pacarnya yang sedang melamun.
“Kalau kamu mau, pesen lagi aja Beb.”
“Enggak ah, nanti aku ke toilet melulu lagi”
“Lho kok gitu??”, si cowo penasaran sambil membetulkan posisi kacamatanya yang melorot.

Kalau dipikir-pikir Tuhan memang adil. Cowo dengan wajah mirip tukul pake kacamata ala geeks bisa dapet cewe yang kecantikannya bisa bikin cowo yang berada dalam radius 7 meter sesekali mengalihkan pandangan dan meregangkan otot-otot mata sambil berhusnudzon kalau mereka hanya berteman.

Kalau dilihat-lihat sih si cewe ini memang cantik, bisa dibilang kombinasi dua artis nasional. Wajahnya manis mirip Aura Kasih tapi bodynya langsing mirip Luna Maya. (Silakan bayangin sendiri)

“Kamu tau ga kenapa nama minuman ini dinamain Slurpee, Beb?”, kata cewe itu melanjutkan.
“Ngga, emang kenapa Beb?”, si cowo makin penasaran sambil garuk-garuk hidung. Mungkin bulu hidungnya blm dicukur jadi bikin gatel sampe keluar-keluar menyapa dunia.

“Kalo aku pikir-pikir, slurpee itu gabungan dari dua kata lho Beb, SLURP dan PEE, makanya siapa yg minum jadi pengen pipis”

“Haha, kamu bisa aja Beb, lucu banget.. Tapi bener juga sih Beb, ini sekarang aku jadi pengen pipis”, kata si cowo sambil beranjak berdiri dan berjalan ke toilet, “atau bisa juga artinya jadi menghirup/minum air pipis, Beb, haha”

“Ish, kamu jorok banget Beb”, kata si cewe dengan ekspresi jijik tapi tetap menggemaskan sambil kemudian si cewe sibuk memainkan gadgetnya. Mungkin cowo-cowo dalam radius 7 meter yang sedari tadi mencuri-curi pandang berharap si cowo ga balik lagi atau kalau balik lagi mukanya tambah jelek jadi si cewe jadi ga suka.

Belum sampai satu menit tiba-tiba si cowo sudah menghampiri si cewe. Tapi tidak sesuai harapan cowo-cowo dalam radius 7 meter, si cowo berubah jadi ganteng banget. Lho kok bisa?

Eh ternyata bukan cowo yang tadi, dia adalah cowo yang berbeda lebih ganteng, badannya atletis, otot bisepnya proporsional terlihat sedikit dari baju agak ketat tanpa kerah. Mukanya sekilas mirip Taylor Lautner yang jadi Jacob di Twilight Saga.

Sekarang gantian pasangan si cowo-cowo dalam radius 7 meter yang tak berkedip dan menelan air liurnya sendiri sambil berharap cowonya bisa ditukar tambah. Mungkin ini yang disebut karma. Tuhan memang adil.

“Hun, kamu udah lama nunggu?”, sapa si ganteng kepada si cantik yang mendadak menjadi pusat perhatian dalam radius 7 meter.
“Iya hun, kamu kemana aja aku udah sampe habis nih slurpee nya”, jawab si cantik mesra.
“Hati-hati nanti ke toilet melulu lho..”, balas si ganteng diikuti gelak tawa mereka berdua. Tampak di wajah si cantik mimik gelisah, entah kenapa.

Mendadak tercipta drama dalam radius 7 meter dengan 3 pemeran yang terlibat. Sedangkan yg lain adalah audience yang hanya bisa menerka-nerka bagaimana akhir dari drama ketika si bulu hidung melambai kembali. Siapa sebenernya yang jadi pacar si cewe cantik itu. Dst.

Dan benar saja beberapa menit kemudian tokoh antagonis yang sedari tadi diharapkan tidak kembali menghampiri kembali meja yang ditinggalkannya tadi. Mereka saling berpandangan dengan ekspresi yang aneh satu sama lain. … (Bersambung)

Yuk tentukan endingnya di Facebook (facebook.com/suharjono)
Like: Terjadi perkelahian dan akhirnya si cantik tetap memilih si bulu hidung
Comment: Terjadi perkelahian dan si cantik memilih si ganteng
Share: si ganteng dan si bulu hidung pasangan homo

Categories: Cerita Fiksi

Perbedaan dan Cinta (2)

November 12, 2012 9 comments

Untuk yang belum baca bagian pertama baca dulu di sini

Ilustrasi diambil dari wearebulletproof.com

Tak terasa air mata mengalir dari matanya. Namun air di dalam akuarium membutnya tak terlihat sehingga seolah sang ikan tetap tampak tegar walau kini dia kehilangan separuh jiwanya. Ditengah kepanikan sang ikan sambil mondar-mandir di dalam akuarium, sang ikan teringat doanya pada Tuhan semalam.

“Yaaa, Tuhan, inikah jawaban darimu, jika memang ini kehendakmu, walaupun hatiku sedih aku akan berusaha mengikhlaskan, Tuhan”, begitu ucap sang ikan dalam hati sambil menengadahkan wajah ke permukaan air. Sekejap wajah kesedihan sang ikan berubah menjadi sumringah, semangat hidupnya kembali menggelora. Dipandangnya separuh jiwa yang selama ini menjadi kiblatnya sedang bertengger di bibir akuarium. Sosok yang selalu dia kagumi dan cintai dari jarak jauh kini dia lihat secara langsung dari jarak yang sangat dekat, kepakan sayapnya, bulu-bulunya yang berkilatan diterpa cahaya serta paruhnya yang basah saat minum yang selama ini dia kagumi dapat terlihat dengan sangat jelas.

“Maafkan aku Tuhan, tadi aku sudah berprasangka buruk padaMu, Terima kasih Tuhan atas jawabanmu untuk mendekatkan dia padaku”, ucapan syukur sang ikan dalam hati pada Tuhan atas karunia yang membuat hatinya berbunga-bunga.

Sang ikan pun berupaya menyampaikan perasaan yang ia pendam selama ini kepada sang burung. Mulutnya terus komat-kamit mengucapkan kata-kata cinta.

“Demi Tuhan, Aku mencintaimu,.. Aku mencintaimu… I LOVE YOU”, ucap sang ikan setengah teriak hingga permukaan air sedikit beriak karena teriakannya.

Namun apa daya sang burung tak memahami bahasa sang ikan. Sang burung pun hanya diam terpaku melihat perilaku sang ikan. Dia pun hanya meneruskan kegiatan minumnya. Setelah menyelesaikan minumnya sang burung terdiam sejenak memandang kepada sang ikan.

Saat inilah saat terindah yang pernah dirasakan sang ikan. Saat mata mereka saling berpandangan dan berpadu. Tapi sayangnya momen itu hanya sesaat, ada sesuatu yang lebih menarik hati sang burung, yaitu jendela yang terbuka luas. Kebebasan, itulah yang telah diimpi-impikan sang burung sejak lama. Sang burung pun menoleh ke arah jendela. Terbayang di mata sang burung dunia luar yang berkilauan bermandikan sinar mentari memanggil-manggilnya untuk menghampirinya.

Akhirnya momen perpisahan pun tiba, sang burung lebih memilih dunia bebas yang bermandikan sinar mentari ketimbang sang ikan yang sangat mencintainya dengan separuh jiwanya. Sang burung pun mengapakkan sayapnya perlahan dan terbang menuju dunia baru yang dicita-citakannya. Meninggalkan sang ikan sendiri dengan sehelai bulunya yang tak sengaja terjatuh saat minum tadi. Hanya sehelai bulu itulah yang menjadi kenangan bagi sang ikan.sang ikan pun menghampiri bulu tersebut. Tercium aroma bulu sang burung yang larut melalui insangnya.

Sepanjang hari dan malam Sang ikan hanya bisa mengulang-ulang kata “I LOVE YOU” seperti berdzikir sambil menitikkan air mata. Sepanjang hari sang ikan hanya meratapi kejadian tadi. Sampai tertidur pun sang ikan masih tetap berdzikir “I LOVE YOU”.

Keesokan pagi saat mentari mulai menembus dinding akuarium sang ikan masih terus berdzikir “I LOVE YOU” melalui mulutnya. Ia memandang ke permukaan air mencari helai bulu sang pujaan hati yang ditinggalkan sebagai kenang-kenangan, namun ia tidak dapat menemukannya. Sepertinya akuarium baru saja dibersihkan sang pemilik. Kali ini sang ikan tidak panik seperti pertama kali kehilangan kiblatnya. Sang ikan lebih tenang.

“Aku sudah terbiasa Tuhan menerima ujian dariMu. Sekarang aku serahkan semuanya kepadaMu. Semua karena I love You, Tuhan. Dan aku yakin You love me too.”, pikirnya sambil terus berdzikir “I LOVE YOU”,

“I LOVE YOU… I LOVE YOU… I LOVE YOU… I LOVE YOU… I LOVE YOU”, ucap sang ikan terus menerus.

“Kok sudah bilang I Love you aja, kan kita baru ketemu”, tiba-tiba ada suara mengejutkan dari belakang sang ikan.

Seketika sang ikan menoleh ke belakang. Dia mendapati sesosok ikan mas koki seperti dirinya. Seolah sang burung menjelma pada sosok ikan cantik yang ditemuinya. Ternyata sang pemilik ikan selain membersihkan akuarium juga membelikan pasangan untuk ikan mas koki kesayangannya. Mulai hari itu sang ikan mendapatkan kiblat baru dalam hidupnya. Kiblat yang lebih nyata dan lebih mudah dijangkau olehnya.

Perbedaan dan Cinta (1)

November 9, 2012 2 comments

Cerpen ini untukmu, ya kamu.. dirimu yang biasa bersembunyi di balik dinding dan sebentar lagi pergi.

Ilustrasi diambil dari wearebulletproof.com

Di suatu rumah sang pencinta hewan, dipeliharalah berbagai hewan-hewan peliharaan. Dua diantaranya adalah ikan mas koki dan burung beo yang hidup bersebelahan meskipun berbeda alam. Ikan mas koki hidup dalam akuarium dan burung beo hidup dalam sangkar yang terletak berdekatan. Setiap hari ikan dapat melihat dan mendengar apapun yang dilakukan oleh sang burung. Kepakan sayapnya, kicauan suaranya serta gerakan-gerakan lincah si burung dari makan, minum bahkan saat sang burung tidur tak luput dari pandangan sang ikan. Begitulah setiap hari yang dilakukan sang ikan.

Awalnya sang ikan merasa aneh melihat makhluk yang sangat berbeda dengan dirinya. Namun karena setiap hari hari hanya burung itu lah yang mengisi pandangannya maka tumbuhlah benih-benih rasa cinta dan suka terhadap makhluk yang sangat berbeda karakternya itu. Ikan yang sifatnya pendiam dan tak banyak bicara jatuh cinta pada burung beo yang selalu terlihat ceria, cerewet dan senang sekali bernyanyi. Kepakan sayap sang burung yang sebelumnya terasa aneh di mata sang ikan, justru sekarang membuat mata sang ikan tak berkedip. Paruh burung yang basah saat minum terlihat sangat cantik di mata sang ikan.

Ikan pun bingung bagaimana mengungkapkan rasa cintanya kepada sang burung yang sudah tak tertahankan lagi. Setiap hari kini dipenuhi rasa galau di hati sang ikan. Gemericik air dari pompa seolah memperdengarkan nada lagu Kahitna-Andai Ia Tahu ke dalam insangnya. Hari demi hari berlalu tak ada upaya berarti yang dapat dilakukan sang ikan untuk menyampaikan rasa cintanya. Yang dapat ia lakukan hanya memanjatkan doa kepada Tuhan setiap malam.

“Ya, Tuhan yang maha mengetahui isi hati setiap makhluk, Aku yakin tanpa aku memanjatkan doa pun Kau tahu apa yang aku rasakan dan aku inginkan. Aku pun yakin Kau juga tahu takdir yang terbaik bagiku karena Kau sendirilah yang menuliskan setiap skenario dalam hidupku. Sesungguhnya aku berdoa hanyalah untuk meneguhkan penghambaanku kepadaMu, bahwa segala apapun yang terjadi adalah atas kehendakMu. Jadi Tuhanku, jika memang benar dia adalah jodohku dan dia baik bagiku maka dekatkanlah dia padaku.”, begitulah panjatan doa yang selalu diuntai sang ikan melalui mulutnya setiap malam sebelum terlelap. Malam pun larut dan ikan terlelap.

Keesokan hari, sinar mentari mulai menyinari bibir akuarium dari balik jendela dan membiaskan cahaya ke tubuh sang ikan yang berwarna merah keemasan. Ikan pun terbangun dari lelap tidurnya. Seperti sudah reflek sang ikan langsung menolehkan kepalanya ke arah sangkar sang burung pujaannya. Namun yang ia tidak mendapati sangkar yang selama ini menjadi kiblatnya. Sangkar itu hilang. Sang ikan panik ia pun mondar-mandir ke sana ke mari mencari dimana sangkar itu. Akhirnya dia pun mendapati sangkar itu ada tergeletak di lantai. Namun ada yang hilang dari sangkar itu, separuh jiwanya yang selama ini ada di sana hilang.

(bersambung)

Dongeng Kacang

November 3, 2012 3 comments

Konon makanan-makanan kecil yang biasa kita makan seperti kacang sukro, keripik pilus dan cemilan-cemilan lain sebenarnya dapat bicara dalam bahasa mereka yang tidak dapat manusia dengar secara kasat. Di dalam bungkus yang pengap dan tidak ada udara dan cahaya masuk mereka menanti dengan penuh dengan kesabaran. Mereka menunggu seorang anak manusia yang ditakdirkan untuk meretas bungkus yang menyelimuti mereka selama berhari-hari dan berminggu-minggu.

Karena telah berhari dan berminggu mereka bersama, maka muncul rasa cinta, kasih sayang dan persamaan cita-cita di antara mereka. Kemudian mereka berikrar satu sama lain untuk setia dan selalu bersama walau apapun yang terjadi. Mereka juga berjanji bersama.

“Kami berjanji demi Tuhan yang telah mempertemukan kami”, ikrar salah satu butiran kacang yang diikuti oleh kacang-kacang yang lain dengan lantang seperti pembacaan pancasila setiap upacara hari senin.

“Barangsiapa, manusia yang membebaskan kami, maka kami berjanji untuk tetap bersama-sama berkumpul di dalam sistem pencernaan manusia itu”, begitulah ikrar mereka bersama-sama. Seketika suasana menjadi haru. Setiap kacang saling berpelukan satu sama lain dan mengucapkan kata-kata penuh kasih sayang.

“Kalian adalah segalanya bagiku kawan, kita akan bersama selamanya”, kata salah satu butiran kacang.

“I love you all guys, we’ll be together forever”, ternyata ada butiran kacang impor dari Australia, yang tersesat.

Ada pula yang mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya dengan menyanyi. “Aku tanpamuuuu… butiran kacang”, kurang lebih begitu bunyi potongan liriknya.

Sejak saat itu kacang-kacang itu sudah menjadi seperti saudara walaupun asal mereka pun berbeda-beda. Konon apabila ada manusia yang memakan satu butir kacang dari kelompok mereka, butiran-butiran kacang yang lain akan merasa iri dan terus memanggil-manggil manusia tadi untuk memakan butiran yang lain agar mereka tetap selalu bersama. Itulah penyebab ketika manusia mulai untuk ngemil akan sulit untuk berhenti sampai cemilan itu habis.

Ketika “I love you” sudah tak romantis lagi

October 24, 2012 11 comments

Sudah lama sekali sejak mulai masuk kuliah 4 tahun lalu nyambi kerja setahun kemudian aku melupakan hobby aku menulis diary. Namun kali ini aku sudah tak tahan untuk menumpahkan perasaan aku ke diary aku tercinta.

Dear Diary, hari ini Sinta bete deh. Udah lama nih Sinta ga malem mingguan. Sejak 3 tahun terakhir kali shinta malem mingguan sama pacar, sampai sekarang kok belum ada ya cowo yang menyatakan cinta ke aku lagi. Eh, bukan cowo deh, aku ingin seorang lelaki, bukan cowo lagi. Aku mau berhubungan serius.

Sebenarnya ada teman kerja aku di kantor yang menurutku menarik hatiku. Orangnya memang tidak seganteng pacar-pacarku dahulu tapi dia pandai menyesuaikan penampilan dengan waktu, tempat dan tema. Cara berpakaian, potongan rambut semua menjadi selalu terlihat manis dan memancarkan kharisma tersendiri. Namanya Galih. Sering aku mengintipnya dari balik cubicle tempat kerja kami yang berseberangan. Sebenarnya manis juga wajahnya semakin sering aku lihat. Dari sisi agama Galih juga baik, setiap masuk waktu ibadah dia selalu melaksanakannya di awal waktu. Cukup meyakinkan aku lah untuk menjadi imamku nanti.

Tapi sayang, Diary. Mas Galih itu orangnya kurang romantis. Udah hampir tiga kali aku ngerayain ulang tahun di kantor, masa hadiahnya aneh-aneh. Waktu ulang tahun aku yang pertama, masa aku dikasih hadiah kalkulator, bukannya bunga atau boneka angry bird kek, biar agak romantis. Ya walaupun akhirnya kalkulator itu penting banget buat aku ngerjain UAS. Yang aku bingung, Diary, kok Mas Galih bisa tau ya aku ga punya kalkulator buat ngerjain UAS???

Terus waktu ulang tahun aku yang ke-21 tahun lalu, aku berharap kali ini mas Galih memberi hadiah boneka. Aku lagi pengen banget boneka yang bentuk emoticon senyum.. lucuuu deh.. Tapi lagi-lagi sayangnya mas Galih malah kasih aku hadiah laser pointer yang buat presentasi. Ih, sama sekali gak romantis banget kaan.. Diary Tapi alhamdulillah juga hadiah dari mas Galih bermanfaat juga. Kebetulan pas banget minggu depannya aku sidang skripsi aku. Laser pointer itu berguna banget buat aku presentasi skripsi aku ke penguji.

Minggu kemarin sebenernya aku seneng banget bisa pulang bareng sama mas Galih. Jadi aku bisa ngobrol berdua deh sama dia. Sejak saat itu aku jadi lebih kenal sama dia, Diary. Seperti ini nih percakapan kita:

“Mas Galih, kapan mau sebar undangan?”, setelah ngobrol panjang lalalalala, aku bertanya hal konyol itu.

“Ya, inginnya secepatnya, Sin”, jawabnya dengan sangat singkat. Emang dasar ga romantis.

“Terus udah ada calonnya, kok ga pernah diajak ke kantor sih”, aku coba cari-cari tahu lagi

“Belum,..”, kali ini dia bercerita agak panjang sambil mulai menatapku. “Susah sin. Aku paling ga bisa mengatakan cinta kepada wanita, menurutku kurang romantis. Kalau aku cinta ya akan aku tunjukkan dengan sikap dan perilaku agar dia membaca dan memahami sendiri.”

“Lho, kenapa?”, aku bertanya bingung, sambil berfikir pantas saja dia masih single.

“Menurutku, jodoh adalah ketika pasangan tetap dapat saling mengerti walaupun tanpa saling berkata cinta.”, dia menjelaskan panjang lebar membuat aku bingung, “Kalau hanya kata-kata cinta, semua orang bisa berkata.”

“Yang tentang jodoh itu bener mas, tapi itu untuk dibuktikan nanti setelah menyatakan cinta. Menurutku, mengatakan cinta penting. Itu sebagai ikrar”, aku menjelaskan, “Aku pribadi sih, sebagai wanita merasa perlu dan mas Galih, sebagai laki-laki harus berani berikrar”.

“Hmm.. Begitu ya..”, dan itulah kata-kata terakhirnya sebelum kata-kata sampai jumpa, dan kita berpisah ke rumah masing-masing.

Tepat besok adalah hari ulang tahunku. Nggak tau kenapa deh, aku jadi penasaran mas Galih mau kasih hadiah apa kali ini. Bye Diary ^__^

Sejenak aku baca kembali apa yang aku tulis di dalam diary. Dari tulisan yang aku baca kembali muncul sebuah kesimpulan yang baru aku sadari setelah selama ini.

Blackberry aku berbunyi. Sepertinya ada pesan BBM masuk.

Mendadak aku jadi senyum-senyum setelah membaca nama yang muncul di BBM aku. Galih Wicaksono.

“Sin, aku boleh ke rumahmu besok? Ada yang ingin aku katakan”, Senyumku langsung terkembang membaca pesan itu.

“Aku sudah tahu kok apa yang Mas mau bilang. :)”, Balasku melalu BBM.

“:)”, Begitu balasan terakhir darinya. Ternyata diam-diam kamu romantis mas.

Categories: Cerita Fiksi

Sakit Jiwa

September 6, 2012 1 comment

“Hoaaahmm, Jam segini masih macet aja”, gumamku sambil menutup mulutku yang menguap tak tertahan. Kulihat jam tangan menunjukkan hampir pukul 10. Bingung juga makin hari macet makin parah saja di ibu kota ini. Mobil di depanku bergerak centi demi centi. Akupun menguntit dari belakang pelan-pelan. Sejenak muncul motor dari kanan maupun kiri berusaha selap-selip berusaha lolos dari jeratan macet yang mematikan ini.

Pikiranku mulai berandai-andai. Seandainya dari tadi saja aku pulang, toh macetnya juga sama, ga perlu lah nongkrong lama-lama di kantor. Toh kantorku belum termasuk yang dapat remunerasi. Kerja sedikit atau banyak juga sama saja gajinya, yang penting absen jalan terus. Seketika hati kecilku menolak itu semua dan berargumen seolah ada debat di dalam hatiku.

“Bekerja itu bukan demi uang bung, tapi mengabdi pada negara”, begitu bunyi bisikan kata hati kecilku yang nasionalis.

“Bukan, bekerja itu harus lillahi ta’ala, Akhii”, ujar sisi hati kecilku yang lain yang agak religius.

“Halaah, Realistis aja bro, akui aja lo perlu duit, lo kerja itu buat hidupin anak istri lo dan sedikit senang-senang, karir nomor 100 lah, pikir aja emang nyambung lo lulusan teknik sipil tapi kerja jadi panitia pengadaan di kantor pemerintahan”, hati kecilku yang ini agaknya sedikit cerewet tapi logis juga sih.

Mendadak ada motor yang menyenggol kaca spion mobilku dengan keras, “Heii!!”, aku teriak, sambil dengan reflek ku buka kaca pintu.

“Lihat-lihat dong pake mata”, serapahku.

Motor tadi tetap berlalu sambil sedikit menoleh dan sedikit lambaian tangan. Tidak ikhlas sepertinya dia minta maaf, seolah hal yang biasa merusak barang yang bukan miliknya. Kulihat kaca spionku retak. Terbayang seberapa kencang tadi dia melaju di tengah macet ini.

“Brengsek!!”, gumamku dalam hati. Geregetan rasanya dan tanpa sadar aku mengepalkan tangan kanan dan memukul klakson dengan keras sampai aku tersadar membuat polusi suara yang memekakkan telinga.

Tapi kok tiba-tiba mobil di depanku ikut-ikutan klakson-klakson keras, berulang-ulang lagi. Di belakang mobilnya ada tulisan, “We are the Pink Jacket”, begitu bunyinya.

“Wah satu almamater nih”, pikirku. Kalau bukan seniorku pasti juniorku. Eh atau jangan-jangan temen satu angkatan.

“Ada apa gerangan ini?”, hatiku bertanya-tanya, “Ada apa sih?”.

Karena sudah geregetan dan kaku juga pinggang gara-gara duduk udah hampir satu jam di mobil, aku keluar saja dari mobil mencari tahu apa yang terjadi. Bentuk respekku juga ke sesama teman seperguruan. Untung saja ambeienku ga kambuh kelamaan duduk.

Kulihat di depan mobil yang berisik klakson ada mobil tua mungkin mobil tahun 80an yang mogok. Cat coklatnya juga sudah pudar. Benar-benar tua, mewakili pemiliknya juga yang sudah tua renta mendorong-dorong mobilnya sendiri. Terlihat beberapa meter jalan di depannya mobil ini kosong. Beberapa mobil dari jalur lain berusaha pindah jalur mengambil kesempatan ini. Tak tega juga aku melihat bapak tua ini.

Aku geleng-geleng kepala sambil menoleh ke mobil yang berisik klakson tadi. Kulihat wanita muda berpakaian rapi dengan blazer, stylenya wanita karier sekali. Cantik sih. Aku jadi ingat tim konsultan yang tadi presentasi di kantor, yang setiap presentasi pasti mengajak satu atau dua wanita dengan dandanan seperti wanita ini, walaupun mereka cuma duduk saja.

Memang sudah mati ya hati nurani orang-orang di tengan macet seperti ini ada orang yang kena musibah mobil mogok tak ada satupun pengemudi yang keluar dari mobilnya. Aku kesal juga dengan wanita yang berisik klakson yang sekarang aku belakangi. Mungkin aku maklumi dia wanita tidak mau bantu dorong-dorong mobil. Tapi ya tak usah klason-klakson seolah tak sabar. Namanya orang kena musibah mogok, pasti jalannya pelan, jadi ya paling tidak toleransi lah.

Dengan sigap aku langsung bantu bapak itu mendorong mobilnya. “Ayo pak saya bantu dorong.”. Bapak tua itu menoleh ke arahku senyum. Perlahan mobil mogok itu menepi ke pinggir jalan memberikan jalan buat mobil yang dari tadi berisik klakson.

“Makasih, Dek”, ujar Bapak tua itu.

“Ya, tak apa-apa pak, berpahala bantu orang yang kesusahan”, jawabku singkat.

“Malam-malam mau kemana pak?”, Aku bertanya sekedar basa-basi.

Belum sempat bapak tadi menjawab, kaca mobil yang dilapisi kaca film terbuka. Terlihat dua wanita umur belasan dengan pakaian you can see dan dandanan yang tak seadanya. Satu di belakang satu memegang kemudi. “Gimana Nih, Om?”, mereka bertanya ke si bapak tadi dengan nada agak manja.

“Bapak nganter ponakan abis makan malam”, sang bapak menjawab pertanyaanku tadi.

“Ooo”, responku singkat.

“Mungkinkah mereka keponakan si Bapak?”, pikirku dalam hati. Tidak mungkin ah. Aku berpikir jauh kemana-mana dan tak dapat kuhentikan. Terbersit sesal juga menolong si Bapak tadi. Lebih baik tadi tak usah aku bantu si Bapak, biar dia rasakan dorong-dorong mobil biar capek.

“Waduh”, sambil meraba kantong celana aku ingat meninggalkan mobil tak terkunci dengan handphone di dalam mobil. Riskan sekali pikirku.

Langsung aku bergegas kembali ke mobil. Dan syukur semua masih utuh. Handphone ku masih ada tergeletak di sisi tuas transmisi dengan lampu LED merahnya berkedip-kedip. Ternyata ada sms masuk.

“Pak Sholeh, Yang bapak minta sudah kami kirim cash, mohon dibantu agar kami bisa menang tender. Terima Kasih”, begitu bunyi smsnya

“Alhamdulillah”, ucapku.

Ada Anak Bertanya pada Bapaknya (2)

September 5, 2008 Leave a comment

cerita sebelumnya

Anak: “Bapak, tadarus apa gunanya?”

Bapak: “Tadarus itu artinya memahami kitab suci kita, yaitu Al Quran. Dengan memahaminya, Insya Allah kita sudah dekat untuk mengamalkannya”

Anak: “Ooo, berarti kita mesti memahami, tidak sekedar membaca. Tapi kan Al Quran kan bahasa Arab, berarti harus baca terjemahannya untuk memahaminya ya, Pak?”

Bapak: “Ya iya lah…. Masa’ Ya iya dong…..”