Archive

Archive for the ‘Perjalanan’ Category

Selamat Datang Di Ambon

April 14, 2010 7 comments

Hari Pertama.

Hari ini saya tiba di Ambon dengan salamat sentosa tanpa kurang satu apapun kecuali 2 jam yang hilang karena perbedaan waktu antara Jakarta dan Ambon. Pertama kali menginjakkan kaki di tanah Ambon yang terasa  panas. Emang bener kata temen-temen blogger yang tulisannya saya baca sebelum berangkat ke sini.

Dari Bandara patimura untuk menghemat waktu, dan juga agar di sisa waktu 4 hari nanti bisa jalan-jalan sebentar ke pantai Natsepa, akhirnya saya menuju Dinas Pendidikan Provinsi Ambon untuk ke Balai Tekkom, untuk menunaikan tugas. Dari bandara pattimura menuju kota Ambon ada dua jenis Taksi, yaitu taksi resmi yang mobilnya sedan, dan taksi plat hitam yang mobilnya avanza. Lebih baik pilih yang avanza saja karena kalau ditanya harganya ya sama saja Rp. 150.000 (tanpa argo) dari bandara sampai Kota Ambon, kalau avanza kan bisa muat lebih banyak orang. Perjalanan dari Bandara ke Kota Ambon kurang lebih 1 jam. FYI bandara Pattimura tidak ada di kota Ambon tapi di kabupatennya. Ya kurang lebih sama pula dengan Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, yang sebenarnya di Banten.

Di Dinas Pendidikan Provinsi kami langsung saja wawancara kurang lebih satu jam kemudian bertolak ke hotel. Karena kita cari aman maka kita menginap di hotel Amans. Hehe.. Amans itu singkatan dari Ambon manise 😛 . Jangan salah di Ambon ada hotel yang namanya Ambon Manise (Amans) dan ada juga hotel Manise Ambon (tapi jangan disingkat).

Pilihan transportasi di sini ada angkot, ojek, atau sewa mobil. Ojek sekali antar dalam kota ambon Rp. 5000. Kalau sewa mobil sehari Rp. 500.000 (sangat unrecommended, kecuali kantong tebal). Kalau angkot belum coba, dan sepertinya tidak akan mencoba, karena lebih baik ojek menurut saya.

Sekarang saya lagi nulis catatan ini sambil menikmati internet gratis di Amans. Oiya hotel yang ada internet gratis cuma Amans dan Manise Hotel. Tetapi Manise hotel lagi renovasi jadi internetnya lagi diputus.

To Be Continued….

Kota Kecil itu bernama Tegal

April 16, 2009 12 comments

Minggu lalu saya memperoleh sebuah kesempatan sangat langka. Kesempatan yang dalam seluruh rangkaian hidup saya, yaa baru kali ini saya memperolehnya. Kesempatan itu adalah kesempatan mengunjungi sebuah kota yang dinamakan Tegal. Maklum lebih dari setengah umur saya ini saya habiskan di kota besar yang bernama Jakarta yang penuh dengan hiruk pikuk kegiatan yang tiada henti sejak matahari terbit hingga terbit lagi. Lantas perjalanan ke kota kecil ini pun bak setetes embun di tengah gurun gersang, sangat menyegarkan dan menyenangkan.

Tegal paling terkenal dengan warung makannya yang tersebar seantero Indonesia, cukup satu kata “warteg”, pikiran sebagian besar orang pasti langsung tertuju pada rumah makan khas ala kota kecil ini. Maka, tidak salah kalau perjalanan ini menjadi sebuah wisata kuliner untuk memburu hidangan-hidangan asli kota Tegal. Selama berada di kota kecil ini terhitung terdapat tiga hidangan yang berkesan di lidah ini sampai turun ke hati. Hidangan itu adalah sauto tauco, nasi lengko, sate kambing muda dan sop kambing khas Tegal.

Kalau ingin menikmati sauto tauco dan nasi lengko yang paling enak, berdasarkan info dari teman saya yang buener2 asli orang tegal — dan saya pun sudah membuktikan — maka datanglah ke alun-alun kota tegal. Kemudian cari tempat makan yang namanya MORO TRESNO. Aroma khas tauco[1] nya benar-benar membangkitkan selera makan. Dan satu lagi yang kuliner yang tidak kalah khas adalah sate kambing muda Tegal beserta sop kambingnya. Pokoknya rasanya mak nyus tiada duanya. Apalagi ditambah, semua makanan dibayari oleh sahabatku yang dari Tegal itu, wah mak nyus nya jadi bertambah sepuluh kali lipat enaknya.

Sauto Tauco

Sauto Tauco

Nasi Lengko

Nasi Lengko

Sate Kambing Muda nan menggoda

Sate Kambing Muda nan menggoda

Sop Kambing bikin semriwing

Sop Kambing bikin semriwing

Nah… satu lagi makanan wisata kuliner yang patut untuk dicoba adalah warung lesehan yang dibuka setiap malam. Jangan salah warung lesehan bukan hanya ada di Malioboro Jogja saja, di Tegal juga ada, dan tentunya dengan ciri khas hidangan yang berbeda. Seperti layaknya warteg, warung lesehan Tegal ini juga menawarkan beragam pilihan makanan yang dapat dipilih semau kita. Nah kalau sudah malam dan dingin seperti saat itu minuman paling enak adalah teh poci hangat. Hmmm…. keharuman teh bercampur sensasi tanah liat membuat cita rasa teh menjadi semakin sensasional.

Makan Lesehan

Makan Lesehan

Kepada saudaraku Akhda Afif Rasyidi dan keluarga, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya telah membantu mewujudkan angan saya dan rekan-rekan untuk mewujudkan perjalanan ini. Untuk rekan-rekan, Mahen, Smell dan RAP, what’s next destination?

[1] Tauco adalah produk sampingan dari proses pembuatan tempe. Untuk beberapa orang aroma yang dihasilkan tauco dapat meningkatkan selera makan.

Belajar Mencintai

April 1, 2009 Leave a comment

Dua minggu yang lalu saya dan bersama teman-teman saya menyelenggarakan sebuah perjalanan yang sangat mendebarkan. Bagaimana tidak, saya dan teman-teman saya, plus ayah dari seorang teman saya dan pemandu tentunya mengarungi laut jawa menuju pulau yang bernama Onrust yang terletak di kepulauan seribu. Sementara itu, perahu yang kami gunakan untuk menyebrangi laut jawa adalah perahu nelayan yang jelas-jelas pasti tidak memenuhi standar pelayaran, tidak pakai pelampung, perkiraan quota maksimal tidak dibatasi, tidak ada motor cadangan dan ditambah lagi saya yang tidak bisa berenang. Maka lengkaplah sudah perjalanan EXTREME kami menuju pulau tak berpenghuni itu.

Namun betapapun extremenya perjalanan ini, sama sekali tidak tampak wajah-wajah cemas kami selama perjalanan. Yang ada hanya wajah-wajah gembira, sumringah dan bahagia walaupun saat itu jarak kami dari teluk jakarta masih puluhan kilometer jauhnya. Sepertinya hati-hati kami sudah dibalut oleh rasa harap, hasrat bercampur penasaran menantikan keindahan macam apa yang akan tersuguhkan dihadapan kami di ujung perjalanan nanti, sampai-sampai  kami tega-tega menjadikan nyawa kami lah sebagai taruhannya.

Dan benar saja, setelah sampai di ujung perjalanan semua keringat, dahaga dan pertaruhan nyawa kami terbayar dengan keindahan pulau Onrust dan pulau-pulau di sekitarnya. Apalagi buat saya yang untuk pertama kalinya melakukan perjalanan EXTREME ini. Pantainya, ombaknya, percikan airnya, sunsetnya, satu per satu memanjakan panca indera kami dengan keindahan, membuat kerinduan kami tak terbendung saat meninggalkan keindahan pulau itu. Mulai saat itu aku pun jatuh cinta dengan panorama dan suasana pantai dan laut.

Pucuk di cinta ulam pun tiba. Tepat satu minggu setelah perjalanan itu, saya bersama beberapa rekan-rekan saya yang berbeda tentunya, menyelenggarakan sebuah perjalanan menuju pantai. Kali ini keindahan pantai selatan lah yang menjadi target buruan. Pelabuhan Ratu. Medadak hatiku terisi kembali dengan hasrat-hasrat cinta bercampur rindu terhadap panorama dan keindahan suasana pantai dan laut. Yah… memang begitulah yang namanya cinta.

Menjelang tiba di Pelabuhan Ratu, memori kenangan tentang keindahan pantai, sunset, laut dan deburan ombak kembali memenuhi relung-relung hatiku. Dan benar saja, setiba di sana suasana keindahan suasana pantai dan laut yang pernah kunikmati kembali aku rasakan. Oooo….. Kali ini aku benar-benar cinta.

Hari kedua, di tengah segelintir acara lainnya, rasa jemu dengan suasana pantai dan laut mulai menggelayut di dalam hati. Deburan ombak sudah terasa biasa, indah pantai terasa tak seindah biasa, sunset pun semakin terasa tak berharga. Demikian pun pada hari ketiga, rasa bosan dan biasa semakin luar biasa, ingin rasanya segera mengucapkan sampai jumpa. Apakah ini akhir dari cinta?

Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, akhirnya tiba juga saat perpisahan dengan suasana pantai dan laut yang dinanti-nanti.  Namun begitu, rasa rindu dan gundah gulana tetap saja ada. Perasaan harap berjumpa lagi tiba-tiba datang begitu saja. Ternyata, aku masih cinta…..

Biarlah jauhnya jarak pantai dan laut semakin memupuk rasa rindu dan rasa cintaku padanya.