Archive

Archive for the ‘Renungan’ Category

(Dis)Social Media

February 23, 2016 1 comment

Hidup zaman sekarang kita sangat dimanjakan dengan berbagai kemudahan. Semuanya bisa dilakukan secara “instant” dan “online”. Dua istilah instant dan online itu yang merupakan simbol kemudahan dalam melakukan apapun.

Semua aktivitas-aktivitas sosial sehari-hari kita perlahan-lahan seolah-olah bisa digantikan dengan aplikasi aplikasi di ponsel pintar di saku kita masing-masing yang berlabel social. Mau belanja banyak toko-toko online semacam tokopedia, lazada elevenia dkk. Mau kumpul-kumpul sama teman bisa pake whatsapp group, skype, line, telegram dll. Mau berteman/silaturahim ada facebook, twitter dan situs-situs pertemanan lainnya. Bahkan sampai ada yang ekstrimnya mau berguru buka wikipedia. OMG

Konon katanya manusia diciptakan bersuku suku dan berbangsa-bangsa buat saling mengenal kan. Pendapat pribadi, sepertinya belum pernah ada ceritanya tercipta keakraban hanya dengan melalui media-media tersebut. Saya punya beberapa group bbm dan whatsapp yang mewakili alumni sekolah dari smp sampai kuliah, juga facebook dengan ratusan pertemanan. Seberapa pun intensif nya komunikasi melalui media tersebut, tidak pernah melebihi keakraban kawan-kawan yang sering saya temui. Kawan kantor misalnya, meskipun sebenarnya saya baru kenal mereka setahun terakhir dan kawan kawan alumni sudah 10 tahun dengan diantaranya 4 tahun bersama.

Ternyata rasa sosial kita telah dikelabui oleh media-media tersebut. Kita hanya merasa sudah bersilaturahim padahal belum sehingga merasa tidak perlu lagi bertatap muka. Sama seperti makan mie instan rasa ayam bawang, kita dimanipulasi seolah kita merasa makan ayam, padahal yang kita makan cuma tepung dan MSG. Akankah kita sudah merasa puas menikmati mie instan rasa ayam ketimbang benar-benar menikmati ayam sesungguhnya?

~luapan hati penulis saat mengingat kawan-kawan lama yang enggan kumpul dan merasa cukup berkomunikasi lewat media sosial

Advertisements
Categories: curhat, Opini Gue, Renungan Tags: ,

Jiwa dan Tubuh ku

December 11, 2012 3 comments

Wahai tubuhku,

Jadilah lebih kuat dan lebih tangguh.

Dengan memaksamu bekerja lebih keras dari biasanya,

bukan maksudku menyakitimu,

bukan maksudku mencederaimu,

tapi justru karena aku cinta padamu.

Aku ingin kita berdua menjadi pasangan yang memberi warna pada dunia.

Semua upaya yang kita lakukan bersama,

adalah semata-mata demi cinta kita kepadaNya,

Tuhan yang telah menjodohkan kita bersatu,

bersatu menjadi manusia yang utuh.

Dan kelak jika Dia mempertanyakan,

kita bisa menjawab apa yang telah kita bersama kerjakan.

Ditulis pagi hari 11 Desember 2012 setelah semalam begadang.

Categories: Islam, Puisi, Renungan Tags: , , , ,

Bukan Sekedar Cinta

November 14, 2012 3 comments

Ini Bukan Cerpen, ini kisah nyata..

Semua memori itu kembali. Memori saat ibu meregang nyawa saat aku masih SD umur 9 tahun. Sangat-sangat bodoh untuk mengerti. Tak ada tangis dan tak ada air mata. Ibuku meninggal aku masih saja suka bengal.

Semua memori itu kembali. Saat makan masakan terlezat buatanmu. Kuingat itu ikan dengan campuran sambal. Aku juga tersadar mungkin itu aku suka makan ikan. Dan ikan jadi inspirasi belakangan ini.

Semua memori itu kembali. Saat ngambek males sekolah. Walau sabetan lidimu terasa pedih di kulit, aku tahu itu ungkapan cintamu. Sekarang anakmu sudah sarjana Bu. Sudah S2. Terima kasih atas limpahan cintamu.

Sekarang, akan aku batu pusaramu sebagai ungkapan cintaku padamu. Dan cintaku padamu adalah karena cintaku pada Tuhan. Kini kau akan hidup selamanya di hatiku.

Terima kasih Hasna Novia, kisahmu tentang nenekmu sudah mengembalikan memori itu.

Categories: curhat, Renungan Tags: , , ,

Percakapan dengan Tuhan

November 6, 2012 1 comment

Hamba: Ya Tuhan, berikanlah aku pasangan sejati yang baik dan mencintaiku, aku akan mencintainya, seumur hidupku

Tuhan: Aku sudah memberikanmu orang tua kau sia-siakan, Aku memberikanmu kakak dan adik kau telantarkan, Aku memberikan kamu sahabat dan teman dekat, kamu abaikan. Bagaimana aku bisa mempercayakanmu lagi seorang pasangan. Cintailah mereka dahulu baru akan Kuberikan pasangan yang sejati.

Categories: Renungan, Tulis Aja Tags: ,

Sakit Jiwa

September 6, 2012 1 comment

“Hoaaahmm, Jam segini masih macet aja”, gumamku sambil menutup mulutku yang menguap tak tertahan. Kulihat jam tangan menunjukkan hampir pukul 10. Bingung juga makin hari macet makin parah saja di ibu kota ini. Mobil di depanku bergerak centi demi centi. Akupun menguntit dari belakang pelan-pelan. Sejenak muncul motor dari kanan maupun kiri berusaha selap-selip berusaha lolos dari jeratan macet yang mematikan ini.

Pikiranku mulai berandai-andai. Seandainya dari tadi saja aku pulang, toh macetnya juga sama, ga perlu lah nongkrong lama-lama di kantor. Toh kantorku belum termasuk yang dapat remunerasi. Kerja sedikit atau banyak juga sama saja gajinya, yang penting absen jalan terus. Seketika hati kecilku menolak itu semua dan berargumen seolah ada debat di dalam hatiku.

“Bekerja itu bukan demi uang bung, tapi mengabdi pada negara”, begitu bunyi bisikan kata hati kecilku yang nasionalis.

“Bukan, bekerja itu harus lillahi ta’ala, Akhii”, ujar sisi hati kecilku yang lain yang agak religius.

“Halaah, Realistis aja bro, akui aja lo perlu duit, lo kerja itu buat hidupin anak istri lo dan sedikit senang-senang, karir nomor 100 lah, pikir aja emang nyambung lo lulusan teknik sipil tapi kerja jadi panitia pengadaan di kantor pemerintahan”, hati kecilku yang ini agaknya sedikit cerewet tapi logis juga sih.

Mendadak ada motor yang menyenggol kaca spion mobilku dengan keras, “Heii!!”, aku teriak, sambil dengan reflek ku buka kaca pintu.

“Lihat-lihat dong pake mata”, serapahku.

Motor tadi tetap berlalu sambil sedikit menoleh dan sedikit lambaian tangan. Tidak ikhlas sepertinya dia minta maaf, seolah hal yang biasa merusak barang yang bukan miliknya. Kulihat kaca spionku retak. Terbayang seberapa kencang tadi dia melaju di tengah macet ini.

“Brengsek!!”, gumamku dalam hati. Geregetan rasanya dan tanpa sadar aku mengepalkan tangan kanan dan memukul klakson dengan keras sampai aku tersadar membuat polusi suara yang memekakkan telinga.

Tapi kok tiba-tiba mobil di depanku ikut-ikutan klakson-klakson keras, berulang-ulang lagi. Di belakang mobilnya ada tulisan, “We are the Pink Jacket”, begitu bunyinya.

“Wah satu almamater nih”, pikirku. Kalau bukan seniorku pasti juniorku. Eh atau jangan-jangan temen satu angkatan.

“Ada apa gerangan ini?”, hatiku bertanya-tanya, “Ada apa sih?”.

Karena sudah geregetan dan kaku juga pinggang gara-gara duduk udah hampir satu jam di mobil, aku keluar saja dari mobil mencari tahu apa yang terjadi. Bentuk respekku juga ke sesama teman seperguruan. Untung saja ambeienku ga kambuh kelamaan duduk.

Kulihat di depan mobil yang berisik klakson ada mobil tua mungkin mobil tahun 80an yang mogok. Cat coklatnya juga sudah pudar. Benar-benar tua, mewakili pemiliknya juga yang sudah tua renta mendorong-dorong mobilnya sendiri. Terlihat beberapa meter jalan di depannya mobil ini kosong. Beberapa mobil dari jalur lain berusaha pindah jalur mengambil kesempatan ini. Tak tega juga aku melihat bapak tua ini.

Aku geleng-geleng kepala sambil menoleh ke mobil yang berisik klakson tadi. Kulihat wanita muda berpakaian rapi dengan blazer, stylenya wanita karier sekali. Cantik sih. Aku jadi ingat tim konsultan yang tadi presentasi di kantor, yang setiap presentasi pasti mengajak satu atau dua wanita dengan dandanan seperti wanita ini, walaupun mereka cuma duduk saja.

Memang sudah mati ya hati nurani orang-orang di tengan macet seperti ini ada orang yang kena musibah mobil mogok tak ada satupun pengemudi yang keluar dari mobilnya. Aku kesal juga dengan wanita yang berisik klakson yang sekarang aku belakangi. Mungkin aku maklumi dia wanita tidak mau bantu dorong-dorong mobil. Tapi ya tak usah klason-klakson seolah tak sabar. Namanya orang kena musibah mogok, pasti jalannya pelan, jadi ya paling tidak toleransi lah.

Dengan sigap aku langsung bantu bapak itu mendorong mobilnya. “Ayo pak saya bantu dorong.”. Bapak tua itu menoleh ke arahku senyum. Perlahan mobil mogok itu menepi ke pinggir jalan memberikan jalan buat mobil yang dari tadi berisik klakson.

“Makasih, Dek”, ujar Bapak tua itu.

“Ya, tak apa-apa pak, berpahala bantu orang yang kesusahan”, jawabku singkat.

“Malam-malam mau kemana pak?”, Aku bertanya sekedar basa-basi.

Belum sempat bapak tadi menjawab, kaca mobil yang dilapisi kaca film terbuka. Terlihat dua wanita umur belasan dengan pakaian you can see dan dandanan yang tak seadanya. Satu di belakang satu memegang kemudi. “Gimana Nih, Om?”, mereka bertanya ke si bapak tadi dengan nada agak manja.

“Bapak nganter ponakan abis makan malam”, sang bapak menjawab pertanyaanku tadi.

“Ooo”, responku singkat.

“Mungkinkah mereka keponakan si Bapak?”, pikirku dalam hati. Tidak mungkin ah. Aku berpikir jauh kemana-mana dan tak dapat kuhentikan. Terbersit sesal juga menolong si Bapak tadi. Lebih baik tadi tak usah aku bantu si Bapak, biar dia rasakan dorong-dorong mobil biar capek.

“Waduh”, sambil meraba kantong celana aku ingat meninggalkan mobil tak terkunci dengan handphone di dalam mobil. Riskan sekali pikirku.

Langsung aku bergegas kembali ke mobil. Dan syukur semua masih utuh. Handphone ku masih ada tergeletak di sisi tuas transmisi dengan lampu LED merahnya berkedip-kedip. Ternyata ada sms masuk.

“Pak Sholeh, Yang bapak minta sudah kami kirim cash, mohon dibantu agar kami bisa menang tender. Terima Kasih”, begitu bunyi smsnya

“Alhamdulillah”, ucapku.

Semangat Kerja

August 27, 2012 Leave a comment

uang itu laksana narkoba
sekali mendapatakannya
ingin terus mendapatkannya
ingin lebih dari sebelumnya

jika kita bekerja
jadikan uang tujuan utama
semakin giat kita bekerja
semakin sakau lah kita


ditulis 24 Agustus 2012

Tobat Cinta

August 26, 2012 1 comment

Betapa tidak ku semakin mencintaimu
Kau tahu seringku khilaf mendua
Kau tahu seringku khilaf lupakanmu
Tapi pintu maafmu selalu terbuka
Tak sedikitpun kau kurangi cintamu
Cintamu sungguh sempurna


ditulis 26 Agustus 2012

Categories: Islam, Puisi, Renungan Tags: , , , ,