Archive

Posts Tagged ‘cerpen’

Perbedaan dan Cinta (2)

November 12, 2012 9 comments

Untuk yang belum baca bagian pertama baca dulu di sini

Ilustrasi diambil dari wearebulletproof.com

Tak terasa air mata mengalir dari matanya. Namun air di dalam akuarium membutnya tak terlihat sehingga seolah sang ikan tetap tampak tegar walau kini dia kehilangan separuh jiwanya. Ditengah kepanikan sang ikan sambil mondar-mandir di dalam akuarium, sang ikan teringat doanya pada Tuhan semalam.

“Yaaa, Tuhan, inikah jawaban darimu, jika memang ini kehendakmu, walaupun hatiku sedih aku akan berusaha mengikhlaskan, Tuhan”, begitu ucap sang ikan dalam hati sambil menengadahkan wajah ke permukaan air. Sekejap wajah kesedihan sang ikan berubah menjadi sumringah, semangat hidupnya kembali menggelora. Dipandangnya separuh jiwa yang selama ini menjadi kiblatnya sedang bertengger di bibir akuarium. Sosok yang selalu dia kagumi dan cintai dari jarak jauh kini dia lihat secara langsung dari jarak yang sangat dekat, kepakan sayapnya, bulu-bulunya yang berkilatan diterpa cahaya serta paruhnya yang basah saat minum yang selama ini dia kagumi dapat terlihat dengan sangat jelas.

“Maafkan aku Tuhan, tadi aku sudah berprasangka buruk padaMu, Terima kasih Tuhan atas jawabanmu untuk mendekatkan dia padaku”, ucapan syukur sang ikan dalam hati pada Tuhan atas karunia yang membuat hatinya berbunga-bunga.

Sang ikan pun berupaya menyampaikan perasaan yang ia pendam selama ini kepada sang burung. Mulutnya terus komat-kamit mengucapkan kata-kata cinta.

“Demi Tuhan, Aku mencintaimu,.. Aku mencintaimu… I LOVE YOU”, ucap sang ikan setengah teriak hingga permukaan air sedikit beriak karena teriakannya.

Namun apa daya sang burung tak memahami bahasa sang ikan. Sang burung pun hanya diam terpaku melihat perilaku sang ikan. Dia pun hanya meneruskan kegiatan minumnya. Setelah menyelesaikan minumnya sang burung terdiam sejenak memandang kepada sang ikan.

Saat inilah saat terindah yang pernah dirasakan sang ikan. Saat mata mereka saling berpandangan dan berpadu. Tapi sayangnya momen itu hanya sesaat, ada sesuatu yang lebih menarik hati sang burung, yaitu jendela yang terbuka luas. Kebebasan, itulah yang telah diimpi-impikan sang burung sejak lama. Sang burung pun menoleh ke arah jendela. Terbayang di mata sang burung dunia luar yang berkilauan bermandikan sinar mentari memanggil-manggilnya untuk menghampirinya.

Akhirnya momen perpisahan pun tiba, sang burung lebih memilih dunia bebas yang bermandikan sinar mentari ketimbang sang ikan yang sangat mencintainya dengan separuh jiwanya. Sang burung pun mengapakkan sayapnya perlahan dan terbang menuju dunia baru yang dicita-citakannya. Meninggalkan sang ikan sendiri dengan sehelai bulunya yang tak sengaja terjatuh saat minum tadi. Hanya sehelai bulu itulah yang menjadi kenangan bagi sang ikan.sang ikan pun menghampiri bulu tersebut. Tercium aroma bulu sang burung yang larut melalui insangnya.

Sepanjang hari dan malam Sang ikan hanya bisa mengulang-ulang kata “I LOVE YOU” seperti berdzikir sambil menitikkan air mata. Sepanjang hari sang ikan hanya meratapi kejadian tadi. Sampai tertidur pun sang ikan masih tetap berdzikir “I LOVE YOU”.

Keesokan pagi saat mentari mulai menembus dinding akuarium sang ikan masih terus berdzikir “I LOVE YOU” melalui mulutnya. Ia memandang ke permukaan air mencari helai bulu sang pujaan hati yang ditinggalkan sebagai kenang-kenangan, namun ia tidak dapat menemukannya. Sepertinya akuarium baru saja dibersihkan sang pemilik. Kali ini sang ikan tidak panik seperti pertama kali kehilangan kiblatnya. Sang ikan lebih tenang.

“Aku sudah terbiasa Tuhan menerima ujian dariMu. Sekarang aku serahkan semuanya kepadaMu. Semua karena I love You, Tuhan. Dan aku yakin You love me too.”, pikirnya sambil terus berdzikir “I LOVE YOU”,

“I LOVE YOU… I LOVE YOU… I LOVE YOU… I LOVE YOU… I LOVE YOU”, ucap sang ikan terus menerus.

“Kok sudah bilang I Love you aja, kan kita baru ketemu”, tiba-tiba ada suara mengejutkan dari belakang sang ikan.

Seketika sang ikan menoleh ke belakang. Dia mendapati sesosok ikan mas koki seperti dirinya. Seolah sang burung menjelma pada sosok ikan cantik yang ditemuinya. Ternyata sang pemilik ikan selain membersihkan akuarium juga membelikan pasangan untuk ikan mas koki kesayangannya. Mulai hari itu sang ikan mendapatkan kiblat baru dalam hidupnya. Kiblat yang lebih nyata dan lebih mudah dijangkau olehnya.

Advertisements

Perbedaan dan Cinta (1)

November 9, 2012 2 comments

Cerpen ini untukmu, ya kamu.. dirimu yang biasa bersembunyi di balik dinding dan sebentar lagi pergi.

Ilustrasi diambil dari wearebulletproof.com

Di suatu rumah sang pencinta hewan, dipeliharalah berbagai hewan-hewan peliharaan. Dua diantaranya adalah ikan mas koki dan burung beo yang hidup bersebelahan meskipun berbeda alam. Ikan mas koki hidup dalam akuarium dan burung beo hidup dalam sangkar yang terletak berdekatan. Setiap hari ikan dapat melihat dan mendengar apapun yang dilakukan oleh sang burung. Kepakan sayapnya, kicauan suaranya serta gerakan-gerakan lincah si burung dari makan, minum bahkan saat sang burung tidur tak luput dari pandangan sang ikan. Begitulah setiap hari yang dilakukan sang ikan.

Awalnya sang ikan merasa aneh melihat makhluk yang sangat berbeda dengan dirinya. Namun karena setiap hari hari hanya burung itu lah yang mengisi pandangannya maka tumbuhlah benih-benih rasa cinta dan suka terhadap makhluk yang sangat berbeda karakternya itu. Ikan yang sifatnya pendiam dan tak banyak bicara jatuh cinta pada burung beo yang selalu terlihat ceria, cerewet dan senang sekali bernyanyi. Kepakan sayap sang burung yang sebelumnya terasa aneh di mata sang ikan, justru sekarang membuat mata sang ikan tak berkedip. Paruh burung yang basah saat minum terlihat sangat cantik di mata sang ikan.

Ikan pun bingung bagaimana mengungkapkan rasa cintanya kepada sang burung yang sudah tak tertahankan lagi. Setiap hari kini dipenuhi rasa galau di hati sang ikan. Gemericik air dari pompa seolah memperdengarkan nada lagu Kahitna-Andai Ia Tahu ke dalam insangnya. Hari demi hari berlalu tak ada upaya berarti yang dapat dilakukan sang ikan untuk menyampaikan rasa cintanya. Yang dapat ia lakukan hanya memanjatkan doa kepada Tuhan setiap malam.

“Ya, Tuhan yang maha mengetahui isi hati setiap makhluk, Aku yakin tanpa aku memanjatkan doa pun Kau tahu apa yang aku rasakan dan aku inginkan. Aku pun yakin Kau juga tahu takdir yang terbaik bagiku karena Kau sendirilah yang menuliskan setiap skenario dalam hidupku. Sesungguhnya aku berdoa hanyalah untuk meneguhkan penghambaanku kepadaMu, bahwa segala apapun yang terjadi adalah atas kehendakMu. Jadi Tuhanku, jika memang benar dia adalah jodohku dan dia baik bagiku maka dekatkanlah dia padaku.”, begitulah panjatan doa yang selalu diuntai sang ikan melalui mulutnya setiap malam sebelum terlelap. Malam pun larut dan ikan terlelap.

Keesokan hari, sinar mentari mulai menyinari bibir akuarium dari balik jendela dan membiaskan cahaya ke tubuh sang ikan yang berwarna merah keemasan. Ikan pun terbangun dari lelap tidurnya. Seperti sudah reflek sang ikan langsung menolehkan kepalanya ke arah sangkar sang burung pujaannya. Namun yang ia tidak mendapati sangkar yang selama ini menjadi kiblatnya. Sangkar itu hilang. Sang ikan panik ia pun mondar-mandir ke sana ke mari mencari dimana sangkar itu. Akhirnya dia pun mendapati sangkar itu ada tergeletak di lantai. Namun ada yang hilang dari sangkar itu, separuh jiwanya yang selama ini ada di sana hilang.

(bersambung)

Dongeng Kacang

November 3, 2012 3 comments

Konon makanan-makanan kecil yang biasa kita makan seperti kacang sukro, keripik pilus dan cemilan-cemilan lain sebenarnya dapat bicara dalam bahasa mereka yang tidak dapat manusia dengar secara kasat. Di dalam bungkus yang pengap dan tidak ada udara dan cahaya masuk mereka menanti dengan penuh dengan kesabaran. Mereka menunggu seorang anak manusia yang ditakdirkan untuk meretas bungkus yang menyelimuti mereka selama berhari-hari dan berminggu-minggu.

Karena telah berhari dan berminggu mereka bersama, maka muncul rasa cinta, kasih sayang dan persamaan cita-cita di antara mereka. Kemudian mereka berikrar satu sama lain untuk setia dan selalu bersama walau apapun yang terjadi. Mereka juga berjanji bersama.

“Kami berjanji demi Tuhan yang telah mempertemukan kami”, ikrar salah satu butiran kacang yang diikuti oleh kacang-kacang yang lain dengan lantang seperti pembacaan pancasila setiap upacara hari senin.

“Barangsiapa, manusia yang membebaskan kami, maka kami berjanji untuk tetap bersama-sama berkumpul di dalam sistem pencernaan manusia itu”, begitulah ikrar mereka bersama-sama. Seketika suasana menjadi haru. Setiap kacang saling berpelukan satu sama lain dan mengucapkan kata-kata penuh kasih sayang.

“Kalian adalah segalanya bagiku kawan, kita akan bersama selamanya”, kata salah satu butiran kacang.

“I love you all guys, we’ll be together forever”, ternyata ada butiran kacang impor dari Australia, yang tersesat.

Ada pula yang mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya dengan menyanyi. “Aku tanpamuuuu… butiran kacang”, kurang lebih begitu bunyi potongan liriknya.

Sejak saat itu kacang-kacang itu sudah menjadi seperti saudara walaupun asal mereka pun berbeda-beda. Konon apabila ada manusia yang memakan satu butir kacang dari kelompok mereka, butiran-butiran kacang yang lain akan merasa iri dan terus memanggil-manggil manusia tadi untuk memakan butiran yang lain agar mereka tetap selalu bersama. Itulah penyebab ketika manusia mulai untuk ngemil akan sulit untuk berhenti sampai cemilan itu habis.

Sakit Jiwa

September 6, 2012 1 comment

“Hoaaahmm, Jam segini masih macet aja”, gumamku sambil menutup mulutku yang menguap tak tertahan. Kulihat jam tangan menunjukkan hampir pukul 10. Bingung juga makin hari macet makin parah saja di ibu kota ini. Mobil di depanku bergerak centi demi centi. Akupun menguntit dari belakang pelan-pelan. Sejenak muncul motor dari kanan maupun kiri berusaha selap-selip berusaha lolos dari jeratan macet yang mematikan ini.

Pikiranku mulai berandai-andai. Seandainya dari tadi saja aku pulang, toh macetnya juga sama, ga perlu lah nongkrong lama-lama di kantor. Toh kantorku belum termasuk yang dapat remunerasi. Kerja sedikit atau banyak juga sama saja gajinya, yang penting absen jalan terus. Seketika hati kecilku menolak itu semua dan berargumen seolah ada debat di dalam hatiku.

“Bekerja itu bukan demi uang bung, tapi mengabdi pada negara”, begitu bunyi bisikan kata hati kecilku yang nasionalis.

“Bukan, bekerja itu harus lillahi ta’ala, Akhii”, ujar sisi hati kecilku yang lain yang agak religius.

“Halaah, Realistis aja bro, akui aja lo perlu duit, lo kerja itu buat hidupin anak istri lo dan sedikit senang-senang, karir nomor 100 lah, pikir aja emang nyambung lo lulusan teknik sipil tapi kerja jadi panitia pengadaan di kantor pemerintahan”, hati kecilku yang ini agaknya sedikit cerewet tapi logis juga sih.

Mendadak ada motor yang menyenggol kaca spion mobilku dengan keras, “Heii!!”, aku teriak, sambil dengan reflek ku buka kaca pintu.

“Lihat-lihat dong pake mata”, serapahku.

Motor tadi tetap berlalu sambil sedikit menoleh dan sedikit lambaian tangan. Tidak ikhlas sepertinya dia minta maaf, seolah hal yang biasa merusak barang yang bukan miliknya. Kulihat kaca spionku retak. Terbayang seberapa kencang tadi dia melaju di tengah macet ini.

“Brengsek!!”, gumamku dalam hati. Geregetan rasanya dan tanpa sadar aku mengepalkan tangan kanan dan memukul klakson dengan keras sampai aku tersadar membuat polusi suara yang memekakkan telinga.

Tapi kok tiba-tiba mobil di depanku ikut-ikutan klakson-klakson keras, berulang-ulang lagi. Di belakang mobilnya ada tulisan, “We are the Pink Jacket”, begitu bunyinya.

“Wah satu almamater nih”, pikirku. Kalau bukan seniorku pasti juniorku. Eh atau jangan-jangan temen satu angkatan.

“Ada apa gerangan ini?”, hatiku bertanya-tanya, “Ada apa sih?”.

Karena sudah geregetan dan kaku juga pinggang gara-gara duduk udah hampir satu jam di mobil, aku keluar saja dari mobil mencari tahu apa yang terjadi. Bentuk respekku juga ke sesama teman seperguruan. Untung saja ambeienku ga kambuh kelamaan duduk.

Kulihat di depan mobil yang berisik klakson ada mobil tua mungkin mobil tahun 80an yang mogok. Cat coklatnya juga sudah pudar. Benar-benar tua, mewakili pemiliknya juga yang sudah tua renta mendorong-dorong mobilnya sendiri. Terlihat beberapa meter jalan di depannya mobil ini kosong. Beberapa mobil dari jalur lain berusaha pindah jalur mengambil kesempatan ini. Tak tega juga aku melihat bapak tua ini.

Aku geleng-geleng kepala sambil menoleh ke mobil yang berisik klakson tadi. Kulihat wanita muda berpakaian rapi dengan blazer, stylenya wanita karier sekali. Cantik sih. Aku jadi ingat tim konsultan yang tadi presentasi di kantor, yang setiap presentasi pasti mengajak satu atau dua wanita dengan dandanan seperti wanita ini, walaupun mereka cuma duduk saja.

Memang sudah mati ya hati nurani orang-orang di tengan macet seperti ini ada orang yang kena musibah mobil mogok tak ada satupun pengemudi yang keluar dari mobilnya. Aku kesal juga dengan wanita yang berisik klakson yang sekarang aku belakangi. Mungkin aku maklumi dia wanita tidak mau bantu dorong-dorong mobil. Tapi ya tak usah klason-klakson seolah tak sabar. Namanya orang kena musibah mogok, pasti jalannya pelan, jadi ya paling tidak toleransi lah.

Dengan sigap aku langsung bantu bapak itu mendorong mobilnya. “Ayo pak saya bantu dorong.”. Bapak tua itu menoleh ke arahku senyum. Perlahan mobil mogok itu menepi ke pinggir jalan memberikan jalan buat mobil yang dari tadi berisik klakson.

“Makasih, Dek”, ujar Bapak tua itu.

“Ya, tak apa-apa pak, berpahala bantu orang yang kesusahan”, jawabku singkat.

“Malam-malam mau kemana pak?”, Aku bertanya sekedar basa-basi.

Belum sempat bapak tadi menjawab, kaca mobil yang dilapisi kaca film terbuka. Terlihat dua wanita umur belasan dengan pakaian you can see dan dandanan yang tak seadanya. Satu di belakang satu memegang kemudi. “Gimana Nih, Om?”, mereka bertanya ke si bapak tadi dengan nada agak manja.

“Bapak nganter ponakan abis makan malam”, sang bapak menjawab pertanyaanku tadi.

“Ooo”, responku singkat.

“Mungkinkah mereka keponakan si Bapak?”, pikirku dalam hati. Tidak mungkin ah. Aku berpikir jauh kemana-mana dan tak dapat kuhentikan. Terbersit sesal juga menolong si Bapak tadi. Lebih baik tadi tak usah aku bantu si Bapak, biar dia rasakan dorong-dorong mobil biar capek.

“Waduh”, sambil meraba kantong celana aku ingat meninggalkan mobil tak terkunci dengan handphone di dalam mobil. Riskan sekali pikirku.

Langsung aku bergegas kembali ke mobil. Dan syukur semua masih utuh. Handphone ku masih ada tergeletak di sisi tuas transmisi dengan lampu LED merahnya berkedip-kedip. Ternyata ada sms masuk.

“Pak Sholeh, Yang bapak minta sudah kami kirim cash, mohon dibantu agar kami bisa menang tender. Terima Kasih”, begitu bunyi smsnya

“Alhamdulillah”, ucapku.