Sudah idealkah berat badan anda?

August 23, 2009

Setelah lulus kuliah, salah satu hal yang kadang menjadi permasalahan adalah meningkatnya dengan pesat berat badan. Dan jelas itu pun membuat kita waswas apakah ini masih normal atau sudah di luar batas.

Untuk mengukur apakah berat badan kita masih ideal atau tidak, WHO membuat sebuah standar yang dinamakan BMI (Body Mass Index) yang mengkalkulasikan perbandingan tinggi dan berat badan. Besaran BMI dihitung melalui rumus:

BMI = berat badan / (tinggi badan x tinggi badan)

catatan : berat dalam kg (kilogram) tinggi dalam m (meter)

Kemudian nilai dari BMI dipetakan sebagai berikut

  • Sangat kurus : BMI < 16.5
  • Kurus : 16.5 <= BMI < 18.5
  • Normal : 18.5 <= BMI < 25
  • Gemuk : 25 <= BMI < 30
  • Kegemukan level I : 30 <= BMI < 35
  • Kegemukan level II : 35 <= BMI < 40
  • Kegemukan level III : BMI > 40

Selamat berhitung dan tentukan apakah berat anda normal… Semoga bermanfaat :D

Referensi:


Enaknya Lupa :)

June 23, 2009

Senin 22 Juni 2009

Panas terik sangat menyengat di siang-siang dalam perjalananku dari Rasuna Said menuju Thamrin. Di belakang Baskoro diam tanpa kata, keliatannya sudah kelaparan. Arashiku masih setia berlari mengantar kami menuju rumah makan padang di daerah Mampang. Kebetulan cuma rumah makan Padang yang kami temukan cukup bersih dibandingkan warung-warung lain. Dan namanya masakan padang rata-rata enak rasanya. Ya, itulah kelebihan rumah makan padang.

Aku waktu itu pesan lauk pakai rendang dan sayur-sayuran khas padang sementara si Baskoro yang udah kelaperan berat pesen mujair goreng. Minumnya kita sama-sama pesen jus mangga. Hmmm,,, kenyang lah..apalagi kita juga sempet nambah nasi… :D Kembali sudah semua semangat yang tadinya sudah menguap karena kepanasan.

Setelah makan, kemudian aku sholat dan melanjutkan perjalanan ke Thamrin. Sampai di Thamrin, aku baru ingat satu hal yang penting yang seharusnya aku tak lupakan. Hari ini hari senin, dan aku lagi puasa…


Jodoh

May 28, 2009

Apa yang akan saya ungkapkan di dalam postingan ini adalah sebuah pandangan pribadi saja.

Gue pribadi percaya, semua orang memiliki jodohnya masing-masing yang sudah ditentukan Yang Maha Kuasa waktu pertama kali nyawa kita ditiupkan. Jadi tak perlulah resah dan tak perlu gundah tidak menemukannya atau direbut orang lain. He / she is dedicated for you… believe it.

Betapapun kita berusaha menjodohkan apabila bukan jodoh maka tak akan bersatu juga. Justru sebaliknya apabila jodoh, betapapun usaha untuk memisahkannya bersatu adalah tetap sebuah keniscayaan.

Orang-orang sering bilang kalau jodoh itu di tangan Tuhan.  Kalau dipikir-pikir bener juga. Dengan dibilang bahwa jodoh di tangan Tuhan, maka tidak ada jalan lain untuk tahu siapa jodoh kita selain mendekatkan diri kepadaNya. Karena kalau nggak deket gimana mau tahu?? So, sudah cukup dekatkah kita dengan Dia? Naah… Kalo sudah dekat dengan Dia, baru bisa deket sama si dia. :D

Orang tua yang bijak tidak akan menghadiahkan sepeda kepada anaknya yang masih berumur 2 tahun, yang jangankan untuk mengendarai sepeda, berjalan saja sulit. Begitu juga dengan Dia yang Maha Bijaksana, Dia tidak akan begitu aja memberitahukan dan mempertemukan kepada kita siapa jodoh kita apabila kita belum siap mengetahuinya. Dia hanya akan mempertemukan saat kita siap. Jadi mari persiapkanlah diri.

Meskipun kita tidak tahu siapa yang ditakdirkan menjadi jodoh kita, satu hal yang pasti adalah dia adalah orang sudah kita kenal. Maka perluaslah pergaulan dan jaga hubungan baik dengan semua orang.


Buku Sejarah

May 11, 2009

Suatu ketika di kelas Sejarah waktu zaman SMA:

Siswa SMA : (memutar-mutar buku sejarah dengan jari)

Guru Sejarah Orang Batak : Hei, jangan kau putar-putar buku itu, nanti pahlawannya pusing.

gambar sekedar ilustrasi


Memandang awan

May 2, 2009

Dulu, sewaktu kecil aku punya kebiasaan yang unik di kala senggang. Unik, bahkan sangat unik sehingga mungkin anak-anak zaman sekarang nggak ada yang punya kebiasaan seperti ini. Kebiasaan itu adalah memandangi awan di langit yang bergerak dihembus angin.

Buat Jono kecil awan itu indah sekali. Putih, bersih, bergumpal, seperti gulali warna putih dengan beraneka bentuk dan rupa. Angan-angan tentang rasanya yang manis membuatku ingin menggapai meraih dan menjilatnya. Sampai-sampai waktu itu aku berangan-angan agar bisa tumbuh tinggi sekali agar mampu meraihnya. Tapi apalah daya, hal itu adalah mustahil belaka.

Maka yang dapat aku lakukan adalah hanya berpura pura meraihnya, memandangi keindahannya dari jauh dan berangan-angan awan itu ada di genggaman. Dengan begitu sudah cukup puas dan senanglah hatiku. Jadi tak perlulah meraih dan menggapainya walaupun hasrat untuk sekedar menyentuhnya tetaplah ada di dada.

Seiring berjalannya waktu, dan semakin bertambah usiaku, aku semakin menyadari bahwa tak perlulah berusaha meraih awan, karena awan itu suatu saat pasti yang akan menghampiri dalam bentuk hujan ataupun salju apabila di negara-negara dengan empat musim. Maka bersabarlah. :D


Di Indonesia, Flu Babi Takkan Seganas Flu Burung

April 28, 2009

Flu Babi, seluruh dunia membicarakannya. Semua media informasi memuat headlinenya. Sepertinya si Flu Babi ini sudah menjadi buah bibir yang sangat manis untuk dibicarakan dimana-mana. Sangat wajar karena hal ini menyangkut hal yang sangat penting yang manusia manapun tidak dapat mencipta atau membeli. Nyawa.

Penyakit yang disebabkan oleh virus H1N1 ini memiliki gejala sebagai berikut:

  1. Demam
  2. Batuk Pilek
  3. Lesu, letih
  4. Nyeri Tenggorokan
  5. Nafas cepat / Sesak Nafas
  6. Mual, Muntah
  7. Diare

sumber: milis Forumtausiah, ditulis oleh lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI

Berdasarkan hipotesa saya, Insya Allah di Indonesia Flu Babi tidak akan sepopuler kakaknya Flu Burung. Hal yang mendasari saya berhipotesa seperti itu adalah kasta binatang jorok yang bernama babi ini bukan sebagai binatang yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia seperti layaknya unggas/ayam. Karena kasta babi yang rendah ini, maka pasti peternakan maupun orang yang memelihara binatang ini sedikit.

Namun begitu, jangan anggap sepele juga penyakit Flu Babi ini karena seperti flu burung, flu babi juga dapat menular melalui udara dan kontak dengan penderita. Mari sama-sama kita waspada dan menjaga kesehatan kita masing-masing.


Jono, ayo bilang “R”

April 26, 2009

Dulu sewaktu TK, saat berusia 5 tahun, saya seperti layaknya anak-anak kecil lainnya, imut, lucu dan ngegemesin (nanti kalau ketemu fotonya saya upload deh ke facebook). Dan satu hal yang bikin saya berbeda dari anak-anak lain adalah saya tidak bisa melafalkan huruf “R”. Tapi akhirnya saya bisa melafalkannya setelah kelas 3 SD. Sebuah perjuangan yang tidak mudah karena selama selama 3 tahun saya berusaha melatih lidah melafalkan “R” dengan menirukan suara motor “ddrrrnnn…. drrrrrnnn… drrrrnn” setiap hari.

Selama masa tidak bisa melafalkan “R” tersebut, ada satu lagi cerita yang tidak akan pernah saya lupakan, yaitu percakapan antara saya dan guru TK saya.

Guru TK: Jono, coba bisa bilang “R”?

Jono kecil imut: Bisa Bu, Tapi di dalam hati. (dengan wajah polos)

Guru TK: (tersenyum)

Dan sampai saat ini saya masih mengagumi jawaban cerdas saya waktu itu. :D