Archive

Posts Tagged ‘cinta’

Jiwa dan Tubuh ku

December 11, 2012 3 comments

Wahai tubuhku,

Jadilah lebih kuat dan lebih tangguh.

Dengan memaksamu bekerja lebih keras dari biasanya,

bukan maksudku menyakitimu,

bukan maksudku mencederaimu,

tapi justru karena aku cinta padamu.

Aku ingin kita berdua menjadi pasangan yang memberi warna pada dunia.

Semua upaya yang kita lakukan bersama,

adalah semata-mata demi cinta kita kepadaNya,

Tuhan yang telah menjodohkan kita bersatu,

bersatu menjadi manusia yang utuh.

Dan kelak jika Dia mempertanyakan,

kita bisa menjawab apa yang telah kita bersama kerjakan.

Ditulis pagi hari 11 Desember 2012 setelah semalam begadang.

Advertisements
Categories: Islam, Puisi, Renungan Tags: , , , ,

Perbedaan dan Cinta (2)

November 12, 2012 9 comments

Untuk yang belum baca bagian pertama baca dulu di sini

Ilustrasi diambil dari wearebulletproof.com

Tak terasa air mata mengalir dari matanya. Namun air di dalam akuarium membutnya tak terlihat sehingga seolah sang ikan tetap tampak tegar walau kini dia kehilangan separuh jiwanya. Ditengah kepanikan sang ikan sambil mondar-mandir di dalam akuarium, sang ikan teringat doanya pada Tuhan semalam.

“Yaaa, Tuhan, inikah jawaban darimu, jika memang ini kehendakmu, walaupun hatiku sedih aku akan berusaha mengikhlaskan, Tuhan”, begitu ucap sang ikan dalam hati sambil menengadahkan wajah ke permukaan air. Sekejap wajah kesedihan sang ikan berubah menjadi sumringah, semangat hidupnya kembali menggelora. Dipandangnya separuh jiwa yang selama ini menjadi kiblatnya sedang bertengger di bibir akuarium. Sosok yang selalu dia kagumi dan cintai dari jarak jauh kini dia lihat secara langsung dari jarak yang sangat dekat, kepakan sayapnya, bulu-bulunya yang berkilatan diterpa cahaya serta paruhnya yang basah saat minum yang selama ini dia kagumi dapat terlihat dengan sangat jelas.

“Maafkan aku Tuhan, tadi aku sudah berprasangka buruk padaMu, Terima kasih Tuhan atas jawabanmu untuk mendekatkan dia padaku”, ucapan syukur sang ikan dalam hati pada Tuhan atas karunia yang membuat hatinya berbunga-bunga.

Sang ikan pun berupaya menyampaikan perasaan yang ia pendam selama ini kepada sang burung. Mulutnya terus komat-kamit mengucapkan kata-kata cinta.

“Demi Tuhan, Aku mencintaimu,.. Aku mencintaimu… I LOVE YOU”, ucap sang ikan setengah teriak hingga permukaan air sedikit beriak karena teriakannya.

Namun apa daya sang burung tak memahami bahasa sang ikan. Sang burung pun hanya diam terpaku melihat perilaku sang ikan. Dia pun hanya meneruskan kegiatan minumnya. Setelah menyelesaikan minumnya sang burung terdiam sejenak memandang kepada sang ikan.

Saat inilah saat terindah yang pernah dirasakan sang ikan. Saat mata mereka saling berpandangan dan berpadu. Tapi sayangnya momen itu hanya sesaat, ada sesuatu yang lebih menarik hati sang burung, yaitu jendela yang terbuka luas. Kebebasan, itulah yang telah diimpi-impikan sang burung sejak lama. Sang burung pun menoleh ke arah jendela. Terbayang di mata sang burung dunia luar yang berkilauan bermandikan sinar mentari memanggil-manggilnya untuk menghampirinya.

Akhirnya momen perpisahan pun tiba, sang burung lebih memilih dunia bebas yang bermandikan sinar mentari ketimbang sang ikan yang sangat mencintainya dengan separuh jiwanya. Sang burung pun mengapakkan sayapnya perlahan dan terbang menuju dunia baru yang dicita-citakannya. Meninggalkan sang ikan sendiri dengan sehelai bulunya yang tak sengaja terjatuh saat minum tadi. Hanya sehelai bulu itulah yang menjadi kenangan bagi sang ikan.sang ikan pun menghampiri bulu tersebut. Tercium aroma bulu sang burung yang larut melalui insangnya.

Sepanjang hari dan malam Sang ikan hanya bisa mengulang-ulang kata “I LOVE YOU” seperti berdzikir sambil menitikkan air mata. Sepanjang hari sang ikan hanya meratapi kejadian tadi. Sampai tertidur pun sang ikan masih tetap berdzikir “I LOVE YOU”.

Keesokan pagi saat mentari mulai menembus dinding akuarium sang ikan masih terus berdzikir “I LOVE YOU” melalui mulutnya. Ia memandang ke permukaan air mencari helai bulu sang pujaan hati yang ditinggalkan sebagai kenang-kenangan, namun ia tidak dapat menemukannya. Sepertinya akuarium baru saja dibersihkan sang pemilik. Kali ini sang ikan tidak panik seperti pertama kali kehilangan kiblatnya. Sang ikan lebih tenang.

“Aku sudah terbiasa Tuhan menerima ujian dariMu. Sekarang aku serahkan semuanya kepadaMu. Semua karena I love You, Tuhan. Dan aku yakin You love me too.”, pikirnya sambil terus berdzikir “I LOVE YOU”,

“I LOVE YOU… I LOVE YOU… I LOVE YOU… I LOVE YOU… I LOVE YOU”, ucap sang ikan terus menerus.

“Kok sudah bilang I Love you aja, kan kita baru ketemu”, tiba-tiba ada suara mengejutkan dari belakang sang ikan.

Seketika sang ikan menoleh ke belakang. Dia mendapati sesosok ikan mas koki seperti dirinya. Seolah sang burung menjelma pada sosok ikan cantik yang ditemuinya. Ternyata sang pemilik ikan selain membersihkan akuarium juga membelikan pasangan untuk ikan mas koki kesayangannya. Mulai hari itu sang ikan mendapatkan kiblat baru dalam hidupnya. Kiblat yang lebih nyata dan lebih mudah dijangkau olehnya.

Perbedaan dan Cinta (1)

November 9, 2012 2 comments

Cerpen ini untukmu, ya kamu.. dirimu yang biasa bersembunyi di balik dinding dan sebentar lagi pergi.

Ilustrasi diambil dari wearebulletproof.com

Di suatu rumah sang pencinta hewan, dipeliharalah berbagai hewan-hewan peliharaan. Dua diantaranya adalah ikan mas koki dan burung beo yang hidup bersebelahan meskipun berbeda alam. Ikan mas koki hidup dalam akuarium dan burung beo hidup dalam sangkar yang terletak berdekatan. Setiap hari ikan dapat melihat dan mendengar apapun yang dilakukan oleh sang burung. Kepakan sayapnya, kicauan suaranya serta gerakan-gerakan lincah si burung dari makan, minum bahkan saat sang burung tidur tak luput dari pandangan sang ikan. Begitulah setiap hari yang dilakukan sang ikan.

Awalnya sang ikan merasa aneh melihat makhluk yang sangat berbeda dengan dirinya. Namun karena setiap hari hari hanya burung itu lah yang mengisi pandangannya maka tumbuhlah benih-benih rasa cinta dan suka terhadap makhluk yang sangat berbeda karakternya itu. Ikan yang sifatnya pendiam dan tak banyak bicara jatuh cinta pada burung beo yang selalu terlihat ceria, cerewet dan senang sekali bernyanyi. Kepakan sayap sang burung yang sebelumnya terasa aneh di mata sang ikan, justru sekarang membuat mata sang ikan tak berkedip. Paruh burung yang basah saat minum terlihat sangat cantik di mata sang ikan.

Ikan pun bingung bagaimana mengungkapkan rasa cintanya kepada sang burung yang sudah tak tertahankan lagi. Setiap hari kini dipenuhi rasa galau di hati sang ikan. Gemericik air dari pompa seolah memperdengarkan nada lagu Kahitna-Andai Ia Tahu ke dalam insangnya. Hari demi hari berlalu tak ada upaya berarti yang dapat dilakukan sang ikan untuk menyampaikan rasa cintanya. Yang dapat ia lakukan hanya memanjatkan doa kepada Tuhan setiap malam.

“Ya, Tuhan yang maha mengetahui isi hati setiap makhluk, Aku yakin tanpa aku memanjatkan doa pun Kau tahu apa yang aku rasakan dan aku inginkan. Aku pun yakin Kau juga tahu takdir yang terbaik bagiku karena Kau sendirilah yang menuliskan setiap skenario dalam hidupku. Sesungguhnya aku berdoa hanyalah untuk meneguhkan penghambaanku kepadaMu, bahwa segala apapun yang terjadi adalah atas kehendakMu. Jadi Tuhanku, jika memang benar dia adalah jodohku dan dia baik bagiku maka dekatkanlah dia padaku.”, begitulah panjatan doa yang selalu diuntai sang ikan melalui mulutnya setiap malam sebelum terlelap. Malam pun larut dan ikan terlelap.

Keesokan hari, sinar mentari mulai menyinari bibir akuarium dari balik jendela dan membiaskan cahaya ke tubuh sang ikan yang berwarna merah keemasan. Ikan pun terbangun dari lelap tidurnya. Seperti sudah reflek sang ikan langsung menolehkan kepalanya ke arah sangkar sang burung pujaannya. Namun yang ia tidak mendapati sangkar yang selama ini menjadi kiblatnya. Sangkar itu hilang. Sang ikan panik ia pun mondar-mandir ke sana ke mari mencari dimana sangkar itu. Akhirnya dia pun mendapati sangkar itu ada tergeletak di lantai. Namun ada yang hilang dari sangkar itu, separuh jiwanya yang selama ini ada di sana hilang.

(bersambung)

Tobat Cinta

August 26, 2012 1 comment

Betapa tidak ku semakin mencintaimu
Kau tahu seringku khilaf mendua
Kau tahu seringku khilaf lupakanmu
Tapi pintu maafmu selalu terbuka
Tak sedikitpun kau kurangi cintamu
Cintamu sungguh sempurna


ditulis 26 Agustus 2012

Categories: Islam, Puisi, Renungan Tags: , , , ,

Sebait Puisi Cinta

August 24, 2012 Leave a comment

ku yakin kau tahu inginku
ku yakin kau tahu isi hatiku
ku yakin kau mencintaiku
maka tiada sedikitpun raguku
tuk ikhlas menerima apapun keputusanmu

Categories: Islam, Puisi, Renungan Tags: , ,

Jodoh

May 28, 2009 29 comments

Apa yang akan saya ungkapkan di dalam postingan ini adalah sebuah pandangan pribadi saja.

Gue pribadi percaya, semua orang memiliki jodohnya masing-masing yang sudah ditentukan Yang Maha Kuasa waktu pertama kali nyawa kita ditiupkan. Jadi tak perlulah resah dan tak perlu gundah tidak menemukannya atau direbut orang lain. He / she is dedicated for you… believe it.

Betapapun kita berusaha menjodohkan apabila bukan jodoh maka tak akan bersatu juga. Justru sebaliknya apabila jodoh, betapapun usaha untuk memisahkannya bersatu adalah tetap sebuah keniscayaan.

Orang-orang sering bilang kalau jodoh itu di tangan Tuhan.  Kalau dipikir-pikir bener juga. Dengan dibilang bahwa jodoh di tangan Tuhan, maka tidak ada jalan lain untuk tahu siapa jodoh kita selain mendekatkan diri kepadaNya. Karena kalau nggak deket gimana mau tahu?? So, sudah cukup dekatkah kita dengan Dia? Naah… Kalo sudah dekat dengan Dia, baru bisa deket sama si dia. 😀

Orang tua yang bijak tidak akan menghadiahkan sepeda kepada anaknya yang masih berumur 2 tahun, yang jangankan untuk mengendarai sepeda, berjalan saja sulit. Begitu juga dengan Dia yang Maha Bijaksana, Dia tidak akan begitu aja memberitahukan dan mempertemukan kepada kita siapa jodoh kita apabila kita belum siap mengetahuinya. Dia hanya akan mempertemukan saat kita siap. Jadi mari persiapkanlah diri.

Meskipun kita tidak tahu siapa yang ditakdirkan menjadi jodoh kita, satu hal yang pasti adalah dia adalah orang sudah kita kenal. Maka perluaslah pergaulan dan jaga hubungan baik dengan semua orang.

God still love me

April 8, 2009 5 comments

Suatu sore, setelah kunjungan ke tempat klien hujan turun dengan lebatnya terus menerus membombardir taksi yang mengangkut saya dan rekan-rekan menuju kantor pusat, di Depok.

Sesaat sebelum tiba di kantor pusat rasa lelah dan pegal sedikit banyak mulai terasa di sekujur tubuh. Daftar rencana kegiatan selanjutnya yang dapat dilakukan sudah terbayang di pikiran. Duduk sejenak, makan, minum kopi hangat, kemudian sholat… Nikmaaatt…. Dan akhirnya saat-saat yang ditunggu tiba… Taksi tiba tepat di depan gedung PUSILKOM UI.

Karena hujan yang lumayan deras, langsung saja setelah membayar supir dan membuka pintu mobil saya langsung bergegas masuk ke gedung, mendaki tangga dan… ups…

Tas saya tertinggal di taksi…

Langsung saya berlari menuruni tangga, menembus hujan untuk mengejar taksi yang sudah hampir melewati pintu gerbang. Gagal sudah daftar rencana yang tadi sudah diubun-ubun. Sudah seperti orang gila saya teriak-teriak sambil menepuk-nepuk tangan seraya memanggil taksi yang tiada berhenti… sia-sia…

Telpon kantor pusatnya…

Yup ide brilian ini muncul begitu saja di otak saya.

“Nomor taksi yang Bapak sewa berapa, Pak?”, tanya orang di seberang telepon

Saya kembali lemas, saya sama sekali tidak ingat, yang saya ingat cuma warna taksinya, Biru. Terbayang-bayang laptop, hardisk, handphone, dan dokumen -dokumen proyek yang mengisi tas tersebut. Frustasi…

Kejar Pakai motor…..

Yeah, ide yang lebih brilian kali ini keluar lagi, tapi sayang sudah terlambat… Taksi biru sudah hilang lenyap, tanpa jejak. Langsung tanpa pikir-pikir lagi langsung saya tancap gas motor saya kemudian membelah hujan. Namun saya berusaha tenang dan  kemudian mengurangi laju motor saya.

Melewati Masjid UI, saya melihat sebuah taksi parkir di pelataran. Entah taksi yang ini atau bukan masih tanda tanya buat saya.

“Saya izin sholat dulu dzuhur dulu Pak..”, perkataan sang supir yang paling saat saya saat minta menunggu di kantor klien. Dan sekarang sudah masuk waktu Ashar. Kemungkinan besar itu adalah mobil yang saya tumpangi tadi.

Dan benar saja itu taksinya… Sang supir sedang sholat Ashar… Rasa senang bahagia, lega bercampur-campur di hati. Alhamdulillah, God still love me.