Archive

Posts Tagged ‘sabar’

Jodoh

May 28, 2009 29 comments

Apa yang akan saya ungkapkan di dalam postingan ini adalah sebuah pandangan pribadi saja.

Gue pribadi percaya, semua orang memiliki jodohnya masing-masing yang sudah ditentukan Yang Maha Kuasa waktu pertama kali nyawa kita ditiupkan. Jadi tak perlulah resah dan tak perlu gundah tidak menemukannya atau direbut orang lain. He / she is dedicated for you… believe it.

Betapapun kita berusaha menjodohkan apabila bukan jodoh maka tak akan bersatu juga. Justru sebaliknya apabila jodoh, betapapun usaha untuk memisahkannya bersatu adalah tetap sebuah keniscayaan.

Orang-orang sering bilang kalau jodoh itu di tangan Tuhan.ย  Kalau dipikir-pikir bener juga. Dengan dibilang bahwa jodoh di tangan Tuhan, maka tidak ada jalan lain untuk tahu siapa jodoh kita selain mendekatkan diri kepadaNya. Karena kalau nggak deket gimana mau tahu?? So, sudah cukup dekatkah kita dengan Dia? Naah… Kalo sudah dekat dengan Dia, baru bisa deket sama si dia. ๐Ÿ˜€

Orang tua yang bijak tidak akan menghadiahkan sepeda kepada anaknya yang masih berumur 2 tahun, yang jangankan untuk mengendarai sepeda, berjalan saja sulit. Begitu juga dengan Dia yang Maha Bijaksana, Dia tidak akan begitu aja memberitahukan dan mempertemukan kepada kita siapa jodoh kita apabila kita belum siap mengetahuinya. Dia hanya akan mempertemukan saat kita siap. Jadi mari persiapkanlah diri.

Meskipun kita tidak tahu siapa yang ditakdirkan menjadi jodoh kita, satu hal yang pasti adalah dia adalah orang sudah kita kenal. Maka perluaslah pergaulan dan jaga hubungan baik dengan semua orang.

Memandang awan

May 2, 2009 10 comments

Dulu, sewaktu kecil aku punya kebiasaan yang unik di kala senggang. Unik, bahkan sangat unik sehingga mungkin anak-anak zaman sekarang nggak ada yang punya kebiasaan seperti ini. Kebiasaan itu adalah memandangi awan di langit yang bergerak dihembus angin.

Buat Jono kecil awan itu indah sekali. Putih, bersih, bergumpal, seperti gulali warna putih dengan beraneka bentuk dan rupa. Angan-angan tentang rasanya yang manis membuatku ingin menggapai meraih dan menjilatnya. Sampai-sampai waktu itu aku berangan-angan agar bisa tumbuh tinggi sekali agar mampu meraihnya. Tapi apalah daya, hal itu adalah mustahil belaka.

Maka yang dapat aku lakukan adalah hanya berpura pura meraihnya, memandangi keindahannya dari jauh dan berangan-angan awan itu ada di genggaman. Dengan begitu sudah cukup puas dan senanglah hatiku. Jadi tak perlulah meraih dan menggapainya walaupun hasrat untuk sekedar menyentuhnya tetaplah ada di dada.

Seiring berjalannya waktu, dan semakin bertambah usiaku, aku semakin menyadari bahwa tak perlulah berusaha meraih awan, karena awan itu suatu saat pasti yang akan menghampiri dalam bentuk hujan ataupun salju apabila di negara-negara dengan empat musim. Maka bersabarlah. ๐Ÿ˜€

God still love me

April 8, 2009 5 comments

Suatu sore, setelah kunjungan ke tempat klien hujan turun dengan lebatnya terus menerus membombardir taksi yang mengangkut saya dan rekan-rekan menuju kantor pusat, di Depok.

Sesaat sebelum tiba di kantor pusat rasa lelah dan pegal sedikit banyak mulai terasa di sekujur tubuh. Daftar rencana kegiatan selanjutnya yang dapat dilakukan sudah terbayang di pikiran. Duduk sejenak, makan, minum kopi hangat, kemudian sholat… Nikmaaatt…. Dan akhirnya saat-saat yang ditunggu tiba… Taksi tiba tepat di depan gedung PUSILKOM UI.

Karena hujan yang lumayan deras, langsung saja setelah membayar supir dan membuka pintu mobil saya langsung bergegas masuk ke gedung, mendaki tangga dan… ups…

Tas saya tertinggal di taksi…

Langsung saya berlari menuruni tangga, menembus hujan untuk mengejar taksi yang sudah hampir melewati pintu gerbang. Gagal sudah daftar rencana yang tadi sudah diubun-ubun. Sudah seperti orang gila saya teriak-teriak sambil menepuk-nepuk tangan seraya memanggil taksi yang tiada berhenti… sia-sia…

Telpon kantor pusatnya…

Yup ide brilian ini muncul begitu saja di otak saya.

“Nomor taksi yang Bapak sewa berapa, Pak?”, tanya orang di seberang telepon

Saya kembali lemas, saya sama sekali tidak ingat, yang saya ingat cuma warna taksinya, Biru. Terbayang-bayang laptop, hardisk, handphone, dan dokumen -dokumen proyek yang mengisi tas tersebut. Frustasi…

Kejar Pakai motor…..

Yeah, ide yang lebih brilian kali ini keluar lagi, tapi sayang sudah terlambat… Taksi biru sudah hilang lenyap, tanpa jejak. Langsung tanpa pikir-pikir lagi langsung saya tancap gas motor saya kemudian membelah hujan. Namun saya berusaha tenang danย  kemudian mengurangi laju motor saya.

Melewati Masjid UI, saya melihat sebuah taksi parkir di pelataran. Entah taksi yang ini atau bukan masih tanda tanya buat saya.

“Saya izin sholat dulu dzuhur dulu Pak..”, perkataan sang supir yang paling saat saya saat minta menunggu di kantor klien. Dan sekarang sudah masuk waktu Ashar. Kemungkinan besar itu adalah mobil yang saya tumpangi tadi.

Dan benar saja itu taksinya… Sang supir sedang sholat Ashar… Rasa senang bahagia, lega bercampur-campur di hati. Alhamdulillah, God still love me.