Archive

Posts Tagged ‘puasa’

Sebait Hikmah Puasa

August 24, 2012 2 comments

Hidup di dunia hanya satu hari
Dan Akhirat menanti di esok hari

Hidup di dunia bagaikan sedang puasa
Dengan agama sebagai aturannya
Dan Kiamat sebagai adzan Maghribnya

Hidup di dunia haruslah taat agama
Agar dapat surga sebagai hidangan berbuka


ditulis 24 Agustus 2012

Advertisements
Categories: Islam, Puisi, Renungan Tags: , ,

Enaknya Lupa :)

June 23, 2009 9 comments

Senin 22 Juni 2009

Panas terik sangat menyengat di siang-siang dalam perjalananku dari Rasuna Said menuju Thamrin. Di belakang Baskoro diam tanpa kata, keliatannya sudah kelaparan. Arashiku masih setia berlari mengantar kami menuju rumah makan padang di daerah Mampang. Kebetulan cuma rumah makan Padang yang kami temukan cukup bersih dibandingkan warung-warung lain. Dan namanya masakan padang rata-rata enak rasanya. Ya, itulah kelebihan rumah makan padang.

Aku waktu itu pesan lauk pakai rendang dan sayur-sayuran khas padang sementara si Baskoro yang udah kelaperan berat pesen mujair goreng. Minumnya kita sama-sama pesen jus mangga. Hmmm,,, kenyang lah..apalagi kita juga sempet nambah nasi… 😀 Kembali sudah semua semangat yang tadinya sudah menguap karena kepanasan.

Setelah makan, kemudian aku sholat dan melanjutkan perjalanan ke Thamrin. Sampai di Thamrin, aku baru ingat satu hal yang penting yang seharusnya aku tak lupakan. Hari ini hari senin, dan aku lagi puasa…

Ada Anak Bertanya pada Bapaknya (2)

September 5, 2008 Leave a comment

cerita sebelumnya

Anak: “Bapak, tadarus apa gunanya?”

Bapak: “Tadarus itu artinya memahami kitab suci kita, yaitu Al Quran. Dengan memahaminya, Insya Allah kita sudah dekat untuk mengamalkannya”

Anak: “Ooo, berarti kita mesti memahami, tidak sekedar membaca. Tapi kan Al Quran kan bahasa Arab, berarti harus baca terjemahannya untuk memahaminya ya, Pak?”

Bapak: “Ya iya lah…. Masa’ Ya iya dong…..”

Ada Anak Bertanya pada Bapaknya

September 5, 2008 Leave a comment

Anak: “Pak, untuk apa sih kita berlapar-lapar puasa?”

Bapak: “Lapar itu untuk mengajarkan kita untuk senantiasa rendah hati, Nak”

Anak: “Kenapa bisa begitu, Pak?”

Bapak: “Dengan lapar, kita bisa merasakan apa yang dirasakan pengemis-pengemis, pengamen-pengamen di jalan sana yang mungkin tidak makan selama beberapa hari”

Anak: “Tapi bukankah pengemis-pengemis penghasilannya besar, yang anak-anak kecil saja ada yang berpenghasilan Rp. 100.000 per hari. Malah ada kabar ada pengemis yang dari hasil mengemisnya bisa membeli rumah di kampungnya. Kok bisa lebih hebat dari kita ya pak yang masih ngontrak?”

Bapak: “Iya ya….?”

(terinspirasi dari lirik lagu Bimbo)