Percakapan dengan Tuhan

November 6, 2012 1 comment

Hamba: Ya Tuhan, berikanlah aku pasangan sejati yang baik dan mencintaiku, aku akan mencintainya, seumur hidupku

Tuhan: Aku sudah memberikanmu orang tua kau sia-siakan, Aku memberikanmu kakak dan adik kau telantarkan, Aku memberikan kamu sahabat dan teman dekat, kamu abaikan. Bagaimana aku bisa mempercayakanmu lagi seorang pasangan. Cintailah mereka dahulu baru akan Kuberikan pasangan yang sejati.

Categories: Renungan, Tulis Aja Tags: ,

Dongeng Kacang

November 3, 2012 3 comments

Konon makanan-makanan kecil yang biasa kita makan seperti kacang sukro, keripik pilus dan cemilan-cemilan lain sebenarnya dapat bicara dalam bahasa mereka yang tidak dapat manusia dengar secara kasat. Di dalam bungkus yang pengap dan tidak ada udara dan cahaya masuk mereka menanti dengan penuh dengan kesabaran. Mereka menunggu seorang anak manusia yang ditakdirkan untuk meretas bungkus yang menyelimuti mereka selama berhari-hari dan berminggu-minggu.

Karena telah berhari dan berminggu mereka bersama, maka muncul rasa cinta, kasih sayang dan persamaan cita-cita di antara mereka. Kemudian mereka berikrar satu sama lain untuk setia dan selalu bersama walau apapun yang terjadi. Mereka juga berjanji bersama.

“Kami berjanji demi Tuhan yang telah mempertemukan kami”, ikrar salah satu butiran kacang yang diikuti oleh kacang-kacang yang lain dengan lantang seperti pembacaan pancasila setiap upacara hari senin.

“Barangsiapa, manusia yang membebaskan kami, maka kami berjanji untuk tetap bersama-sama berkumpul di dalam sistem pencernaan manusia itu”, begitulah ikrar mereka bersama-sama. Seketika suasana menjadi haru. Setiap kacang saling berpelukan satu sama lain dan mengucapkan kata-kata penuh kasih sayang.

“Kalian adalah segalanya bagiku kawan, kita akan bersama selamanya”, kata salah satu butiran kacang.

“I love you all guys, we’ll be together forever”, ternyata ada butiran kacang impor dari Australia, yang tersesat.

Ada pula yang mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya dengan menyanyi. “Aku tanpamuuuu… butiran kacang”, kurang lebih begitu bunyi potongan liriknya.

Sejak saat itu kacang-kacang itu sudah menjadi seperti saudara walaupun asal mereka pun berbeda-beda. Konon apabila ada manusia yang memakan satu butir kacang dari kelompok mereka, butiran-butiran kacang yang lain akan merasa iri dan terus memanggil-manggil manusia tadi untuk memakan butiran yang lain agar mereka tetap selalu bersama. Itulah penyebab ketika manusia mulai untuk ngemil akan sulit untuk berhenti sampai cemilan itu habis.

Ketika “I love you” sudah tak romantis lagi

October 24, 2012 11 comments

Sudah lama sekali sejak mulai masuk kuliah 4 tahun lalu nyambi kerja setahun kemudian aku melupakan hobby aku menulis diary. Namun kali ini aku sudah tak tahan untuk menumpahkan perasaan aku ke diary aku tercinta.

Dear Diary, hari ini Sinta bete deh. Udah lama nih Sinta ga malem mingguan. Sejak 3 tahun terakhir kali shinta malem mingguan sama pacar, sampai sekarang kok belum ada ya cowo yang menyatakan cinta ke aku lagi. Eh, bukan cowo deh, aku ingin seorang lelaki, bukan cowo lagi. Aku mau berhubungan serius.

Sebenarnya ada teman kerja aku di kantor yang menurutku menarik hatiku. Orangnya memang tidak seganteng pacar-pacarku dahulu tapi dia pandai menyesuaikan penampilan dengan waktu, tempat dan tema. Cara berpakaian, potongan rambut semua menjadi selalu terlihat manis dan memancarkan kharisma tersendiri. Namanya Galih. Sering aku mengintipnya dari balik cubicle tempat kerja kami yang berseberangan. Sebenarnya manis juga wajahnya semakin sering aku lihat. Dari sisi agama Galih juga baik, setiap masuk waktu ibadah dia selalu melaksanakannya di awal waktu. Cukup meyakinkan aku lah untuk menjadi imamku nanti.

Tapi sayang, Diary. Mas Galih itu orangnya kurang romantis. Udah hampir tiga kali aku ngerayain ulang tahun di kantor, masa hadiahnya aneh-aneh. Waktu ulang tahun aku yang pertama, masa aku dikasih hadiah kalkulator, bukannya bunga atau boneka angry bird kek, biar agak romantis. Ya walaupun akhirnya kalkulator itu penting banget buat aku ngerjain UAS. Yang aku bingung, Diary, kok Mas Galih bisa tau ya aku ga punya kalkulator buat ngerjain UAS???

Terus waktu ulang tahun aku yang ke-21 tahun lalu, aku berharap kali ini mas Galih memberi hadiah boneka. Aku lagi pengen banget boneka yang bentuk emoticon senyum.. lucuuu deh.. Tapi lagi-lagi sayangnya mas Galih malah kasih aku hadiah laser pointer yang buat presentasi. Ih, sama sekali gak romantis banget kaan.. Diary Tapi alhamdulillah juga hadiah dari mas Galih bermanfaat juga. Kebetulan pas banget minggu depannya aku sidang skripsi aku. Laser pointer itu berguna banget buat aku presentasi skripsi aku ke penguji.

Minggu kemarin sebenernya aku seneng banget bisa pulang bareng sama mas Galih. Jadi aku bisa ngobrol berdua deh sama dia. Sejak saat itu aku jadi lebih kenal sama dia, Diary. Seperti ini nih percakapan kita:

“Mas Galih, kapan mau sebar undangan?”, setelah ngobrol panjang lalalalala, aku bertanya hal konyol itu.

“Ya, inginnya secepatnya, Sin”, jawabnya dengan sangat singkat. Emang dasar ga romantis.

“Terus udah ada calonnya, kok ga pernah diajak ke kantor sih”, aku coba cari-cari tahu lagi

“Belum,..”, kali ini dia bercerita agak panjang sambil mulai menatapku. “Susah sin. Aku paling ga bisa mengatakan cinta kepada wanita, menurutku kurang romantis. Kalau aku cinta ya akan aku tunjukkan dengan sikap dan perilaku agar dia membaca dan memahami sendiri.”

“Lho, kenapa?”, aku bertanya bingung, sambil berfikir pantas saja dia masih single.

“Menurutku, jodoh adalah ketika pasangan tetap dapat saling mengerti walaupun tanpa saling berkata cinta.”, dia menjelaskan panjang lebar membuat aku bingung, “Kalau hanya kata-kata cinta, semua orang bisa berkata.”

“Yang tentang jodoh itu bener mas, tapi itu untuk dibuktikan nanti setelah menyatakan cinta. Menurutku, mengatakan cinta penting. Itu sebagai ikrar”, aku menjelaskan, “Aku pribadi sih, sebagai wanita merasa perlu dan mas Galih, sebagai laki-laki harus berani berikrar”.

“Hmm.. Begitu ya..”, dan itulah kata-kata terakhirnya sebelum kata-kata sampai jumpa, dan kita berpisah ke rumah masing-masing.

Tepat besok adalah hari ulang tahunku. Nggak tau kenapa deh, aku jadi penasaran mas Galih mau kasih hadiah apa kali ini. Bye Diary ^__^

Sejenak aku baca kembali apa yang aku tulis di dalam diary. Dari tulisan yang aku baca kembali muncul sebuah kesimpulan yang baru aku sadari setelah selama ini.

Blackberry aku berbunyi. Sepertinya ada pesan BBM masuk.

Mendadak aku jadi senyum-senyum setelah membaca nama yang muncul di BBM aku. Galih Wicaksono.

“Sin, aku boleh ke rumahmu besok? Ada yang ingin aku katakan”, Senyumku langsung terkembang membaca pesan itu.

“Aku sudah tahu kok apa yang Mas mau bilang. :)”, Balasku melalu BBM.

“:)”, Begitu balasan terakhir darinya. Ternyata diam-diam kamu romantis mas.

Categories: Cerita Fiksi

Sakit Jiwa

September 6, 2012 1 comment

“Hoaaahmm, Jam segini masih macet aja”, gumamku sambil menutup mulutku yang menguap tak tertahan. Kulihat jam tangan menunjukkan hampir pukul 10. Bingung juga makin hari macet makin parah saja di ibu kota ini. Mobil di depanku bergerak centi demi centi. Akupun menguntit dari belakang pelan-pelan. Sejenak muncul motor dari kanan maupun kiri berusaha selap-selip berusaha lolos dari jeratan macet yang mematikan ini.

Pikiranku mulai berandai-andai. Seandainya dari tadi saja aku pulang, toh macetnya juga sama, ga perlu lah nongkrong lama-lama di kantor. Toh kantorku belum termasuk yang dapat remunerasi. Kerja sedikit atau banyak juga sama saja gajinya, yang penting absen jalan terus. Seketika hati kecilku menolak itu semua dan berargumen seolah ada debat di dalam hatiku.

“Bekerja itu bukan demi uang bung, tapi mengabdi pada negara”, begitu bunyi bisikan kata hati kecilku yang nasionalis.

“Bukan, bekerja itu harus lillahi ta’ala, Akhii”, ujar sisi hati kecilku yang lain yang agak religius.

“Halaah, Realistis aja bro, akui aja lo perlu duit, lo kerja itu buat hidupin anak istri lo dan sedikit senang-senang, karir nomor 100 lah, pikir aja emang nyambung lo lulusan teknik sipil tapi kerja jadi panitia pengadaan di kantor pemerintahan”, hati kecilku yang ini agaknya sedikit cerewet tapi logis juga sih.

Mendadak ada motor yang menyenggol kaca spion mobilku dengan keras, “Heii!!”, aku teriak, sambil dengan reflek ku buka kaca pintu.

“Lihat-lihat dong pake mata”, serapahku.

Motor tadi tetap berlalu sambil sedikit menoleh dan sedikit lambaian tangan. Tidak ikhlas sepertinya dia minta maaf, seolah hal yang biasa merusak barang yang bukan miliknya. Kulihat kaca spionku retak. Terbayang seberapa kencang tadi dia melaju di tengah macet ini.

“Brengsek!!”, gumamku dalam hati. Geregetan rasanya dan tanpa sadar aku mengepalkan tangan kanan dan memukul klakson dengan keras sampai aku tersadar membuat polusi suara yang memekakkan telinga.

Tapi kok tiba-tiba mobil di depanku ikut-ikutan klakson-klakson keras, berulang-ulang lagi. Di belakang mobilnya ada tulisan, “We are the Pink Jacket”, begitu bunyinya.

“Wah satu almamater nih”, pikirku. Kalau bukan seniorku pasti juniorku. Eh atau jangan-jangan temen satu angkatan.

“Ada apa gerangan ini?”, hatiku bertanya-tanya, “Ada apa sih?”.

Karena sudah geregetan dan kaku juga pinggang gara-gara duduk udah hampir satu jam di mobil, aku keluar saja dari mobil mencari tahu apa yang terjadi. Bentuk respekku juga ke sesama teman seperguruan. Untung saja ambeienku ga kambuh kelamaan duduk.

Kulihat di depan mobil yang berisik klakson ada mobil tua mungkin mobil tahun 80an yang mogok. Cat coklatnya juga sudah pudar. Benar-benar tua, mewakili pemiliknya juga yang sudah tua renta mendorong-dorong mobilnya sendiri. Terlihat beberapa meter jalan di depannya mobil ini kosong. Beberapa mobil dari jalur lain berusaha pindah jalur mengambil kesempatan ini. Tak tega juga aku melihat bapak tua ini.

Aku geleng-geleng kepala sambil menoleh ke mobil yang berisik klakson tadi. Kulihat wanita muda berpakaian rapi dengan blazer, stylenya wanita karier sekali. Cantik sih. Aku jadi ingat tim konsultan yang tadi presentasi di kantor, yang setiap presentasi pasti mengajak satu atau dua wanita dengan dandanan seperti wanita ini, walaupun mereka cuma duduk saja.

Memang sudah mati ya hati nurani orang-orang di tengan macet seperti ini ada orang yang kena musibah mobil mogok tak ada satupun pengemudi yang keluar dari mobilnya. Aku kesal juga dengan wanita yang berisik klakson yang sekarang aku belakangi. Mungkin aku maklumi dia wanita tidak mau bantu dorong-dorong mobil. Tapi ya tak usah klason-klakson seolah tak sabar. Namanya orang kena musibah mogok, pasti jalannya pelan, jadi ya paling tidak toleransi lah.

Dengan sigap aku langsung bantu bapak itu mendorong mobilnya. “Ayo pak saya bantu dorong.”. Bapak tua itu menoleh ke arahku senyum. Perlahan mobil mogok itu menepi ke pinggir jalan memberikan jalan buat mobil yang dari tadi berisik klakson.

“Makasih, Dek”, ujar Bapak tua itu.

“Ya, tak apa-apa pak, berpahala bantu orang yang kesusahan”, jawabku singkat.

“Malam-malam mau kemana pak?”, Aku bertanya sekedar basa-basi.

Belum sempat bapak tadi menjawab, kaca mobil yang dilapisi kaca film terbuka. Terlihat dua wanita umur belasan dengan pakaian you can see dan dandanan yang tak seadanya. Satu di belakang satu memegang kemudi. “Gimana Nih, Om?”, mereka bertanya ke si bapak tadi dengan nada agak manja.

“Bapak nganter ponakan abis makan malam”, sang bapak menjawab pertanyaanku tadi.

“Ooo”, responku singkat.

“Mungkinkah mereka keponakan si Bapak?”, pikirku dalam hati. Tidak mungkin ah. Aku berpikir jauh kemana-mana dan tak dapat kuhentikan. Terbersit sesal juga menolong si Bapak tadi. Lebih baik tadi tak usah aku bantu si Bapak, biar dia rasakan dorong-dorong mobil biar capek.

“Waduh”, sambil meraba kantong celana aku ingat meninggalkan mobil tak terkunci dengan handphone di dalam mobil. Riskan sekali pikirku.

Langsung aku bergegas kembali ke mobil. Dan syukur semua masih utuh. Handphone ku masih ada tergeletak di sisi tuas transmisi dengan lampu LED merahnya berkedip-kedip. Ternyata ada sms masuk.

“Pak Sholeh, Yang bapak minta sudah kami kirim cash, mohon dibantu agar kami bisa menang tender. Terima Kasih”, begitu bunyi smsnya

“Alhamdulillah”, ucapku.

Semangat Kerja

August 27, 2012 Leave a comment

uang itu laksana narkoba
sekali mendapatakannya
ingin terus mendapatkannya
ingin lebih dari sebelumnya

jika kita bekerja
jadikan uang tujuan utama
semakin giat kita bekerja
semakin sakau lah kita


ditulis 24 Agustus 2012

Tobat Cinta

August 26, 2012 1 comment

Betapa tidak ku semakin mencintaimu
Kau tahu seringku khilaf mendua
Kau tahu seringku khilaf lupakanmu
Tapi pintu maafmu selalu terbuka
Tak sedikitpun kau kurangi cintamu
Cintamu sungguh sempurna


ditulis 26 Agustus 2012

Categories: Islam, Puisi, Renungan Tags: , , , ,

Sebait Hikmah Puasa

August 24, 2012 2 comments

Hidup di dunia hanya satu hari
Dan Akhirat menanti di esok hari

Hidup di dunia bagaikan sedang puasa
Dengan agama sebagai aturannya
Dan Kiamat sebagai adzan Maghribnya

Hidup di dunia haruslah taat agama
Agar dapat surga sebagai hidangan berbuka


ditulis 24 Agustus 2012

Categories: Islam, Puisi, Renungan Tags: , ,